16. Si Pemangsa.

603 53 22
                                        

💠💠💠💠

1 minggu kemudian

Selama satu minggu berlangsung, Jeta hanya berurusan dengan perpustakan sekolah.

Bahkan Jeta tidak pernah sekalipun menginjakkan kakinya ke kantin lagi, membawa bekal adalah pilihan teraman.

Kini Jeta tengah duduk membaca buku Kimia dengan berbagai unsur di dalamnya, Jeta mendengus geli.

"Seorang Elysia Marjeta Nadine belajar hanya demi seorang Jorell Laurel Kenzie?" ejek Jeta pada dirinya sendiri

"Apa mau lo sebenarnya," dengus Jeta lagi

Jeta terus membaca bukunya, minggu depan ujian semester akan segera berlangsung. Begitupun dengan permainan Jeta.

"Kenapa remaja harus belajar?" gumam Jeta seraya memainkan bulpennya

Ting nong

Bunyi bel sekolah terdengar, jam pelajaran segera di mulai. Jeta membersihkan buku-bukunya, memasukkan alat tulis ke dalam kotak pensil.

Ia bangkit, mengisi nama di buku perpustakan dan berjalan santai keluar dari perpus.

Jeta menyumbat telinganya dengan earphone, ia tak memedulikan tatapan mata orang-orang disekitarnya.

Koridor mulai sedikit sepi, tidak banyak siswa yang berkeliaran karena waktu pembelajaran segera dimulai bahkan sebagian kelas sudah dimulai.

Jeta melewati lapangan basket, suara kegaduhan terdengar. Jeta melirik sekilas, ia melihat rompi yang siswa siswi itu kenakan. Ia berhenti dan mengamati.

"PMR sejak kapan tempatnya di lapangan?" cibir Jeta

"Bukan hari senin, berdiri di lapangan? Pftt lawakan," ejek Jeta lalu kembali melanjutkan langkahnya

Hap

Tiba-tiba ada yang melompat di depan Jeta, Jeta mendongak dan menatap orang itu.

Mata Jeta membulat sempurna, belum sempat Jeta membuka mulut. Orang itu sudah membungkukkan badannya, mendekatkan wajahnya ke wajah Jeta.

Plug

Ia mencabut earphone Jeta, "oi," ujarnya

Jeta masih diam dengan pandangan heran dan kaget, "ketemu lagi Jeta," sambungnya

"Lo?" kaget Jeta

Orang di depannya tersenyum, menunjukkan eyesmilenya. Jeta menelisik orang itu dari atas sampai bawah.

Tas ransel biru dongker menghiasi punggungnya, "perut lo udah baikkan?" tanya Jeta

"Hem, makasih loh buat ancaman lo" balas orang itu

Jeta mendengus malas, orang itu membuka ranselnya.

"Thanks" ujar orang itu seraya menyodorkan seragam Cahaya Mentari milik Jeta

"Sorry, gue udah gak butuh," sahut Jeta seraya menepuk nepuk bahu orang di hadapannya

Mata Jeta melirik name tag orang itu, "salam kenal pemangsa, lo utang satu nyawa sama gue" ujar Jeta dengan satu kedipan mata

Jeta berjalan dan orang di belakangnya itu menampilkan smrik andalannya.

"Ketua," panggil seorang cowok yang menghampiri orang itu

"Oh, udah lama yah Dra." sahut orang yang menahan Jeta tadi

Dino Erlangga, cowok yang Jeta tolong saat tawuran. Dia adalah cowok yang pernah kehabisan darah karena luka tusuk di perutnya.

"Pftt, jadi dia seorang pemangsa yang merangkap sebagai ketua PMR? Wow, pemimpin permainan apa yang dimainkan oleh kalian?" ejek Jeta seraya menggunakan kembali earphonenya

Hai gaysss wkwkkwkw

Welcome back :v
Ternyata up gak sesuai info wkwkwkw

Yah gimana yah gitu😋

Jangan lupa review gengs!

Bye~

Salam si amatiran

GVJS❤️

Dih-, (COMPLETED✔)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang