Warning Kekerasan!
Bagian ini mengandung perdebatan mengenai tindakan as*sila dan kekerasan fisik. Mohon bijak dalam membaca.
ʕっ•ᴥ•ʔっ
Saadan memutar kursi belajarnya dengan perlahan. Tatapannya menyorot tajam, menusuk tepat ke arah seseorang yang sedang duduk santai di tempat tidurnya.
“Apa lo bilang?” tanya Saadan dengan nada rendah yang berbahaya.
Salim berdecak, seolah merasa usulannya adalah hal yang jenius. “Bang, bukannya itu satu-satunya cara balas dendam ke perempuan yang paling mudah? Dengan senang hati gue akan bantu rencanain semuanya.”
Saadan mengernyit tidak suka, rahangnya mengeras. “Cara mudah?”
Salim mengangguk yakin. “Dengan begitu, lo gak cuma hancurin satu orang, tapi lo akan hancurin semua orang sekaligus. Lo bisa dengan mudah ambil Beryl dari Kak Aruna. Kalau bisa semudah itu, why not?”
“Lim,” panggil Saadan, suaranya terdengar lebih dalam. “Seiblis-iblisnya gue, gue gak akan pernah lakuin hal sekotor itu.”
Salim menyugar rambut tebalnya sembari terkekeh sinis. “Jangan muna, Bang. Gue tahu lo cowok normal. Kalo lo mau lakuin ‘itu,’ ya udah lakuin saja. Gue janji setelah itu gue gak akan pernah sakiti dia. Kita akhiri balas dendam ini sampai di sini.”
Saadan tetap membisu. Rencana Salim benar-benar di luar batas kemanusiaan; adiknya ingin agar Saadan merenggut kehormatan Beryl secara paksa demi ambisi mereka.
“Lo udah jauh di atas kata pinter, Bang. Bentar lagi lo lulus SMA. Lo lupa apa yang Om Marcel bilang? Dia minta supaya lo segera nikah setelah lulus, kan? Kalo lo maunya sama Beryl, ya udah lakuin saja. Gue urus semuanya. Atau lo mau gue yang lakuin itㅡ”
Ctarrr!!!
Gelas di dekat Saadan hancur berkeping-keping setelah dilempar kuat ke lantai. “Jaga mulut lo, Lim! Beryl bukan cuma target kita, tapi dia juga adiknya Arkananta. Apa lo lupa gimana baiknya Nanta ke lo? Dan dengan bodohnya lo mau ‘rusak’ Beryl cuma karena ego lo itu? Gila lo, ha?!”
Salim justru tersenyum lebar. “Iya, gue udah gila!”
Saadan mengacak rambutnya frustrasi. “Lim. Dengan gue ngelakuin itu, sama saja gue udah bikin Mama kecewa. Gue gak akan sebodoh itu buat rusak masa depan seseorang yang gue sayang.”
Salim terbahak mendengar pengakuan itu. “Gue yakin Beryl akan suka,” celetuknya tanpa beban.
Bugh!
Pukulan keras mendarat di wajah Salim hingga ia terpental ke ranjang. Darah segar mulai mengucur dari hidungnya, namun Salim justru tertawa lebih keras. Saadan segera mencengkeram leher adiknya dengan emosi yang sudah di puncak kepala.
“Beryl bukan cewek rendahan kayak gitu!” desis Saadan.
Salim menatap abangnya dengan berani. “Gue tanya sekali lagi. Lo sayang kan sama Beryl? Lo gak rela kan kalo dia ada di antara orang-orang yang mau sakiti dia? Bang, itu satu-satunya cara buat dia jadi milik lo. Kita bawa dia ke jebakan di rumah ini, lo lakuin ‘itu,’ lalu kita sembunyiin dia di Singapore.”
Saadan mencoba meredam keinginan untuk membunuh adiknya saat itu juga. “Lo mikir gak sih gimana hancurnya hidup Beryl kalau gue sampai ngelakuin itu?”
“Beryl pasti akan minta pertanggungjawaban lo. Simple, kan?”
“Sebelum gue tanggung jawab, Kak Aruna udah lebih dulu bunuh gue,” balas Saadan pahit.
Salim tertawa lagi, memprovokasi tentang ‘hasil’ biologis yang mungkin terjadi nanti. Tanpa membuang waktu, Saadan menyambar pecahan gelas di lantai. Ia mencengkeram leher Salim dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mulai menyayatkan kaca itu ke kulit kaki adiknya, dari mata kaki hingga lutut.
Salim mengerang kesakitan. “Jangan gores kulit gue!” teriaknya. Ia sangat terobsesi dengan kesempurnaan fisiknya. Saadan kemudian melempar pecahan kaca itu dengan kasar ke sudut ruangan.
“Lim. Sayang ke seseorang bukan berarti gue harus miliki orang itu secara paksa. Apapun yang terjadi, gue gak akan ngelakuin hal kotor itu,” tegas Saadan.
Salim melepaskan cengkraman kakaknya dan bangkit dengan senyum sinis. “Well, gue rasa kita udah gak satu tujuan lagi. Lo gak bisa hentiin gue, Bang.”
Setelah Salim meninggalkan kamar, Saadan terduduk lemas. Ia baru menyadari sepenuhnya bahwa bekerja sama dengan Salim adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Adiknya itu terlalu berbahaya, dan rencana balas dendam ini sudah melenceng jauh menuju kegelapan yang tak terbayangkan.
— Celandine —
tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Celandine ✓
Mistério / Suspense[Psychological Thriller | Romantic Suspense] Sejak hari terjadinya 'insiden kecil' di kantin saat itu, Beryl mendapat banyak teror aneh. Kertas clue yang selalu muncul tiba-tiba, bahkan di tempat yang tak terduga. Beberapa kali benda-benda aneh...
