012.

54 10 0
                                        

#Happy Reading

Biasakan follow dulu sebelum membaca.

Hope you like it!

-----

Tidak selamanya takdir akan bekerja sesuai rencana kita.

-PST-

-----

Tik. Tik. Tik.

Hanya suara jam yang berdetik mengisi keheningan perpustakaan, Renata memperhatikan sekitar-sudah lama sekali Ia tidak masuk ke dalam ruangan tertua di sekolah ini. Gadis itu tau sepasang mata Alga terus menatapnya dingin sejak satu jam yang lalu, tanpa henti. 

"Galak, Gue tau Lo merasa terpenjara di sini, Gue juga. Jadi stop permusuhan di antara kita, dan mari bekerja sama," Renata menaikan satu alisnya dengan tangan terulur ke depan, menanti untuk di jabat oleh pemuda itu. Bukannya menjawab, Alga malah mengancamnya.

"Lima menit, gak selesai- gak pulang," Renata menarik kembali ulurannya dengan kasar, matanya tak henti-henti melayangkan tatapan kesal pada pemuda itu.

Alga beranjak menghampiri rak buku, membuat Renata memejamkan matanya-menahan keinginan untuk melempari kepala Alga dengan buku. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, memikirkan cara untuk keluar dari sana. Melalui pintu? Tentu saja tidak bisa, karena Alga sudah menguncinya, membuat mereka terkurung berdua di dalam sana, hanya berdua.

Mengerjakan pun juga percuma, Renata tidak mengerti sama sekali dengan materi itu. Terlalu sering membolos membuatnya hampir tidak mengerti seluruh pembelajaran yang ada, dan hal itulah yang membuatnya harus terjebak bersama di sini, bersama Alga.

"Jendela," sebuah ide muncul di otaknya yang hampir kosong. 

Alga terlihat fokus pada buku yang dibacanya, membuat Renata memanfaatkan keadaan ini sebagai kesempatannya untuk kabur.  Perlahan jendela terbuka dengan suara gesekan yang hampir tidak terdengar, kaki jenjangnya terangkat untuk melangkah keluar.

"Galaksi!" pekiknya spontan saat merasa kerah belakangnya ditarik mundur.

"Lepasin! Galaksi, Gue pukul ya Lo!" Renata tidak main-main dengan peringatannya. Gadis itu memutar tangan Alga.

Ingatkan Renata bahwa Alga memiliki kemampuan bela diri yang berkali-kali lipat jauh lebih baik darinya. Dengan satu gerakan saja sudah berhasil membuat Renata tak berkutik, namun gadis itu tidak menyerah. Ia menarik seragam Alga terlalu kencang, tanpa diduga hal itu malah membuat mereka berdua terjerembab ke lantai. 

Logika gadis itu memberontak, namun sepasang mata biru itu hampir mencuri seluruh kesadarannya. Mata Alga terlalu teduh untuk diabaikan. Mengapa Renata baru menyadari hal itu sekarang? Ia kehilangan pasokan oksigen, apa sekarang Ia mulai terkena sakit jantung? Jika tidak, mengapa pula jantungnya berpacu seperti balap kuda? Sangat cepat.

"Ahh," ringisan kecil itu juga menyadarkan Alga bahwa kini posisi mereka sangat tidak layak untuk dilihat. Alga berada di atas Renata, dengan jarak yang hampir saja membuat tubuh mereka saling bersinggungan. Renata merasakan nyeri kembali menjalar di sekujur lukanya.

"Berdiri!" mau tidak mau Ia menerima uluran tangan Alga.

Benar saja, lukanya terbentur lantai di saat belum kering sempurna. Renata memejamkan matanya untuk menahan perih, Ia tidak bisa membiarkan pemuda itu melihatnya kesakitan. Lebih tepatnya Renata terlalu gengsi. Alga berjalan meninggalkannya setelah Renata kembali duduk di kursi. 

Penghujung Senja TerakhirTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang