Bab 26 : Rahasia di Balik Api Unggun

493 69 3
                                        

Who says you can’t run away from your problems?

─── ・ 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ───

    02.00 AM

    Dini hari ini, sekitar tiga puluh senior sudah sibuk berkeliling tenda untuk membangunkan seluruh siswa. Bagi yang muslim, mereka diarahkan untuk ibadah malam sebelum nantinya berkumpul di halaman depan sekolah.

    Beryl menatap Amara yang sedang sibuk membenahi letak kerudungnya di depan cermin kecil. “Kuker mana, Mar?” tanya Beryl. Amara hanya menggeleng pelan sebagai jawaban.

    Beryl dan Amara yang baru saja keluar dari masjid celingak-celinguk mencari keberadaan sahabat mereka itu. Berhubung Kuker sedang berhalangan ibadah, ia seharusnya menunggu di depan masjid saja. Katanya sih, ia juga ingin ‘menikung’ di sepertiga malam jika saja tidak sedang datang bulan. Namun, sosoknya tidak terlihat di mana pun.

    Tak lama, mereka melihat Kuker berjalan dari arah kegelapan menuju mereka. “Lo dari mana saja, Kuk?”

    “Kamar mandi,” jawabnya singkat.

    “Tumben berani sendiri. Biasanya mau ambil sapu di pojokan kelas saja minta ditemenin,” goda Beryl.

    Kuker tersenyum bangga, menepuk dadanya pelan. “Habis ini keliling sekolah buat uji nyali, kan? Kalau nanti berempat, gue yang jalan paling depan deh. Percaya saja sama gue!”

─── ・ 。゚☆: .☽ . :☆゚. ───

    “AAAAAAAAA....!!!”

    “Buset, kuping gue, Kuk!”

    Salim, Beryl, dan Amara kompak menutup telinga mereka rapat-rapat. Mereka hanya bisa menghela napas pasrah. Baru sepuluh langkah berjalan, sudah dua puluh kali Kuker berteriak histeris. Rasanya ingin sekali menyumpal mulut gadis itu.

    “IH ITU APAAN!?” seru Kuker lagi sambil menunjuk bayangan di pojok koridor.

    Salim dan Amara mengarahkan senter mereka ke arah yang dimaksud. “Itu sapu, Juleha!” gerutu Salim.

    Kuker bergidik ngeri dan berniat pindah ke posisi paling belakang bersama Beryl dan Salim. Namun, Amara lebih dulu menahan lengannya. “Lo mau diikuti dari belakang?” tanyanya dingin. Kuker menggeleng cepat dan refleks mengaitkan lengannya pada Amara dengan erat.

    Sebenarnya anggota keempat kelompok mereka seharusnya perempuan. Namun, karena Beryl punya riwayat pingsan, panitia senior menggantinya dengan Salim—laki-laki yang dianggap paling bisa diandalkan.

    Lima menit berjalan, suasana kian mencekam. Mereka mendengar suara benda jatuh dan melihat boneka-boneka yang sengaja diletakkan panitia untuk memacu adrenalin. Tiba-tiba, Beryl menarik lengan baju Salim pelan, memberi kode untuk melambat. Namun, Salim malah berhenti mendadak, membuat Kuker dan Amara ikut berhenti.

    “Lo pusing, Ber?” tanya Salim khawatir.

    Beryl menggeleng, wajahnya sedikit pucat. “Tadi ada yang mau narik tangan kanan gue,” cicitnya hampir tak terdengar.

Celandine ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang