Warning !
Bab ini dst akan ada banyak kekerasan!
Bijaklah dalam membaca!
(ノ゚0゚)ノ→
Jangankan menolak permintaanmu, melihat senyummu pudar saja aku tak rela.
─── ・ 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ───
“Yah, gimana?”
Haris, yang sedang berjuang memutus lilitan tali tambang di tubuhnya menggunakan cutter, menghela napas pendek. “Bentar, Bund.”
Ingatannya berputar pada kejadian pagi tadi. Saat hendak menyusul ke lokasi Beryl, mobil mereka dicegat. Hal terakhir yang diingat Haris, Luna, dan Mbak Kim adalah semprotan bius yang membuat mereka kehilangan kesadaran seketika. Kini, mereka terbangun di tempat asing yang gelap dengan tubuh terikat kuat.
Luna memperhatikan suaminya dengan raut frustasi. Ia melihat Haris berusaha keras memutus tali tambang laknat itu dengan cutter kecil milik Mbak Kim. Sejujurnya, Luna sudah gemas sendiri melihat betapa alotnya tali itu.
“Kalau hubungan saja mudah putus, kok tali tambang laknat ini gak putus-putus sih?” geram Luna, membuat Haris dan Mbak Kim mendengus dalam kepanikan mereka.
“Mbak Kim bawa cutter buat apa?” bisik Luna, waspada jika ada yang mengawasi.
“Eungg… anu, Buㅡ”
“Kenapa gak sekalian bawa pisau daging, sih?” potong Luna.
“Astagfirullah, Bu. Saya mana berani bawa gituan. Lagian saya mah bawa cutter tadi juga habis potong rumput belakang rumah.”
Luna berdecak. Luar biasa cerdas asisten rumah tangganya ini—potong rumput pakai cutter! Namun, akhirnya usaha Haris membuahkan hasil. Tali itu putus. Mereka segera berdiri dan merenggangkan tubuh yang kaku.
Tiba-tiba, dua pria berpakaian serba hitam muncul dari kegelapan.
“Mah, tangkap!” Haris melemparkan kunci mobil yang langsung ditangkap Luna dengan wajah kaget. Jarang sekali suaminya memanggilnya ‘Mah’ dalam situasi serius. Pria paruh baya itu tersenyum tipis. “Iya, Bunda sayang.”
Mbak Kim hanya bisa mengelus dada di pojokan. Sempat-sempatnya baper-baperan, batinnya.
“Kalian lari ke mobil, nanti saya nyusul,” perintah Haris.
“Siap, Captain!” jawab Luna mantap. Ia mulai berlari ditarik Mbak Kim, namun sempat berteriak, “Awas kalau kalian bikin suami saya lecetㅡheh kalian ini berdosa banget!”
Di tengah hujan yang mulai turun, Luna dan Mbak Kim melompat masuk ke mobil. Melihat Haris sedang dikejar saat berlari ke arah mereka, Luna segera menghidupkan mesin. Dengan nekat, ia memutar balik mobilnya 270 derajat hingga suara decitan ban memekakkan telinga—persis adegan film aksi. Mbak Kim yang berada di jok belakang sampai terlempar hingga mukanya menempel di kaca.
“KAYAKNYA BU LUNA WAKTU MUDA HOBINYA BALAPAN AAAAAAAA!” teriak Mbak Kim histeris.
─── ・ 。゚☆: .☽ . :☆゚. ───
“Tadi pagi gue udah kasih peringatan supaya lo gak melibatkan yang lain, 'kan?” desis Saadan. Tatapan Haydar menajam.
“Lo bisa lihat kan siapa saja yang sayang sama lo, Ber.” Tangan Saadan hendak membelai pipi Beryl.
“SINGKIRIN TANGAN KOTOR LO ITU, BAST!”
Bugh! Pukulan telak Haydar mendarat di wajah Saadan. Haydar merasa sangat bodoh karena selama ini telah memercayai sahabat sejak SMP-nya itu. Sementara itu, Aruna segera menghampiri Beryl untuk melepas ikatannya.
“Kak Aruna.”
Aruna menatap Beryl dengan lembut. “Jangan nangis.”
“Kak, mau pulang,” isak Beryl parau.
“Iya, ayo pulang,” sahut Aruna sambil terus fokus pada tali di kaki Beryl.
Tanpa sadar, Beryl mengusap rambut Aruna yang berantakan untuk merapikannya. Perlakuan sederhana itu membuat Aruna diam-diam tersenyum di balik keseriusannya.
“Akh!”
Suara ringisan Nanta memecah suasana. Saadan baru saja menyuntikkan sesuatu ke paha Nanta yang tiba-tiba pasang badan melindungi Haydar. Nanta melemparkan sebuah kunci ke arah Aruna sebelum tubuhnya melemas.
“Dua ujung tali itu ada gemboknya. Tuh kuncinya di sana,” ujar Saadan santai. Saat Aruna bergerak mengambil kunci, Saadan memanfaatkan celah. Ia memiting leher Beryl dengan satu lengan dan menempelkan cutter tajam di pipi gadis itu.
“Satu langkah, satu goresan,” ancamnya.
“JAUHIN CUTTER ITU DARI ADEK GUE, PSIKOPAT!” bentak Haydar murka.
Saadan tertawa mengejek. “Haydar… Haydar… Sebagai kakak, selama ini lo ke mana saja? Apa lo becus jaga adek lo ini? Lo juga, Nan. Emang lo becus jaga adek-adek lo?” Saadan menyeringai ke arah Aruna. “Gue akan bawa seseorang yang lo sayang ini, Bang. Oh atau sekarang sudah jadi salah satu orang yang paling berharga buat lo?”
Beryl, Haydar, dan Nanta saling tatap dengan kebingungan yang luar biasa. Adik? Kakak? Saadan tertawa melihat wajah-wajah bingung itu. “Jadi kalian belum tau? Menarik.”
“Sebenarnya apa tujuan lo?” tanya Haydar mencoba meredam emosi.
Saadan tertawa keras. “Tujuan gue?”
─── ・ 。゚☆: .☽ . :☆゚. ───
“APA!?” Kuker tersentak mendengar ucapan Amara. “BALAS DENDAM!?”
Amara menatap hujan dari skylight. “Balas dendam yang sudah jadi tujuan hidup dia.”
Kuker merasa otaknya macet total. “Tapi-tapi Beryl salah apa?”
“Beryl nggak salah.”
“Jadi siapa yang salah?” Amara hanya mengangkat bahu misterius.
Kuker merasa merinding dengan aura Amara. “Ta-tapi gimana bisa lo tau itu, Mar? Sebenernya lo siapa?”
Amara mendekat, membuat Kuker mundur hingga menempel ke tembok. “Lo sendiri siapa?” tanya Amara dingin, membuat Kuker mati kutu.
Mencoba mencairkan suasana, Kuker bertanya, “Jadi, apa yang bisa bikin Beryl selamat?”
Amara kembali menatap hujan, bergumam pelan. “Hati.”
— Celandine —
tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Celandine ✓
Misterio / Suspenso[Psychological Thriller | Romantic Suspense] Sejak hari terjadinya 'insiden kecil' di kantin saat itu, Beryl mendapat banyak teror aneh. Kertas clue yang selalu muncul tiba-tiba, bahkan di tempat yang tak terduga. Beberapa kali benda-benda aneh...
