#Happy Reading
Biasakan follow dulu sebelum membaca.
Hope you like it!
-----
Penyesalan tidak akan merubah apa pun yang sudah terjadi di masa lalu.
-PST-
-----
Renata mengusap tangan Alga dengan handuk basah, pemuda itu hanya diam-tidak mengatakan sepatah kata pun sedikit pun, membuat Renata meringis pelan. Matanya melirik selembar foto yang digenggam Alga sekilas. Membawa perlengkapan obat dari UKS ke rooftop cukup memakan energi, namun harus tetap Ia lakukan untuk mengobati dan mendengarkan cerita dari si mantan ketua osis itu.
"Lo gak bisa main pukul kayak tadi, Lo belum punya bukti," ucap Renata jujur, kemudian Ia mengompres tangan Alga menggunakan es batu.
"Lo bahkan gak kasih Ares kesempatan untuk ngebuktiin kalo Dia gak bersalah." Jika saja Renata laki-laki pasti Alga sudah mengajaknya duel sekarang.
"Gak perlu bukti, Gue tau itu pasti ulah Dia." Balasnya angkuh
"Lo bukan Tuhan yang tau segalanya."
"Cih. Di kasih apa Lo sama Dia sampe percaya segitunya?" Renata mendengus, otak pemuda itu memang selalu dipenuhi dengan pikiran buruk.
"Gue gak bilang kalo Gue percaya Ares, tapi Gue gak berpihak sama siapa pun," Alga menatap potret Anastasya yang kini tercoreng oleh noda merah, menutupi indahnya senyuman cantik itu.
"Dikasih duit Lo sama Dia? Atau jangan-jangan Lo udah ngasih badan Lo-" belum sempat Alga melanjutkan kalimatnya, dapat Ia rasakan panas yang menjalar di permukaan pipinya.
Plak!
"Gue bukan cewek murahan ya bangsat!" Gatis itu menatap nyalang, namun jauh di dalam netra coklat terang itu dapat Alga lihat ada luka di sana.
Shit! Alga mengumpat dalam hati, rasa bersalah menjalar di hatinya. Tak seharusnya kalimat itu keluar dari bibirnya.
Jangankan menatap, menoleh pada pemuda di sampingnya pun Renata enggan. Ia membereskan kotak obat yang tadi sempat dia pinjam dari UKS, membawa benda persegi itu dalam tentangannya, kemudian berlalu meninggalkan Alga yang masih mematung duduk di sofa.
"Lo gak boleh dekat dengan Ares!"
☀☀☀
Sekolah perlahan menjadi sepi, hanya tersisa beberapa siswa yang mengikuti eskul saja. Ares menghampiri seseorang di taman belakang. Gadis itu menunggu seraya mengayunkan kakinya.
"Re," gadis yang merasa terpanggil pun menepuk sisi bangku yang kosong, meminta Ares untuk duduk.
"Ceritain kejadian tadi."
"Maksudnya?" Renata memutar bola mata malas, Ares ini pura-pura bodoh atau memang bodoh?
"Ceritain kenapa Lo sama Galaksi bisa berantem kayak tadi," Ares menghela napas berat.
"Alga nemuin foto nyokapnya udah rusak di depan loker, Dia kira Gue yang sengaja ngelakuin itu. Tapi Sumpah Re-demi apa pun, Gue gak pernah benci sama nyokap Alga," Renata menelisik, mencari jika ada kebohongan dari sorot mata Ares. Tapi nihil, tidak ditemukannya setitik kebohongan pun mengendap di sana.
"Lo percaya kan Re?" Renata bingung. Ia tidak bisa mempercayai siapa pun tanpa bukti jelas.
"Gue gak tau, tapi Gue harap Lo bisa nemuin bukti Res," Ares menghela napas untuk kesekian kalinya, apa begitu sulit membuat Alga mempercayainya?
"Salah Gue Re, seharusnya Gue gak merusak kepercayaan Alga saat itu," melihat dahi gadis di sampingnya berkerut membuat Ares menebak, pasti Alga tidak menceritakan potongan masa lalu mereka pada Renata.
"Gue dulu bagian dari rombongan Alga, bagian dari Space. Tapi dengan bodohnya Gue malah menghianati Alga dengan ngerebut pacarnya," cerita Ares seolah menjawab pertanyaan yang ada di kepala gadis itu.
Apa itu yang membuat Alga tampak sensi dengan perempuan? Apa karena penghianatan di masa lalu yang dibuat oleh mantannya dan Ares?
"Arabella," Arabella Fernando, gadis itu adalah mantan Alga. Perempuan yang dulu sangat Ia sayangi selain Anastasya dan Ara, gadis dari masa lalunya-sekaligus cinta pertamanya. Tapi Arabella sudah menentukan jalannya sendiri dengan berhianat bersama Ares di belakang Alga. Entah mengapa sesuatu seolah menghentak hati Renata keras, membuatnya merasa tidak nyaman.
"Dan yang Gue sesali adalah-Nyokap Gue ngelakuin hal yang sama, gak lama setelah nikah sama bokap Alga-nyokap Gue meninggal karena kanker payudara," Renata mendengarkan dengan baik, tidak menyela sedikit pun.
"Alga benci banget sama Gue sampai detik ini Re, andai saat itu-" Ares terdiam saat Renata memotong kalimatnya, meninggalkan kata penyesalan pada ujung lidahnya.
"Penyesalan gak akan merubah apa pun, Res," Renata membuang pandangan ke arah pohon rindang di depan mereka.
"Semuanya udah di masa lalu, dan kita udah gak hidup di masa itu. Yang bisa Lo lakuin sekarang adalah jangan biarin masa lalu itu terulang di masa kini," Ares menunduk, gadis di sampingnya ini benar. Yang harus Ia lakukan sekarang hanyalah mencari bukti agar Alga percaya padanya.
Sudah sangat jelas bahwa ada orang yang sengaja mengadu domba antara Alga dan Ares, dengan memanfaatkan kesalahan Ares yang tidak bisa termaafkan oleh Alga dan orang itu pasti berada di sekitar mereka sekarang. Mungkin tengah mengawasi dalam diam.
"Gue bisa bantu Lo."
☀☀☀
"Gimana? Lo sudah lakuin sesuai perintah?" tanya seseorang dari seberang sana.
"Udah, tapi ada ancaman. Renata, Dia mau bantuin Ares untuk mencari bukti-bukti kebenaran yang sebenarnya," pemuda itu bersembunyi di balik tembok, kini Ia sedang mengamati dua orang yang duduk di bangku taman. Dari apa yang Ia kenakan, sepertinya Dia adalah salah satu murid di Garuda Sakti High School.
"Beresin, jangan biarin Dia ngehancurin Rencana Gue!"
Panggilan terputus, mendapati Renata beranjak dari tempatnya membuat pemuda itu juga bergerak. Seperti apa yang diperintahkan, Ia harus menyingkirkan Renata. Gadis itu bisa merusak rencana yang kian berjalan matang.
"Dari mana Lo?" suara itu menghentikan langkahnya. Mandala berjalan mendekati Renata. Ia tidak bisa melanjutkan aksinya jika ada Mandala bersama gadis itu.
"Taman belakang," dengan terpaksa Ia harus bersembunyi lagi di balik tembok.
"Pulang sama Gue," melihat Renata menyetujui ajakan sepupunya itu membuatnya tidak ada kesempatan. Mungkin hari ini tidak, tapi esok masih ada. Ia akan pikirkan bagaimana cara menyingkirkan Renata besok.
Jangan lupa vote+comment+share ya!!!
With Love,
