Bintang-bintang di angkasa itu ingin kuminta bicara. Mohon sampaikan pada Semesta untuk tak bercanda dengan sebuah rasa.
─── ・ 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ───
Beryl melirik kedua laki-laki di belakangnya. Mereka masih menatapnya dengan pandangan dingin yang menusuk. Dengan perasaan campur aduk, sebisa mungkin Beryl menghindari kontak mata dengan keduanya.
“Skuter lo ada di garasi,” ucap Haydar memecah keheningan.
“Dan barang-barang kesayangan lo ada di meja kamar lo,” sambung Aruna datar.
“Hah?” Beryl mengerjap bingung.
Beberapa hari yang lalu, setelah pemeriksaan rutin ke dokter gigi, Beryl sempat meminta izin pada Luna untuk pulang ke rumahnya sendiri. Alasannya? Ia ingin memeriksa barang-barang kesayangannya. Beryl dan segala alasan bodohnya memang tak terpisahkan.
Tentu saja Luna tidak memberi izin. Bahkan Bi Amy memintanya untuk tetap tinggal di sana demi keamanannya.
“Alasan lo ke Bunda kemarin itu, kan?” tanya Haydar telak.
Beryl menunduk dalam. Ucapan Haydar benar adanya. Memang mulutnya seringkali tidak bisa diajak bekerja sama saat sedang terdesak. Menyebalkan.
“Bunda gak kasih izin. Bi Amy juga suruh lo di sini dulu, kan?” ulang Haydar lagi.
Beryl kembali diam. Sebenarnya ia hanya tidak ingin terlalu lama merepotkan keluarga ini, apalagi sampai melibatkan mereka lebih jauh ke dalam masalahnya yang kian rumit. Pikirannya tiba-tiba melayang pada peringatan Amara di kantin siang itu: waspadai orang asing.
Tiba-tiba Aruna bangkit dari duduknya dan melangkah mendekat. Sontak hal itu membuat Beryl membulatkan mata terkejut. “Hati-hati, Kak!” paniknya. Akhir-akhir ini Beryl memang sering membantu Aruna berlatih jalan agar cepat pulih, dan itu membuat hubungan mereka jauh lebih dekat.
Aruna menatap Beryl yang tertunduk lesu. “Lo takut tinggal di sini?”
Dengan ragu Beryl mendongak, menatap mata Aruna sesaat sebelum menggeleng pelan. Aruna pun berbalik untuk pergi, namun langkahnya tertahan saat tangan kecil Beryl refleks menahan lengannya. Aruna melirik tangan itu, lalu menatap Beryl lagi.
“Gue bisa sendiri,” ucap Aruna dingin.
Beryl tertegun. Perlahan ia melepaskan pegangannya. Ia menghela napas panjang dan berniat kembali ke kamarnya, namun baru melangkah, ia merasa lehernya tercekik.
“HAYDAR! LEPASIN KERAH GUE!”
─── ・ 。゚☆: .☽ . :☆゚. ───
“Lo gak apa-apa, Ber?”
Beryl mengangguk, lalu menatap layar ponselnya yang menampilkan wajah Kuker melalui panggilan video. “Kata Kak Saadan lo juga pingsan deket gue. Gimana bisa?” tanya Beryl to the point.
Kuker menghela napas panjang. “Tadinya gue sama Amara mau samperin lo ke perpus, tapi lo-nya udah rebahan cantik di depan pintu. Udah gitu, gue sama Amara malah ketemu setan! Cewek, baju putih, rambut panjang, berdiri di deket rak ensiklopedia.”
Beryl mengernyit, mencoba memutar kembali memorinya. Seingatnya, setelah terjatuh, ada dua orang yang menghampirinya dan bertanya apakah ia baik-baik saja. Setelah itu, semuanya menjadi gelap gulita.
“Dan lo tau ada berapa kuntilanak di perpustakaan siang tadi?” tanya Kuker lagi. “Dua!”
Beryl masih diam menyimak saat Kuker melanjutkan, “Yang satu pakai seragam sekolah, yang satunya lagi kayak cewek pucat di perpustakaan lantai satu waktu itu.”
Beryl menggembungkan pipi menahan tawa. Dua ‘kuntilanak’ yang dimaksud Kuker pastilah siswi-siswi yang menolongnya. Si cewek pucat yang ia temui sebelumnya, dan Aiko—siswi pendiam yang auranya memang sering dianggap mengerikan.
“Terus siapa yang bawa gue sama lo ke UKS?”
“Lo dibawa Kak Saadan, dan gue dibawa Kak Nanta.”
“Dibawa dalam artian?”
“Ya digendong lah, pinter! Masa diseret?” dengus Kuker, namun ekspresi wajahnya tampak aneh.
“Kenapa muka lo gitu? Bukannya lo seneng bisa deket-deket senior idaman?”
Kuker menghela napas lagi. “Lo tau berita di kalangan senior gak? Kabar burungnya, Kak Nanta itu psikopat.”
Beryl terdiam sejenak sebelum berdecak. “Terus lo percaya?”
“Ya enggak juga, sih. Tapi kalau iya, berarti bener kata orang-orang: kebanyakan psikopat di film itu emang ganteng-ganteng.”
“Benerin otak bisa di bengkel, Kak. Mari saya antar,” canda Beryl gemas. Mereka pun tertawa bersama.
Obrolan berlanjut hingga Beryl teringat sesuatu. “Ngomong-ngomong, mereka anak olimpiade apa?”
“Kurang tahu, tapi minggu lalu mereka juara umum di Biologi sama IT. Meskipun partner, mereka hebat di banyak bidang.”
“Ya udah, gue ngantuk. Mau tidur.”
“Eh, bentar!” seru Kuker cepat saat Beryl hendak mematikan sambungan. “Itu lo lagi di mana? Kok bukan kayak kamar lo, ya?”
Beryl tersentak, mencoba tetap terlihat tenang. “Di kamar gue lah! Udah ah, gue ngantuk.”
“Tapi itu dekorasinya—”
“Besok aja!” potong Beryl sambil berpura-pura menguap lebar. Akhirnya Kuker pun menyerah.
Beryl meletakkan ponselnya dan berjalan menuju jendela kamar tamu rumah Luna yang kini menjadi tempat tinggal sementaranya. Suasana malam di sini terasa lebih hidup dibanding kompleks rumahnya yang sepi.
Gadis berkawat gigi itu menghela napas. Sepertinya Aruna dan Haydar benar-benar marah padanya soal keinginan pulangnya tadi. Tapi kenapa? Kenapa mereka harus semarah itu hanya karena ia ingin kembali ke rumahnya sendiri?
Beryl menutup gorden dan masuk ke dalam selimut, berharap esok hari teka-teki ini sedikit lebih masuk akal.
— Celandine —
tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Celandine ✓
Mystery / Thriller[Psychological Thriller | Romantic Suspense] Sejak hari terjadinya 'insiden kecil' di kantin saat itu, Beryl mendapat banyak teror aneh. Kertas clue yang selalu muncul tiba-tiba, bahkan di tempat yang tak terduga. Beberapa kali benda-benda aneh...
