Bab 15 : Boneka Berdarah di Balik Jendela

653 82 5
                                        

Setiap manusia pasti memiliki rasa takut. Itu hal yang wajar, bukan?

─── ・ 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ───

    “Suaranya dari samping rumah. Aku cek dulu ke sana.” Beryl mulai berjalan mengendap-endap mendekati jendela yang sudah tertutup rapat oleh gorden.

    “Jangan putusin teleponnya,” instruksi Aruna dari seberang sana.

    “Aku sama telepon gak ada hubungan kok, Kak. Mana bisa aku putusin,” sahut Beryl setengah berbisik, mencoba menutupi kegugupannya dengan candaan garing.

    Sekilas terdengar suara decakan dari ujung telepon. “Hati-hati,” ulang Aruna lebih tegas.

    Beryl menatap ponsel dalam genggamannya dan mengangguk mantap, meskipun ia tahu Aruna tidak akan bisa melihatnya. Dengan tangan gemetar, ia membuka sedikit celah pada gorden dan mengintip suasana di luar yang sudah gelap gulita. Hanya tampak bayangan tanaman-tanaman kesayangan Mamanya yang melambai ditiup angin.

    “Gak ada siapa-siapa, Kak.”

    Tunggu… sepertinya Beryl menangkap sesuatu.

    Beryl segera menutup gorden dengan gerakan menyentak dan jatuh terduduk di lantai. Napasnya memburu. Kali ini, Beryl benar-benar takut. Apa pun yang ada di luar sana, ia sadar bahwa ia sedang dalam bahaya besar. Malam ini, ancaman si penguntit bukan lagi sekadar main-main.

    “Kak... ” lirih Beryl dengan suara parau yang tertahan. “Dia kasih clue lagi.”

    Satu hal yang Aruna yakini di saat itu: gadis di teleponnya sedang menangis dalam diam.

─── ・ 。゚☆: .☽ . :☆゚. ───

    Di tepi sebuah kolam ikan, tampak seorang gadis dengan kerudung instan hitam terdiam menatap ke bawah. Pandangannya kosong, mengawasi puluhan ikan mas yang berenang ke sana kemari.

    “Beryl?”

    Beryl menoleh, tersentak dari lamunannya. Ia menatap wanita cantik yang kini duduk di sebelahnya. “Tante?”

    Luna tersenyum menatap kolam di hadapan mereka. “Ikannya kenapa? Ganteng, ya? Sampai dilihatin terus kayak gitu. Kan masih gantengan anak-anak Tante loh, Ber.”

    Luna terkekeh pelan, membuat Beryl akhirnya ikut menyunggingkan senyum. Seratus buat Tante Luna! batin Beryl.

    Diam-diam Luna merasa lega; gadis yang sejak pagi tadi murung akhirnya mau tertawa kembali. Sejak insiden mencekam tadi malam, Luna berinisiatif mengajak Beryl menginap di rumahnya. Ia sama sekali tidak keberatan; justru ia senang karena merasa akhirnya memiliki seorang anak perempuan.

    Tadi pagi Luna menjemput Beryl yang ternyata sedang demam. Setelah berbagai pertimbangan, Beryl akhirnya setuju untuk mengungsi sementara waktu, meskipun ia belum tahu sampai kapan ia akan menetap di bawah satu atap yang sama dengan Aruna dan Haydar.

    “Mau tau sesuatu?” tanya Luna. Beryl mengangguk antusias.

    Luna tersenyum mengenang masa lalu. “Dulu waktu Aruna dan Haydar masih kecil, mereka pernah berantem hebat di tepi kolam ini. Kamu tau gimana kelanjutannya?”

    Beryl menggeleng penasaran.

    “Mereka sama-sama kecebur ke kolam ini!” ujar Luna dengan tawa geli. “Bukannya berhenti, mereka malah lanjut berantem di dalam air. Bahkan beberapa ikan ada yang mati karena didudukin mereka berdua.”

    Tawa Beryl pecah seketika. Ia membayangkan Aruna versi kecil yang mungkin tetap berekspresi datar meski seluruh tubuhnya basah kuyup. Pasti sangat menggemaskan, tidak jauh berbeda dengan wajah tampannya sekarang. Kalau Haydar… Beryl yakin cowok itu pasti menangis kencang hingga membuat siapa pun yang melihatnya malah ingin tertawa.

    “Tante mau bikin kue, kamu mau ikut bantu?” tawar Luna setelah tawa mereka mereda.

    Beryl mengangguk semangat. Entah kenapa, ia merasa sangat nyaman dan percaya pada Luna, seolah wanita itu adalah tantenya sendiri.

    Sementara itu, di sebuah ruangan penuh lukisan yang tak jauh dari kolam, dua laki-laki duduk berhadapan dalam keheningan yang tegang. Di depan mereka, berserakan kertas-kertas teka-teki warna-warni milik Beryl.

    Haydar melipat lengan di depan dada, menatap kakaknya heran. “Bang, sebenernya apa alasan lo melibatkan diri di teka-teki ini?”

    Aruna tidak langsung menjawab. Ia balik menatap adiknya dengan tenang. “Lo sendiri? Apa alasan lo?”

    Haydar berdecak. “Orang nanya kok malah balik nanya,” cibirnya yang hanya dibalas senyum miring oleh Aruna. Dahinya mengerut lagi. “Apa motif pengirim itu kasih boneka berdarah ke Kawat Gigi tadi malem? Bukannya sebelumnya dia selalu kasih clue dengan cara yang ‘damai’?”

    Aruna tetap bungkam, matanya terpaku pada deretan petunjuk di atas meja. Haydar mengacak rambutnya frustrasi. “Pusing gue, Bang!”

    Kesal karena tidak mendapat jawaban, Haydar beranjak menuju kamarnya. Baru saja ia merebahkan diri di kasur, ponsel di saku celananya bergetar. Ia mengernyit menatap nama yang tertera di layar. Segera diangkatnya panggilan itu. Suara di seberang sana mulai berbicara, dan sedetik kemudian, Haydar terduduk tegak dengan wajah syok.

    “Apa!?”

    Kembali ke ruangan penuh lukisan, Aruna juga tampak sedang menempelkan ponsel di telinganya. Ia sedang mendengarkan laporan dari seseorang di ujung telepon. Setelah beberapa saat, Aruna menyunggingkan senyum samar yang sulit diartikan.

    “Bagus,” ucapnya singkat.

— Celandine —
tbc

Celandine ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang