014.

35 9 1
                                        

#Happy Reading

Biasakan follow dulu sebelum membaca.

Hope you like it!

-----

Setiap manusia memiliki kesempatan, bahkan untuk mereka yang berdosa.

-PST-

-----

Sisi-sisi lapangan tampak ramai diisi oleh kebanyakan murid perempuan, tentu saja mereka tengah melihat seorang Alga bermain basket bersama rombongannya. Tidak dapat diragukan lincahnya Dia, bahkan berkali-kali memasukkan bola ke dalam ring.

Ah kak Alga ganteng banget!!

Kak Dala ayooo semangattt!!

Rega ya ampun sini aku lap keringat nya.

Demi apa pun Agam aku pada mu rawrr.

Sorak-sorak histeris dari para siswi itu memenuhi lapangan, lagi pula siapa yang bisa menolak pesona keempat orang di tengah lapangan itu? Selain Renata maksudnya. Berbeda dengan Alga, Mandala, dan juga Rega yang terlihat bodo amat, Agam seolah menikmati spot light yang ada pada dirinya.

"Aku pada mu juga. Muah," dalam balutan kaos oblong penuh keringat, Agam membalas sorakan fans nya itu seraya memberikan kiss bye.

Renata yang melintas, seketika berhenti, ikut menonton dari kejauhan. Yang mencuri perhatiannya adalah bagaimana seorang gadis berambut pendek bernama Bella itu tampak begitu bersemangat meneriaki nama Alga.

"Ck, udah tau gak ada kesempatan, masih aja diperjuangkan," ucapnya seraya geleng-geleng kepala, sedangkan kedua tangannya tersilang di depan dada.

"Kesempatan selalu ada selama kita mau berjuang," Renata menoleh, Ia tidak sadar jika sedari tadi Ares berdiri di sampingnya.

"Bullshit." Jawabnya sinis.

"Lo hari ini bimbingan sama Alga?" sontak gadis itu menatap Ares intens.

"Tau dari mana Lo?"

"Satu sekolah juga udah pada tau kali, Re," apa? Satu sekolah? Pantas saja banyak yang melempar pandangan tidak suka saat Ia berjalan masuk dari gerbang. Apa para gadis itu sungguh menganggap Renata adalah ancaman?

"Padahal belum tentu Gue suka sama Galak," ucapan spontan Renata entah mengapa membuat Ares tersenyum kecil, kemudian memasukkan kedua tangan ke saku celananya.

"Lo akan."

"Sekali aja Lo deket sama Alga, Lo akan sulit untuk melepas," Renata mengalihkan perhatiannya pada pemuda di lapangan basket, yang ternyata juga tengah melihat ke arahnya.

"Kalo gitu-Gue yang akan buat Dia ngelepas," satu sudut bibirnya terangkat, membuat seringaian kecil yang sulit untuk diartikan.

Ares memperhatikan punggung Renata yang perlahan menghilang di kejauhan. Renata belum tau saja sikap Alga jika sudah mencintai seseorang, Ia tidak akan mudah melepaskan apa yang sudah menjadi miliknya. Alga akan menjaganya dengan baik, tidak akan membiarkan siapa pun merebut kepunyaannya.

Tapi jika sudah menyangkut tentang penghiatan, maka pemuda dingin itu akan melepas tangan. Ia tidak akan mengambil kembali apa yang sudah Ia buang. Ares sangat mengenal sifat Alga yang satu itu.

"Ngeliatin apa Lo?" Rega memperhatikan arah pandang Alga yang ternyata mengarah pada dua orang di koridor kelas.

"Seharusnya Renata gak jatuh secepat itu," entah apa yang salah, namun kalimat Rega tanpa aba-aba membuat Alga keluar dari lapangan, meninggalkan permainan mereka.

Penghujung Senja TerakhirCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang