Jangan mengusik kehidupan orang lain. Itu menyebalkan tau!
─── ・ 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ───
Beryl menggembungkan kedua pipinya, menatap sebal pada secarik kertas yang baru saja ia temukan. Dengan gerakan kasar, ia menjejalakan kertas itu ke dalam saku hoodie-nya. Penguntit ini benar-benar telah melampaui batas dan mengusik ketenangannya. Seingatnya, ia tidak pernah mencari masalah dengan siapa pun, apalagi memiliki musuh. Lantas, apa sebenarnya motif di balik teror kertas misterius ini?
Beryl menikmati es krimnya dengan raut masygul. Namun, ketenangannya terusik saat seorang anak kecil berlari kencang dan tak sengaja menabrak kakinya. Beryl limbung, kehilangan keseimbangan. Secara refleks, ia memejamkan mata rapat-rapat.
Untuk sepersekian detik, ia membayangkan sebuah adegan klise: seseorang akan datang dengan sigap menahan tubuhnya agar tidak jatuh menghantam lantai.
Ah, itu terlalu dramatis dan tidak mungkin terjadi.
Bruk!
Beryl akhirnya terjatuh dan terduduk di lantai mal yang dingin. Beberapa pasang mata di sekitar kini tertuju padanya. Ia meringis pelan, bukan hanya karena rasa sakit di bagian tubuhnya, tapi juga karena es krim kesayangannya kini sukses mengotori baju yang dikenakannya.
Benar saja, tidak ada sosok penyelamat seperti di dalam novel. Harapannya terlalu tinggi.
Beryl masih memejamkan mata sejenak, mengumpulkan kekuatan untuk bangkit sendiri. Namun, tepat sebelum ia bergerak, sebuah tangan besar terulur di hadapannya. Beryl mendongak. Kedua alisnya bertautan saat melihat sosok yang berdiri di depannya. Ia sempat bergeming, tertegun selama beberapa saat. Akhirnya, ia menerima bantuan itu, namun bukan dengan menyambut uluran tangan tersebut. Beryl justru berdiri dengan berpegangan pada ujung baju orang di depannya.
Untung baju, bukan celana! batinnya konyol.
“Terima kasih, Kak,” ucap Beryl lirih sembari mendongak menatap Saadan.
Saadan hanya memberikan senyum tipis. Cowok berkaus hitam itu mengernyit sejenak, melihat noda es krim yang belepotan di wajah dan seragam Beryl. “Sebentar,” ucapnya pendek, lalu berbalik menjauh.
Tak butuh waktu lama bagi Saadan untuk kembali dengan satu pak tisu di tangannya. Ia menyerahkannya pada Beryl, lalu berpamitan dengan terburu-buru seolah ada urusan penting yang sedang menantinya.
Beryl tersenyum kecil. Ia tak menyangka jika senior yang menjadi pujaan banyak siswi di sekolahnya itu bisa bersikap semanis dan sebaik itu padanya. Pikirannya mulai bergejolak. Ia mencoba menenangkan diri dengan berprasangka baik; mungkin Saadan memang tipe orang yang baik kepada semua orang, bukan hanya kepadanya. Ia tidak boleh terlalu terbawa perasaan.
Beryl kemudian melangkah menuju area permainan boneka capit. Ia memasukkan koin, lalu menatap layar kaca dengan penuh konsentrasi, mencoba menggerakkan tuas kontrol untuk mengambil boneka di hadapannya. Biasanya, Beryl tidak pernah berhasil. Bukankah permainan semacam ini memang dirancang agar sulit ditaklukkan? Namun, di luar dugaan, kali ini dewi fortuna sedang berpihak padanya. Beryl berhasil mendapatkan salah satu boneka incarannya.
Wajahnya berbinar senang. Boneka kecil itu kini sudah aman dalam genggamannya. Seumur hidup, baru kali ini ia memenangkan permainan capit tersebut. Mungkin inilah yang disebut keberuntungan di tengah kesialan. Namun, binar bahagia itu perlahan meredup. Rasa gelisah kembali menyergap saat matanya menangkap secarik kertas yang tergeletak di dekat sepatunya. Kertas dengan pola yang sama, dari pengirim yang sama.
________________________
To : Baby Breath
Tulip Timezone
Hari ini adalah hari
saat kita saling
bertukar hadiah,
bertukar warna,
bertukar kisah,
bertukar waktu,
dan bertukar
rasa.
________________________
— Celandine —
tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Celandine ✓
غموض / إثارة[Psychological Thriller | Romantic Suspense] Sejak hari terjadinya 'insiden kecil' di kantin saat itu, Beryl mendapat banyak teror aneh. Kertas clue yang selalu muncul tiba-tiba, bahkan di tempat yang tak terduga. Beberapa kali benda-benda aneh...
