[4 Juni 2007]
Lagi-lagi Mave berhasil mengajak Kara jalan, dan lagi-lagi Kara tak mampu menolaknya.
Sore itu mereka janjian di sekitar taman Sangkareang. Taman ini berada di jalan Pejanggik. Areanya hijau dengan beberapa kembang di sudut taman. Lokasinya hanya beberapa menit dari hotel. Suasana saat ini ramai pengunjung, dominan anak-anak dan pelajar.
Mave membeli dua cokelat. Dia memberikan satu pada Kara.
"Kamu udah minta izin ke Erick?" tanya Mave.
"Dia gak tahu kalo aku nemuin kamu," jelas Kara. "Aku gak bilang ke dia."
"O," Mave mengetuk bibir dengan ujung jari. "Bagaimana kemarin di Bukit Merese?"
"Setelah kamu pulang malam itu?"
"Ya."
"Istirahat. Besoknya kita diberi jam bebas, setelah itu balik." Kara lalu ingat situasi setelah pentas ketika dia melihat Mave. "Malam itu kamu mau nemuin aku?"
"Setelah pentas itu?"
Kara mengangguk.
"Sebenarnya hanya pengin ngucapin selamat." Mave mengigit cokelat.
"Kenapa gak nyamperin?"
"Ada Erick. Aku gak mau ganggu kalian," Mave jeda. "Aku paham saat momen kek gitu, Erick pasti pengin dekat kamu. Ngobrol berdua aja, ngucapin selamat, muji-muji kamu."
Kara diam sebentar.
Mereka kemudian memutuskan duduk di salah satu sudut taman. Mave lalu bercerita soal pekerjaannya akhir-akhir ini yang lumayan memperoleh pemasukan, termasuk kemarin saat menjadi instruktur.
"Alhamdulilah aku bisa kirim lumayan ke nyokap," tutur Mave.
"Kamu gak capek?"
Mave menghela napas. "Gak ada kata capek, kalo hasilnya bisa kasi ortu."
Kara tersenyum. Mave benar-benar kerja keras. "Hari ini kamu free kan di hotel?"
"Iya, tapi rencananya mo ngamen di mataram mall, ada pameran di halaman parkirnya."
"Jam berapa?"
Tiba-tiba... drrrrrt... drrrt.... ponsel Mave bergetar. Cowok itu mengeluarkan ponsel. "Bokap nih," kata Mave pada Kara, lalu sedikit menjauh ke belakang. Cowok itu terlibat pembicaraan panjang.
Kara menunggu.
Setelah tujuh menit Mave kembali, lalu sejajar lagi dengan Kara.
"Hubungan dengan bokapmu sepertinya makin baik."
"Aku berharap begitu." Mave menyimpan ponselnya. "Makin ke sini bokap lebih bisa nahan emosi. Tadi katanya bokap lagi ke Jakarta, nemuin mantan rekan kerjanya."
"O."
"O iya, dikit lagi aku mo ngamen. Mesti cepet-cepat balik nih," omong Mave agak buru-buru. "Gimana, mau aku anter ke hotel?"
Kara berpikir sebentar. "Gomong deket gak dari sini?"
"Gak terlalu jauh sih."
"Ya udah aku ikut kamu aja. Sekalian bantu ngamen."
"Serius?
"Emang tampangku keliatan boong?"
"Baiklah," Mave menggerakkan pundaknya ke atas. "Kita ke kosan aku sekarang. Ngambil gitar."
Mereka menumpangi ojek ke daerah Gomong—tempat kosan Mave. Di kosan, Mave jadi bahan godaan kawan-kawannya karena berhasil membawa salah satu peserta karantina yang sering mereka lihat di ruang makan hotel. "Cie-cie dapat nie," ledek salah satu kawan. Teman yang lainnya menimpali, "Kelamaan sendiri tuh."
KAMU SEDANG MEMBACA
Maverick [Completed]
Teen FictionCerita pertama #seriremaja *** "Jika liburan ini aku tak kembali, jangan pernah ingat aku lagi" bisik Mave pada Kara. Kara tak peduli, cewek itu tetap memeluk Mave. Erat dan tak ingin lepas. *** Karena di setiap cinta harus ada yang melukai dan terl...
![Maverick [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/161690622-64-k439570.jpg)