Matamu begitu sayu
Bibirmu begitu kaku
Glagatmu nampak canggung
Tapi, aku masih mengenalimu yang begitu
Tatapan matamu tampak nanar
Tanganmu meraung kerinduan
Suaramu samar, tampak ada yang ingin kau ucapkan
Namun, lidahmu keluh seketika itu
Ku masih melukis senyum dan tawa
Bahagiaku selalu indah setelah luka
Mataku semakin berbinar cahaya
Kebahagiaan sedang suka bersamaku
Namun, tatap sesalmu itu tlah terlambat
Namum, hatiku selalu merendah
Namun untuk kembali?
Tempatmu tlah tiada
Aku semakin menyukai duniaku
Tawaku bersama teman-temanku
Langkahku yang sulit
Ku paksa hingga terbiasa
Sehingga, tatapan rindumu itu
Aku sudah tak lagi mendambakannya
Terimakasih atas rindu itu, tapi
Maaf, aku bukan tempatmu lagi tuk kembali pulang
Seusai kau luka,
KAMU SEDANG MEMBACA
Titik Nol
Poetryini menceritakan tentang sekumpulan puisi atau antalogi puisi. Dari perjalanan cerita saya selama bertahun-tahun. Sebuah kumpulan kata yang terangkai sederhana ketika rasa dan asa sedang di titik jenuhnya.
