Bab 44 : Cemburu dan Teh Manis

444 62 2
                                        

Uranium’Rhenium = Sulfur + Oksigen + Tembaga + Telurium

─── ・ 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ───

    “Adorable.”

    Drrtt drrtt

    Saadan berdecak malas karena merasa terganggu. Ia melirik ponselnya tanpa minat, lalu kembali menatap Beryl. Gadis itu sedang tidur pulas di sofa setelah kelelahan menangis di secret room tadi. Alhasil, Saadan terpaksa membawanya kembali ke ruangan sebelumnya.

    Tak ingin mengusik ketenangan tidur Beryl, Saadan berjalan menjauh sembari mematikan pendingin ruangan. Ia kemudian mengangkat panggilan telepon itu dengan suara rendah.

    “Is this your hobby, Warugaki?” Saadan bersandar pada dinding sembari terus mengawasi Beryl. “What do you want me to do, take them off?”

    Saadan tersenyum tipis mendengarkan suara di seberang sana. “You want me to do the dirty work for you? At least, you know what I mean.”

    Saadan mematikan telepon secara sepihak. Ia menghempaskan diri ke sofa kosong tepat di depan Beryl. Baru saja memejamkan mata, suara pintu terbuka terdengar. Saadan tersenyum; orang yang dinanti akhirnya tiba.

    “Masuk saja,” ujar Saadan tanpa menoleh. Jemarinya sibuk mengutak-atik iPad untuk mengganti digit kata sandi pintu dan mematikan seluruh kamera pengawas di ruangan itu.

    Aruna tertegun melihat pemandangan di depannya. Beryl sedang tidur nyenyak terbungkus selimut hitam tebal. Aruna kemudian mengalihkan pandangan dan menatap Saadan tajam.

    “Dia aman,” balas Saadan, seolah bisa membaca kemarahan di mata Aruna.

    Aruna duduk mendekati Beryl. “Dia kenapa?”

    “Dia cuma tidur. Sekitar satu jam dua puluh tiga menit lima belas detik yang lalu,” jawab Saadan dengan sangat spesifik.

    Aruna membenahi letak selimut yang membungkus tubuh mungil itu. Ia mengamati wajah damai Beryl yang tampak polos dan manis, lalu tersenyum tipis. Namun, senyum itu menghilang saat ia menyadari sesuatu.

    “Dia habis nangis?”

    Tubuh Saadan membeku seketika. Ia tersentak kaget mendapati tatapan membunuh dari mata elang Aruna. Bagaimana cowok itu bisa tahu?

─── ・ 。゚☆: .☽ . :☆゚. ───

    “Tapi kita keluar lewat mana, Mar?” tanya Kuker bingung.

    Amara mengambil sebuah obeng pipih dari dalam laci meja. Ia memberi isyarat agar Kuker memegangi salah satu lukisan langit berukuran sedang di dekat pintu. Dengan teliti, Amara membuka satu per satu baut yang menahan lukisan gantung itu hingga akhirnya berhasil dilepaskan.

    “Terus ini gimana, Mar?”

    Amara menunjuk ke arah dinding kosong yang tadinya tertutup lukisan itu. Ada sebuah knop pintu tersembunyi di sana.

    “WHAT?!

─── ・ 。゚☆: .☽ . :☆゚. ───

    “Lo apain dia?” tanya Aruna lagi saat Saadan kembali dari dapur membawa teh hangat.

    “Gak gue apa-apain,” jawab Saadan sembari meletakkan gelas itu ke meja dengan sangat hati-hati.

    Aruna memicingkan mata penuh selidik. “Lo gak main tangan, kan?”

    Saadan terdiam sejenak sebelum menggeleng. Ia memang tidak sampai main tangan, meski hampir saja melakukannya.

    “Ma… ”

    Keduanya menoleh serentak. Beryl tampak mengigau dalam tidurnya. Aruna segera membenahi kompres di kening gadis itu yang ternyata sedang demam. “Ambil air lagi.”

    “Gue yang punya rumah, gue yang jadi babu,” gumam Saadan kesal, namun tetap beranjak ke dapur setelah menerima tatapan tajam Aruna.

    Beryl membuka matanya perlahan, mengumpulkan kesadaran yang masih tersisa. Ia melihat sosok Aruna yang duduk di depannya. “Kak Aruna?”

    “Hm?”

    Beryl tersentak dan segera mencoba bangun, namun Aruna menahannya agar tetap berbaring. Aruna membantunya minum teh terlebih dahulu. “Tehnya manis banget.”

    “Semanis apa?” tanya Aruna.

    “Semanis aku,” gumam Beryl yang dibalas senyuman tipis Aruna.

    Beryl kembali masuk ke dalam selimut, namun tiba-tiba kepalanya terasa pening. Saat memejamkan mata, ia merasakan benda lembut menyentuh hidungnya. Bau anyir menyengat tercium; ia mimisan lagi. Aruna dengan sigap membantu menyeka darah yang keluar.

    “Dia gak apa-apain lo, kan?” tanya Aruna serius.

    Beryl melirik ke arah dapur sejenak. “Aku gak papa kok, Kak.”

    Beryl mengambil kain kompres dari tangan Aruna, lalu mulai membersihkan bercak darah di wajah Aruna sendiri. Ia memperhatikan wajah Aruna dari dekat, mengagumi garis wajah laki-laki itu yang tampak begitu tenang.

    “Kak Aruna jangan berantem lagi. Kan kasihan kalau nanti hidungnya jadi gak tajem lagi.”

    Aruna terdiam, membiarkan Beryl mengobati luka di sudut bibirnya dengan hati-hati.

    “Kak Aruna senyum kek. Mahal amat senyumnya.”

    Begitu Beryl selesai bicara, Aruna tiba-tiba tersenyum lebar. Beryl tersentak dan langsung menarik tangannya. “Aku tarik yang tadi. Ga usah senyum, Kak. Gak perlu.”

    “Kenapa?”

    “Nanti kalau kak Aruna senyum, sudut bibirnya makin sobek,” alibi Beryl menutupi rasa salah tingkahnya.

    Aruna tertawa kecil, membuat Beryl mengaduh saat laki-laki itu menjitak kepalanya dengan gemas. “Jahat.”

    “Sakit?” Beryl mengangguk.

    Aruna mendorong pelan bahu Beryl agar kembali berbaring, lalu mendaratkan tangannya di kepala gadis itu. “Yang mana yang sakit?”

    Beryl tidak menjawab, ia justru terpaku menatap mata teduh Aruna hingga pipinya merona merah.

    “Pipi lo kok merah?” tanya Aruna curiga.

    “E-enggak.”

    Aruna mendekatkan wajahnya, meneliti raut wajah Beryl dengan intens. Suasana menjadi hening sejenak hingga Aruna kembali tersenyum tipis. “Lo nggak lagi baper, kan?”

    Bugh

    “Ash, Ber!”

    “EH ASTAGFIRULLAH! MAAF, KAK!”

─── ・ 。゚☆: .☽ . :☆゚. ───

    Di ruangan lain…

    Ruangan yang semula dihuni empat orang berjubah hitam kini hanya tersisa tiga orang. Mereka duduk menelungkupkan wajah tanpa menunjukkan identitas. Di tengah meja, terdapat secarik kertas dengan tulisan tangan yang mencolok:

    ~ Cause we're gonna play hide and seek, Pal. ~

— Celandine —
tbc

Celandine ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang