Not all scars show, not all wounds heal.
─── ・ 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ───
“Kalo lo udah tau, kenapa lo gak bilang langsung ke gue? Ah bego banget gue ini,” gerutu Haydar dengan nada menyesal.
“Emang,” balas Aruna singkat.
Saat ini keduanya sedang bersandar pada pilar balkon ruang utama. Usaha mereka mencari Beryl belum membuahkan hasil; mereka kehilangan jejak di mana lokasi ‘anak TK’ itu sekarang. Namun, beberapa saat yang lalu Aruna justru menyarankan untuk berhenti mencari dan menunggu.
Haydar berdecak tidak sabar. “Kak, kita nunggu apaan sih? Bisa saja si bocil itu sekarang lagi dalam bahaya. Kenapa kita yang santai-santai kayak gini?” Ia menatap kakaknya penuh curiga. “Jangan bilang kalau lo… ”
Aruna menoleh. Tatapannya seakan bertanya tanpa suara, “apa?”
“Gak jadi.”
Aruna kembali melirik jam tangannya, memperhatikan jarum panjang yang hampir menyentuh angka dua belas sementara jarum pendek tepat di angka sepuluh. Hanya kurang beberapa detik.
Lima. Empat. Tiga. Dua. Satu.
“Kenapa engga—”
Ting! Ponsel Aruna berbunyi. “Sekarang.”
Aruna langsung berlari meninggalkan balkon itu. Haydar yang kebingungan segera mengekor. “Hah? Apanya yang sekarang?”
Aruna mendadak berhenti, membuat Haydar hampir menabraknya. Samar-samar dalam kegelapan lorong, terlihat Beryl sedang dihadang tiga orang berpakaian serba hitam. Beryl tampak mencak-mencak menolak sesuatu dengan gigih. Haydar memijit pelipisnya; pemandangan itu benar-benar terlihat seperti anak kecil yang dipaksa sekolah.
“Kak, lo bawa Beryl pergi. Gue yang urus mereka.”
Aruna mengangguk, lalu memecahkan sebuah guci di dekatnya untuk memancing perhatian. “Pot bunga,” ujar Aruna sebelum berbelok arah.
Haydar segera menemukan benda yang dimaksud Aruna. Ia menutup hidung lalu menyemprotkan obat bius jenis chlorophyll dari pot bunga itu ke seluruh lorong. Di saat bersamaan, Aruna muncul dari arah lain, membekap mulut Beryl, dan menarik gadis itu lari menjauh.
Setelah merasa aman, mereka berhenti di persimpangan lorong. Beryl baru sadar ia tidak memakai alas kaki, dan tepat di depannya ada genangan air. Akibat kurang hati-hati, ia terpeleset. Aruna dengan sigap menangkap tangan Beryl, namun ia sendiri kehilangan keseimbangan.
Beryl memejamkan mata, bersiap menghantam lantai. Namun, Aruna segera melingkarkan lengannya di belakang kepala Beryl agar tidak terbentur. Saat Beryl membuka mata, ia menyadari posisi mereka sangat intim; ia berbaring di lantai dan Aruna berada tepat di atasnya. Parahnya, bibir laki-laki itu menempel sempurna di kening Beryl.
Keduanya membeku sejenak sebelum Aruna segera bangkit dan berdeham kikuk. “Sorry.”
Beryl mengangguk malu dengan pipi merona. Jantungnya terasa ingin salto, namun ia berusaha mati-matian menjaga image-nya agar tidak terlihat salah tingkah.
Tiba-tiba, Haydar muncul dari arah belakang mereka, namun seseorang memukul kepala cowok itu hingga jatuh tersungkur.
“Lari, Ber!” perintah Aruna.
“Tapi, Kak—”
“Lari, Beryl!”
Suara tegas Aruna memaksa Beryl berlari sendirian. Di tengah jalan, seseorang asing menghalangi langkahnya, namun orang itu mendadak jatuh pingsan karena dihantam seseorang.
“SA—LIM???” teriak Beryl kaget melihat Salim berdiri di sana dengan kacamata yang ia benahi.
Nahas, sebelum Salim sempat mendekat, seseorang memukul kepalanya hingga pingsan. Beryl yang hendak kabur langsung ditangkap oleh Saadan.
“AAAAAAA… ” teriak Beryl saat tubuhnya diangkat ke bahu Saadan.
“TURUNIN HIKS, KAK! GUE BISA JALAN SENDIRI! IH TURUNINN!”
“Jalan lo lelet.”
─── ・ 。゚☆: .☽ . :☆゚. ───
Saadan menurunkan Beryl ke sofa di ruang rahasia itu. Saat Beryl hendak kabur, Saadan menahan tangannya dengan kuat. “Lo nggak akan bisa buka pintu itu lagi.”
“Gue harap lo gak lupa sama apa yang gue bilang tadi. Kalo lo nggak nurut, gue akan ngelakuin yang lebih parah dari yang orang tadi lakuin ke lo. Kalo lo nurut, gue nggak akan macem-macem. Lo bisa jaga omongan gue,” ucap Saadan serius.
Beryl menghempaskan tangan Saadan dan beranjak ke dapur dengan seenaknya. Ia merasa lapar dan ingin mengumpulkan tenaga. Di dalam kulkas besar yang penuh muatan itu, Beryl mengambil sekotak susu. Setelah memastikan keamanan kemasan itu, ia menuangkan isinya ke gelas dan memberikannya pada Saadan.
“Gue mau pastiin susu ini gak ada racunnya,” ketus Beryl saat Saadan mengangkat alisnya.
─── ・ 。゚☆: .☽ . :☆゚. ───
Setelah menghabiskan roti bakarnya, Beryl menghampiri Saadan yang sedang menyalakan televisi. Ia mencoba menenangkan diri meski masih merasa terguncang. “Urusan apa?”
Saadan mengisyaratkan Beryl untuk duduk di sampingnya, lalu mengambil amplop coklat dari laci. “Tiga,” ucapnya singkat sambil menyerahkan amplop itu. Beryl mengernyit bingung.
─── ・ 。゚☆: .☽ . :☆゚. ───
“Jadi, selama ini kamu amnesia?” tanya Abian di sebuah tempat lain.
Haira mengangguk lesu. “Anak itu pasti salah paham.” Ia menghela napas panjang, merasa pusing menjelaskan keadaan itu. “Ayo, saya antar,” tawar Abian saat melihat kegusaran di wajah Haira.
─── ・ 。゚☆: .☽ . :☆゚. ───
Tangan Beryl bergetar saat melihat sebuah foto di dalam amplop itu. “I—ini siapa?”
“Menurut lo?” balas Saadan.
Foto empat orang itu sama persis dengan keluarga yang muncul dalam mimpi Beryl tadi siang. Tiba-tiba, televisi menyiarkan berita lama tentang insiden besar tanggal 2 Januari 2005.
“Jumlah korban tak selamat diperkirakan mencapai tiga ratus korban, sebagian masih dalam pencarian, dan korban selamat… ”
Beryl menatap Saadan, menuntut jawaban atas berita itu. Saadan memutar posisi duduknya menghadap Beryl sepenuhnya. “Ini yang mau gue omongin ke lo.”
— Celandine —
tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Celandine ✓
Misterio / Suspenso[Psychological Thriller | Romantic Suspense] Sejak hari terjadinya 'insiden kecil' di kantin saat itu, Beryl mendapat banyak teror aneh. Kertas clue yang selalu muncul tiba-tiba, bahkan di tempat yang tak terduga. Beberapa kali benda-benda aneh...
