Sama halnya dengan makna bunga Celandine, ingatlah; setelah kesedihan, pasti akan datang kebahagiaan. Bersabarlah.
─── ・ 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ───
Dua minggu kemudian…
Selama dua hari terakhir, sebuah rumah di kawasan perumahan elite Jakarta Selatan telah didekorasi dengan sangat indah. Berbagai jenis bunga segar menghiasi setiap sudut ruangan sebagai dekorasi utama.
Di sebuah kamar di lantai dua, tiga cowok jangkung bertuksedo navy blue sedang berkumpul. Satu orang duduk di meja belajar, sementara dua lainnya bersantai di tepi ranjang. Penampilan mereka sangat rapi dan menawan. Salah satu di antara ketiganya tampak sibuk melonggarkan dasi sebelum menatap yang lain.
“Bang.”
“Hm.”
“Ayo,” ajak Haydar ambigu.
Aruna dan Nanta mengalihkan pandangan dari ponsel mereka, mengernyit heran. Haydar berdecak pelan. “Ketemu mempelai perempuan lo lah. Gue lihat-lihat kok kayaknya udah siap banget gitu.”
Nanta hanya tersenyum tipis karena paham arah pembicaraan Haydar. “Bang, rencana nikah umur berapa?” tanya Haydar lagi.
Aruna merebahkan diri ke tempat tidur Nanta sembari memejamkan mata, tidak berniat menjawab. Namun Haydar terus mengganggunya. “Bang. Kapan halalin adek gue?”
“Adek lo masih sekolah,” balas Aruna enteng.
Nanta dan Haydar membelalak kaget. “Berarti kalo Beryl udah lulus, mau langsung lo nikahi, Kak?”
Aruna hanya diam, namun sebuah tendangan mendarat di kaki Haydar hingga cowok itu terjungkal dari tempat tidur. Haydar mengaduh kesal sembari mengusap pantatnya yang membentur ubin.
Dalam hati, Haydar bersyukur memiliki keluarga angkat yang sangat menyayanginya seperti mereka. Kasih sayang Haris dan Luna membuatnya lupa bahwa ia bukan anak kandung di sana.
“Bang Nan, nanti gue gak mau ya Beryl nikah sama cowok yang bar-bar,” ujar Haydar seraya melirik Aruna sinis. Nanta terkekeh. “Emang lo maunya Beryl nikah sama cowok kaya apa?”
“Beryl tuh harusnya nikah sama cowok yang kalem, pendiem, nurut, polos, penyayㅡ”
“Biar apa?” potong Nanta.
“Biar rumah tangganya aman, damai, tentram, sejahtera.”
Nanta tertawa geli. “Lagian ya, mana ada sih cowok yang bisa sabar sama kelakuan aneh Beryl? Tuh.” Nanta menunjuk Aruna dengan dagunya.
“Bang Aruna mana minat sama Beryl? Malem itu kan dia bilang gak ada perasaan apa-apa,” ucap Haydar memanas-manasi.
Tiba-tiba Aruna melemparkan ponselnya tepat ke sebelah Haydar sebelum beranjak keluar ruangan. Haydar membalik ponsel itu yang ternyata masih menyala. Matanya membelalak kaget, begitu pula Nanta yang ikut mengintip.
“WHAT?!?! BENERAN, BANG?!!!”
Aruna yang mendengar teriakan itu hanya mengulas senyum kecil di koridor.
Di tempat lain, Beryl menatap pantulan dirinya di cermin bersama Haira dan Luna. Mereka bertiga tampak sangat anggun dengan balutan gaun putih dan baby blue. Saat sedang memotong apel, jari Beryl tak sengaja tergores pisau. Ia segera berpamitan untuk mengambil ponsel di kamar demi menutupi luka itu.
Saat melewati ruang tengah, Beryl nyaris menabrak seseorang. Beruntung laki-laki itu menahan lengannya. Beryl mendongak dan tertegun melihat Aruna dengan tuksedo biru gelapnya. Laki-laki itu terlihat begitu tampan.
“Tangan lo kenapa?” tanya Aruna ketus namun penuh perhatian.
“Kena pisau buah.”
“Bodoh.”
Aruna menarik Beryl ke wastafel, membersihkan darahnya di bawah air mengalir, lalu memasangkan plester ke jari gadis itu. Beryl terpaku, merasakan debaran jantung yang tak karuan karena jarak mereka yang begitu dekat.
─── ・ 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ───
Prosesi akad nikah Haira dan Arsen telah usai. Pasangan itu kini menyapa para tamu undangan yang terdiri dari keluarga dan rekan kerja. Di sisi lain, Beryl sedang berdebat dengan Haydar yang hobi menggodanya.
“Kenapa? Abang gue ganteng, 'kan?” bisik Haydar jahil.
Beryl mengangguk tanpa sadar. “Senyumnya ngajak berumah tangga banget.”
“BANG KATANYA BERYLㅡmphftt!” Beryl buru-buru membungkam mulut kakaknya yang menyebalkan itu.
Nanta yang melihat kegaduhan itu segera menarik Beryl ke dalam pelukannya. Ia sangat menyayangi adik bungsunya yang sempat terpisah lama itu. Beryl yang merasa sesak dalam pelukan erat Nanta hanya bisa memprotes meski ia menikmatinya.
“Ber, adik gue udah pulang ke Singapore,” ujar Saadan tiba-tiba, memecah suasana. Ia mewakili adiknya untuk meminta maaf pada Beryl atas segala kejadian di masa lalu. Beryl mengangguk tulus; ia sudah memaafkan semuanya.
“Berkat balas dendam lo, keluarga gue kumpul lagi,” ucap Beryl pada Saadan.
Suasana semakin hangat saat mereka berlima mengobrol bersama. Namun, Haydar kembali berulah dengan membocorkan rahasia Beryl pada Aruna. “Bang, tadi masa Beryl bilang kalau senyum lo ngajak berumah tangga.”
Beryl tersentak malu. Aruna tiba-laki menatap mata Beryl dengan intens, membuat suasana seketika menjadi sunyi. “Lo mau jadi istri gue, hm?” tanya Aruna tiba-tiba.
“MAH! PAH! BUN! YAH! KAK ARUNA SAMA BERYL MAU NIKAH NIH!” teriak Haydar heboh.
Beryl yang sudah sangat malu langsung lari menuju halaman belakang untuk menenangkan diri. Ia duduk di sebuah bangku kayu, namun Aruna segera menyusulnya untuk mengembalikan ponsel Beryl yang tertinggal.
Saat Beryl bersandar pada bangku, tangannya menyentuh sesuatu. Sebuah kertas post-it dengan kode biner dan tulisan ‘Baby Breath.’
01100011 01101111 01110010 01101110 01100101 01110010.
“Corner,” gumam Aruna setelah membaca kode itu.
Mereka segera mencari di sudut halaman dan menemukan sebuah lipatan surat dengan tulisan tangan yang sangat asing. Isinya singkat namun mampu membuat bulu kuduk berdiri:
‘Ini belum selesai, Cantik… ’
Beryl dan Aruna saling berpandangan dengan penuh tanya. Ternyata, permainan ini belum benar-benar berakhir.
T H E E N D
KAMU SEDANG MEMBACA
Celandine ✓
Misterio / Suspenso[Psychological Thriller | Romantic Suspense] Sejak hari terjadinya 'insiden kecil' di kantin saat itu, Beryl mendapat banyak teror aneh. Kertas clue yang selalu muncul tiba-tiba, bahkan di tempat yang tak terduga. Beberapa kali benda-benda aneh...
