Catatan 20

304 15 19
                                        

[07 Oktober 2007]

Ever Hospital, jalan Perjuangan Timur kav 7, pesan masuk ke ponsel Kara.

Betapa pun menghindari Erick, namun berita kecelakaan merusak malam Kara. Cewek itu tak betah di ranjang, sesekali rebahan, sesekali bangun, sesekali berdiri menghadap jendela. Hingga pagi tadi berita kecelakaan Erick masih membuntuti. Akhirnya Kara menyerah, cewek itu meraih ponsel menanyakan lokasi Erick dirawat.

Satu menit menunggu, Freya belum membalas. 30 menit, belum juga. 1 jam belum juga.

Sampai kemudian Mave ke rumah, dan menghadirkan suasana hangat, sebelum pesan Freya mampir.

"Kenapa?" tanya Mave sewaktu Kara menyimpan ponselnya.

"Pesan dari Freya," jawab Kara.

Tentu Mave ingat Freya, Sang Putri Sekolah.

"Erick masuk rumah sakit, kecelakaan," tutur Kara.

Mave kaget. "Kapan?"

"5 hari lalu. Ini Freya sms alamat rumah sakitnya."

"Kamu mau ke sana?"

Kara mengangguk.

"Ya udah aku anter."

Kara tak menyangka dengan omongan Mave barusan. Cewek itu sempat gugu. Terakhir dua orang ini terlibat dalam perkelahian di balkon hotel. Kara ingat bogem-bogem mentah Erick yang menghantam lawan bicaranya ini. Harusnya mustahil Mave bersimpati, Erick saja masih menyimpan dendam.

"Sekalian aku juga pengin jenguk."

Dan siang itu Mave dan Kara pergi ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan keduanya tak banyak mengobrol. Kondisi Erick terus membayangi Kara.

Kara sempat enggan sewaktu berada di pintu kamar. Sudah lama dia tak bertemu orangtua Erick sejak Bunda masuk rumah sakit waktu itu. Akan banyak pertanyaan nanti jika keluarga Erick mengobrol dengannya, apalagi dia tidak memberi tahu Freya kalau siang ini datang ke rumah sakit.

"Diketuk aja," saran Mave.

Kara mengepal tangan, lalu mengetuk.

Seorang pria berumur 50 tahunan melebarkan pintu. Ada anak kecil berada di samping beliau. Kara mengenalnya itu Om Surya dan Aldi—yang waktu itu terserang tifus.

"Siang, Om," sapa Kara. Dari celah pintu yang terbuka dia bisa melihat Tante Mita yang duduk di kursi samping ranjang.

"Kara, lama gak ketemu," ekspresi Om Surya seperti menyambut keluarga jauh. "Masuklah."

Tante Mita menoleh. Beliau melihat Kara dan satu orang asing.

"Mari mari," sebut Tante Mita. Mata beliau sembap.

Kara langsung mendekati ranjang. Di dapat melihat Erick dengan jelas. Cowok itu terbujur kaku, dengan mata menutup. Selang infus sangkut di hidungnya. Dagunya dibalut perban dan lehernya diberi penyangga.

Sementara itu Mave memilih bertahan di belakang, sejajar Om Surya.

"Sampai sekarang Erick belum sadar," ucap Tante Mita dengan suara bergetar. "Kata dokter hanya beberapa hari, tapi ini udah hampir seminggu." Bulir kristal jatuh di ujung kelopak mata Tante Mita.

Kara mengelus lengan Tante Mita. Dia ikut berkaca-kaca. "Percayalah segalanya akan baik."

"Rasanya Tante uda bosan dengan harapan."

"Gak ada yang gak mungkin, Tan."

Tante Mita kembali stabil setelah Kara menenangkan. Kara paham seorang ibu akan sedih luar biasa mendapati anaknya terbaring di rumah sakit, apalagi dengan waktu yang lama. Dulu sewaktu Bunda masuk rumah sakit, Kara luar biasa sedih, dan Ericklah jadi penyemangat kala itu.

Maverick [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang