"Bagaimana Golden Ticket nya? Sudah kamu sebar ke penjuru dunia?" Chenle mendengar suara sang kakek yang sedang berbicara dengan seseorang di telepon, mungkin suruhannya.
Ya, tahun ini SMA Zhong Dai membuat Golden Ticket yang hanya bisa diterima oleh siswa berprestasi tinggi, semacam beasiswa. Mengingat harus mengeluarkan uang banyak jika bersekolah disini sedangkan di luar sana banyak anak-anak berprestasi yang tidak mampu. Tak di herankan karena biaya untuk bersekolah di SMA Zhong Dai cukup banyak, karena disini dengan fasilitasnya yang lengkap dapat mendidik muridnya menjadi siswa-siswi berkualitas, membuat mereka menjadi orang sukses nantinya seperti keluarga Zhong. Zhong Xinle ingin memiliki generasi - generasi yang benar-benar pandai, hebat, tegas, disiplin dan tanggung jawab, mendidik para siswa-siswi SMA Zhong Dai agar bisa menjadi seperti dirinya. Seperti nama sekolahnya Zhong Dai yang dalam bahasa Cina memiliki arti generasi Zhong. Setelah lama berbincang ditelpon, Xinle berbalik badan dan baru menyadari bahwa cucunya berdiri dibelakangnya, "Cucu kakek sudah pulang, ya?" Sambut Zhong Xinle dengan senyuman manis.
"Golden ticket itu beneran, kek?"
"Iya, nak. Kakek ingin mendidik orang-orang diseluruh dunia menjadi seperti kakek. Dan kakek butuh generasi yang berkualitas" Nada bicaranya berubah lirih pada saat mengucapkan kata terakhir.
"Jadi maksud kakek, chenle gak berkualitas" Tuding chenle.
"Bukan begitu, nak. Kamu tau kan kamu satu-satunya pewaris keluarga Zhong" Zhong Xinle meyakinkan cucunya, chenle ini memang mudah tersinggung dan keras kepala.
"Loh, kan masih ada Tante, kek" Chenle sengaja menekan kata 'tante', ia ingin membuat kakeknya sadar bahwa Xiera tak pantas dan tak berhak menjadi salah satu keluarga Zhong Karena tak ada hubungan darah setetespun.
"Kakek baru ingin menyakan, ada apalagi kamu dengan bibimu?" Suara Zhong Xinle berubah menjadi dingin.
"Biasanya gimana, kek? Dia sok ngatur, sok berkuasa" Suara Chenle meninggi, telinganya panas mendengarkan pembelaan sang kakek.
"Kenapa, nak? Dia bibimu. Dia yang merawat kamu setelah kedua orang tuamu meninggal"
"Halah, pokoknya Chenle gak suka!"
"Kenapa?"
"Karena dia gak punya hubungan darah setetespun dengan keluarga Zhong. Dia gak berhak dan gak pantes tinggal disini!" Akhirnya, Chenle membentak kepada panutannya. Sang kakek.
"Chenle harusnya kamu berterimakasih dan berbalas budi jasanya!"
"Bukan harusnya dia yang berterima kasih karena sudah dipungut kakek? Bukannya berterimakasih, malah sok ngatur dan sok berkuasa disini"
"Chenle sikapmu!"
"Kenapa? Kakek gak suka? Buang aja chenle, kek. Masih ada wanita itu yang menjadi pewaris keluarga Zhong" Nafas Chenle naik turun menahan emosinya.
"Chenle, cucuku"
Matanya betkaaca-kaca, "Chenle gak mau, kek. Chenle sayang kakek, chenle gak mau pisah sama kakek. Jangan tinggalin chenle seperti mama dan baba, chenle masih butuh kakek disini, dan chenle gak suka dengan wanita itu, kek" Air matanya luruh, ia takut sang kakek meninggalkannya.
"Tidak, kakek tidak akan meninggalkanmu, nak"
"Maafkan sikap chenle yang belum pantas menjadi pewaris keluarga Zhong. Chenle belum siap ditinggal kakek"
"Kenapa kamu terlalu takut, nak? Kakek tidak meninggalkanmu, kakek juga menyayangimu"
"Dengan kakek yang mewariskan semua milik kakek ke Chenle, berarti kakek akan meninggalkan Chenle. Chenle gak mau, kek, Chenle mohon" Chenle menangis tersedu-sedu. Chenle tak sekuat itu, dia masih butuh kakeknya. Dia tak sesangar tampangnya diluar sana, ia terpaksa bersikap jelek agar sang kakek tidak terburu-buru untuk menjadikannya pewaris.
"Ya ampun cucuku, kamu salah besar. Kakek melakukan itu untuk membantumu bersikap dewasa dan juga kamu ini adalah pewaris tunggal keluarga Zhong, hanya kamu satu-satunya pewaris keluarga kita, kalau bukan kamu siapa lagi?kamu ini sama saja dengan ayahmu" Zhong Xinle terkekeh, dulu ayah chenle juga begitu, menganggap dirinya akan meninggalkannya karena mewariskan semua harta yang dimilikinya. "Tidak, kakek tidak akan meninggalkanmu. Percaya itu, nak" Zhong Xinle meyakinkan cucunya ini, ternyata sikap manjanya masih melekat walaupun usianya sudah 17 tahun.
"Tapi kan masih ada wanita itu"
"Sesuai adat keluarga kita, jikalau bukan keturunan asli keluarga Zhong tidak bisa menjadi pewaris"
"Dia sudah tau, kek?" Yang chenle maksud adalah Xiera, bibi tirinya.
"Biarkan dia tahu sendiri nanti" Zhong Xinle tersenyum mendengar pertanyaan cucunya.
"Kenapa gak langsung kasih tau aja, kek? Chenle muak sama sikap sok berkuasanya, huh"
"Chenle hormati bibimu, nak"
Chenle berbalik badan, "chenle gak mau dan gak peduli" Setelah itu ia pergi menuju kamarnya, 'gerah juga membicarakan setan sok berkuasa itu' pikirnya.
Tanpa mereka ketahui, seseorang telah mendengarkan percakapan mereka berdua, Zhong Xiera.
***
"Eh, lele!" Dari kejauhan Xiaojun berteriak memanggil namanya, nama panggilan kesayang maksudnya. Diakan jadi malu, ini disekolah. Masa presiden chenle namanya nggak banget.
"Apaan sih, nyed? Rusuh lu pagi-pagi, yangyang mana?"
"Yeuu elu, gue yang disini malah yangyang yang ditanyain"
"Kalo lu disini berarti gue ga usah repot-repot nanyain lu, emang ada apaan sih? Manggil manggil lele lagi"
Xiaojun menyengir, "ehe, sungkem pak presiden. Itu.. Masalah golden ticket yang kakek Xinle bikin"
"Nape?" Chenle bertanya cuek, pasalnya temannya yang satu ini cerewet sekali, tak seperti yangyang yang santai dan pandai.
"Cailah bocah! Itu beneran gak?" Xiaojun bertanya jengah, sikap tak peduli chenle ini menyebalkan.
"Hooh, nape? Lu mau?"
"Cih bocah! Sorry ye, bapak gue ini pengusaha teknologi sukses di Cina, banyak duit!" Xiaojun mulai menyombongkan diri, memang cuma chenle yang bisa?
"Bocah jan teriak bocah ya! Lagian pasti masih kalah telak sama kakek gue"
"Yangyang tiba-tiba menyahut dari belakang, " Yang presiden chenle mah bebas" Disambung dengan tawanya dan chenle.
"Berarti disekolah kita ini bakal ada rakjel, dong?" Yangyang bertanya santai.
"Tumben banget lu ngehina, yang? Biasanya nge suci lu" Celetuk xiaojun.
"Bukannya gitu, gue cuma mencocokkan omongan gue sama kepribadian kalian, kalo gue ngomongnya gak pake ngehina ntar dihujat lagi sama kalian" Yangyang menjawab ejekan xiaojun dengan ejekan juga.
"Yeuu pak ustad!" Pekik mereka berdua dan menoyor kepala yangyang, mereka semua tertawa heran dengan kelakuan sendiri. Satu fakta baru tentang Chenle, Chenle yang sebenarnya adalah chenle jika berkumpul bersama teman atau keluarganya.
Tiba-tiba tawa mereka berhenti melihat chenle yang menunduk murung. "Napa lu le?" Xiaojun bertanya khawatir.
"Gue sedih, gue takut" Chenle menjawab sok dramatis.
"Ha? Ada masalah sama keluarga lu, Le? Iya?" Yangyang ikut bertanya, khawatir dengan sikap chenle yang tiba-tiba sedih.
"Bukan, tapi sekolah ini?"
Xiaojun dan yangyang terkejut "kenapa sekolah ini digusur?" Xiaojun memekik. Reflek tangan yangyang memukul kepalanya, "yeeuu bocah! Mana ada yang berani?"
"Gue sedih, gue takut, nanti sekolah ini bakal banyak jejak-jejak kotor rakyat jelata" Setelah itu chenle tertawa terbahak- bahak melihat reaksi kedua temannya yang khawatir.
"Au ah, gelap!" Ujar mereka berdua serempak, meninggalkan chenle sendirian yang masih dengan tawa nyaring nya.
Tbc,
Jangan lupa tinggalkan jejak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Presiden Chenle ✔
FanfictionKetika si Holkay bertemu dengan si Rakjel [Disarankan follow sebelum membaca.] Punya jempol? Vote!;) "Lu lu semua, inget ya! seorang Zhong Chenle gak akan ngemis-ngemis apapun itu" teriaknya dengan nada angkuh. "Heh tukang sombong! saya ingetin ya...
