“Katanya, mata adalah jendela hati. Lantas jika matamu teduh, apa sebenarnya hatimu sedang hujan?”
─── ・ 。゚☆: .☽ . :☆゚. ───
Haydar menggaruk sebelah alisnya yang tidak gatal, mencoba mencerna permintaan Beryl yang di luar nalar. Sebenarnya ada satu cara untuk mengabulkan keinginan makhluk berdarah dingin di sebelahnya ini. Namun, logika Haydar mengatakan hal itu sangat mustahil untuk diwujudkan.
Haydar menghentikan mobilnya di tepi jalan, lalu berdeham pelan untuk memecah kecanggungan. “Maaf gue gak bisa bantu lo buat itu.” Beryl hanya memberikan anggukan singkat sebagai respons.
“Tapi gue bisa cariin tutor fisika khusus buat lo,” lanjut Haydar cepat, berusaha menawarkan kompensasi lain.
Beryl menggeleng tenang. “Gak usah, gue bisa sendiri.”
Haydar terdiam sejenak, menatap gadis itu dari samping. “Kalo lo butuh bantuan, gue akan bantu lo. Rumah lo di mana biar gue antar sekalian.”
Lagi-lagi Beryl menggeleng, menolak tawaran tumpangan yang mungkin diinginkan banyak gadis lain. “Gue lebih suka jalan kaki. Makasih.” Tanpa menunggu balasan lagi, Beryl keluar dari mobil mewah Haydar.
“Bener-bener gak bisa senyum apa gimana? Senyum doang segitu banget pelitnya. Masa kawat gigi bikin orang jadi gak bisa senyum, sih?” Haydar menumpahkan kekesalannya pada udara kosong di dalam mobil. “Gue doain deh biar dapat hidayah sen—”
Kalimat Haydar mendadak terputus saat sebuah tangan muncul dari jendela mobil yang terbuka, meraih sesuatu yang tertinggal di kursi penumpang. Mata Haydar membulat sempurna begitu menyadari siapa pemilik tangan itu.
“Gue gak denger apa-apa,” ujar Beryl kalem, wajahnya tetap datar tanpa riak emosi.
Setelah mengambil headphone-nya yang tertinggal, Beryl berbalik dan melangkah menjauh, meninggalkan Haydar yang mendadak mematung seperti patung selamat datang.
Dia denger semuanya? batin Haydar merutuki nasibnya.
Beryl menutup buku tulisnya dengan kasar. Rasa lega sedikit menyusup di dadanya. Beruntung, semua jawaban dari soal-soal ‘beracun’ milik Bu Gina berhasil ia temukan di laman web tanya jawab paling populer di jagat maya.
Beryl meraih sebuah kotak kecil dan membukanya dengan hati-hati. Di dalamnya, tersimpan dua buah sticky notes dengan warna berbeda. Ia membaca kata demi kata yang tertulis di sana secara berulang-ulang, mencoba mencari pola atau makna tersembunyi. Apa sebenarnya maksud dari kalimat-kalimat misterius ini?
Sambil menghela napas, ia menyimpan kembali kedua kertas itu. Tanpa sengaja, pandangannya terjatuh pada secarik kertas lain yang sengaja ia tempel di sudut meja belajarnya.
“Kalau kamu sedih, coba lihat starry sky di malam hari. Langit yang tak pula sedang semendung hatimu. Melihatmu bahagia pasti membuat keluarga besar starry sky di atas sana—tetap tak akan pernah tersenyum. Memangnya mereka punya bibir? Kau kira sun di Teletubbies pindah kontrak? Memangnya…”
Beryl memutar kursi belajarnya, menghadap ke arah jendela kamar yang terbuka. Tanpa ia sadari, kedua sudut bibirnya tertarik tipis membentuk senyuman. Di luar sana, langit malam sedang memamerkan keindahannya dengan taburan bintang dan cahaya rembulan yang keperakan.
Sangat indah.
Gadis berkawat gigi itu bangkit untuk menutup gorden, lalu mematikan lampu kamar. Begitu kegelapan menyergap, seketika seluruh dekorasi glow in the dark di kamarnya menyala terang. Langit-langit kamarnya kini berubah menjadi galaksi mini yang mempesona, menemani perjalanannya menuju alam mimpi.
─── ・ 。゚☆: .☽ . :☆゚. ───
Pagi harinya, Beryl melepas headphone dan menggantungkannya di leher. Meja makan dengan menu sarapan porsi kecil sudah menantinya—pemandangan yang menjadi rutinitas harian Beryl. Sunyi, namun teratur. Tanpa ingin membuang waktu, ia menyantap sarapannya dan menyiapkan kotak bekal berisi beberapa tangkup sandwich untuk dibawa ke sekolah.
Seperti biasanya, Beryl berangkat dengan berjalan kaki. Udara pagi yang segar masuk ke paru-parunya saat ia kembali mengenakan headphone, menikmati privasi di tengah keramaian jalanan.
Bruk!
Beryl meringis pelan, merutuki kecerobohannya. Terlalu asyik menghirup udara pagi membuatnya abai pada bongkahan batu di depannya. Alhasil, ia tersandung dan sukses ‘mencium’ aspal jalanan.
Beberapa anak SD yang melintas tampak menahan tawa melihat kejadian itu. Bahkan, seekor anjing Pomeranian putih milik tetangganya ikut memandangnya dengan tatapan aneh yang seolah sedang menghakimi. Menyebalkan. Beryl mendengus, segera bangkit untuk membersihkan wajah, kerudung, dan seragamnya yang kotor.
Tiba-tiba, gerakannya terhenti. Beryl menyipitkan mata, mencoba menajamkan penglihatan pada sebuah objek di kejauhan. Sedetik kemudian, ia berlari kencang menghampiri seseorang yang tampak hampir terjungkal dari kursi rodanya.
Beryl terkesiap. Sosok yang bahunya kini ia tahan agar tidak terjatuh adalah orang yang sama yang ia temui di toko roti kemarin. Sebaliknya, cowok itu pun tampak tak kalah terkejutnya. Beryl sempat tertegun sesaat, merasa terhipnotis oleh aura yang dipancarkan orang itu.
Meski wajahnya tertutup masker, Beryl bisa mengingat dengan jelas sepasang mata itu. Mata yang begitu indah, namun terasa sangat teduh.
Sialnya, Beryl melupakan satu hal penting. Ia tadi berlari saat dikejar rasa malu dari anjing Pomeranian yang memperhatikannya. Mata Beryl membelalak saat melihat anjing kecil comel itu kini justru berlari ke arahnya. Ia sudah bersiap untuk berteriak ketakutan, namun anjing itu mendadak pergi setelah diusir oleh cowok di kursi roda tersebut. Beryl menghela napas lega yang luar biasa.
“Kakak nggak apa-apa?”
Beryl mencoba memasang wajah "santuy", berpura-pura seolah insiden Pomeranian tadi tidak pernah terjadi. Sementara itu, cowok itu hanya memberikan anggukan singkat tanpa ekspresi sedikit pun.
Tak lama, seorang wanita cantik berhijab dengan pakaian olahraga berlari menghampiri mereka. Beryl menebak wanita itu adalah ibu dari sang cowok. “Kamu nggak kenapa-kenapa 'kan, Bang?”
Cowok itu menggeleng pelan.
Wanita itu lantas beralih menatap Beryl dengan senyum tulus. Ia rupanya sempat melihat aksi Beryl menolong putranya tadi. “Terima kasih ya, Nak.” Beryl hanya bisa mengangguk sopan.
“Nama kamu siapa?”
— Celandine —
tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Celandine ✓
Mystery / Thriller[Psychological Thriller | Romantic Suspense] Sejak hari terjadinya 'insiden kecil' di kantin saat itu, Beryl mendapat banyak teror aneh. Kertas clue yang selalu muncul tiba-tiba, bahkan di tempat yang tak terduga. Beberapa kali benda-benda aneh...
