Bab 3 : Harga Sebuah Keluarga

1.1K 116 7
                                        

Membenci sesuatu yang pernah menyusahkan kita memanglah hal menyenangkan.

─── ・ 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ───

    Beryl mengamati Amara dan Kuker dengan tatapan intens. Pikirannya berkecamuk. Dua sticky notes yang ia terima entah mengapa selalu muncul saat ia sedang bersama mereka berdua. Spekulasi liar mulai tumbuh di kepalanya; tak menutup kemungkinan jika pelakunya adalah salah satu dari sahabatnya sendiri.

    “Kenapa, Ber?” tanya Kuker menyadari tatapan selidik itu.

    Beryl tersentak, lalu segera menyengir canggung. “Gue laper hehe.”

    Kuker melirik jam tangan di pergelangan kirinya. “Udah mau pulang nih, lagian tadi diajak ke kantin gak mau.” Beryl hanya bisa mengerucutkan bibirnya pasrah mendengar gerutuan itu.

    “Oh iya denger-denger sih sekarang banyak yang bilang kalo sekolah kita makin aneh.”

    Beryl meletakkan pulpennya, atensinya kini sepenuhnya teralih pada Kuker. “Aneh gimana?”

    “Aneh, katanya hantu di sekolah ini makin suka terror orang-orang di sekolah ini,” ujar Kuker dengan raut muka yang dibuat seserius mungkin.

    Baru saja Beryl hendak menggali informasi lebih dalam, suara lantang Bu Gina sudah lebih dulu memecah suasana. “Kukira, Beryl, kerjakan soal di papan tulis.”

    Beryl dan Kuker bangkit dengan bahu merosot lesu. Mereka berjalan ke depan kelas dengan perasaan pasrah. Amara tentu saja tidak ikut terpanggil; ia duduk di bangku terpisah meski posisinya masih bersebelahan dengan mereka.

    Sebuah pesawat terbang dengan kecepatan 200 m/s kemudian melepas bom dari ketinggian 500 m. Jika bom jatuh di B dan g = 10 m/s² maka jarak A ke B adalah…

    Mata Beryl membelalak membaca soal itu.

    Bagaimana ceritanya ada bom dijatuhkan dari pesawat di soal sekolah? Seingatnya, pelaku joke bomb saja bisa terkena sanksi berat sesuai pasal 437 UU No. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan dengan ancaman bui hingga lima belas tahun. Lah, ini malah menjatuhkan bom sungguhan dalam soal fisika?!

    “Ini gimana cara kerjainnya?” bisik Beryl panik.

    “Mana gue tau,” balas Kuker tak kalah bingung.

    Di papan tulis, mereka hanya mampu menuliskan:
    Diketahui :
    v = 200 m/s
    h = 500 m
    g = 10 m/s²
    t = …
    Ditanya : Jarak A ke B?
    Jawab : …

    Hening.

    “Jawabannya mana?” tagih Bu Gina tegas.

    Beryl dan Kuker hanya bisa menggaruk kepala yang tidak gatal. Hanya sampai di situ batas kemampuan otak mereka.

    Bu Gina menghela napas panjang, lalu menyodorkan dua lembar kertas penuh angka. “Kerjakan semua soal ini di perpustakaan, di sana banyak buku fisika tentang materi ini. Besok pagi kumpulkan ke Ibu.”

Celandine ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang