Pernikahan baru beberapa hari. Nicole melempar tas dan buku-buku di tangannya sepulang kuliah. Cuaca sedang cerah dan tidak terlihat gumpalan mendung barang secuil di langit sore tetapi suasana hati nicole terlihat begitu buruknya. Betapa tubuh mungilnya telah meringkuk sembari bersandar di pinggiran ranjang dengan kemarahan yang tertahan.
Sedari pagi nicole telah belajar dengan giat hingga siang hari. Juga Sebuah kepentingan presentasi telah membawanya ke daerah Westminster dan harus kembali dengan kereta api ke pusat london pada sore hari dengan hati yang remuk dan tak ingin dilahirkan.
"Brengsek, bajingan sialan itu berpura-pura! " Teriaknya disela-sela gemeretak gigi-giginya.
Nicole merasakan nyeri di kepalanya, terlebih lagi di hatinya. Wanita mungil ini segera membuka laci dan menelan beberapa obat tidur tanpa bantuan setetespun air. Tak lebih dari setengah jam kemudian, kebenciannya telah tak begitu menyakitkan hati dan kepalanya.
Dering ponsel yang tiada henti tak mengusik wanita yang sedang patah hati dan tertidur pulasnya sejak sore hingga tengah malam ini. Nicole membuka mata dengan lelah, bangkit dengan hampa lalu pergi mencuci wajah dan menggosok giginya. Dengan hati yang masih remuk nicole menatap wajahnya di cermin.
"Seberapa banyak aku bisa menirukannya, pecundang itu! " Pikirnya lalu menuju kamar tidurnya.
"Kau bangun, cukup lelah?" Tanya david sembari membaca buku.
"Ya" Jawab nicole malas lalu kembali berbaring membelakangi david.
"Nic, sebenarnya aku-" David menyentuh lengan nicole lembut. "Cobalah menghadap kemari, kita bukan musuh"
"Kau tidak memiliki hak untuk itu, dave. Kau ingat? Kita tidak akan melakukannya" Ucap nicole ketus.
"Kenapa aku tidak memiliki hak? Aku menikahimu dengan sah" Jawab david tenang.
"Aku tidak mau, kenapa? Kau mau memaksaku?"
"Tentu saja aku bisa memaksamu, tapi aku menginginkannya dengan cara yang baik"
"Kau menginginkanya? Kenapa kau tidak menyewa seseorang? Itu lebih adil untukku. Jangan jadikan aku pemuasmu yang lain"
"Itukah yang kau pikirkan?"
"Kau bisa melakukannya dengan orang tidak kau cintai, tapi aku tidak bisa" Ucap nicole sengit.
David meletakkan bukunya, mendekati nicole, memegang kuat kedua tangan mungil itu dan menindihnya.
"Dave! "
"Kau akan melaporkanku? Aku berhak untuk ini, buat kesepakatan untuk kebutuhanku ini atau kau akan habis denganku tanpa batasan?! "
"Kau mengancamku? Itu yang kau lakukan padaku?"
"Cepatlah, atau aku akan memaksamu dengan buas"
"Oke- oke. Kita buat kesepakatan" Ucap nicole dengan tubuh gemetar.
1 bulan kemudian.
Author
David terlihat pucat dengan air mata yang nampaknya sudah habis terkuras. Pada akhirnya ayah yang sangat dia cintai meninggalkannya dengan cepat. David menenangkan ibundanya yang menangis tersedu-sedu dengan tegar. Nicolepun berusaha menenangkan mertuanya dengan tulus.
"Sayang, jangan tinggalkan aku seperti ini? Kau tidak ingin mengajakku? Aku ingin menemanimu" Ucap Mrs Raines dengan isak tangis tertahan yang menyayat hati. "Kita belum menimang cucu, kau bilang kau akan bertahan hingga kita menimang cucu." Ucap mrs raines lagi.
Seketika tubuh nicole gemetar dan pandangannya berubah kosong.
"Tidak, Mr Raines telah meninggal, aku harus meminta perpisahan dengan david secepatnya. Kurasa dia akan menyetujuinya. Dia tidak terlalu keras hati" Pikir nicole dengan wajah yang memucat dan keringat dingin yang bercucuran.
"Kita harus menemani mama, beberapa hari disini." Ucap david kepada nicole setelah mengantar ibundanya beristirahat.
"Dave, aku tau ini terlalu cepat tapi- bagaimana jika kita bercerai saja" David terbelalak karena ucapan tidak berempati istrinya yang terlalu cepat.
"Apa kau bilang? Apakah selama ini kau mendoakan papa untuk meninggal lebih cepat? "
"Bukan begitu, dave."
"Kau memang keras hati tapi pikirkanlah ucapanmu baik-baik!"
"Tapi, dave. Bukankah kita menikah juga karena-"
"Kau tidak perlu mengingatkanku untuk itu, kita tidak akan bercerai!"
"Dave! "
"Apa? Dave apa?!! Kau tau aku baru kehilangan ayahku dan kau bersikap seperti ini! "
"Ceraikan aku! "
"Tidak" Ucap david dengan senyum menantang sekaligus emosi yang tertahan. "Lakukan usaha terbaikmu, kita berjuang meraih keinginan masing-masing"
"Aku sudah memintanya baik-baik, kuharap kau bersiap-siap" Ucap nicole sengit.
