Bab 12 : Tiga Minggu Tersisa

721 86 5
                                        

Susah ya ngomong sama orang yang suka main teka-teki.

─── ・ 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ───

    “Itu artinya, masih ada tiga clue lagi yang akan diberikan ke kamu.”


    Beryl menoleh menatap Luna yang sedang merangkulkan tangan ke bahunya dengan hangat. Mereka tengah berjalan beriringan menuju area parkir rumah sakit. “Tapi kenapa nama pengirimnya berbeda-beda, Tante?”

    “Mungkin nama-nama samaran itu mempunyai arti yang sama,” sahut Luna setelah sempat terdiam beberapa saat untuk berpikir.

    “Tinggal berapa lama waktu lo?” tanya Aruna tiba-tiba.

    Beryl mencoba mengingat kembali kapan sticky note pertama mendarat di tangannya. “Tiga minggu,” jawabnya pelan sambil menatap balik manik mata Aruna.

    “Jangan-jangan dari musuh lo?” tebak Haydar yang sedang fokus mendorong kursi roda Aruna. Beryl dan Luna hanya menanggapi ucapan cowok itu dengan tatapan datar.

    “Sudah, tidak usah dipedulikan omongan Haydar.” Luna mencoba menenangkan. ”Beryl, tadi Bi Amy bilang sudah menghubungi Mamamu,” lanjutnya dengan nada hati-hati saat mereka sudah berada di dalam mobil.

    Bi Amy memang sudah pamit pulang lebih dulu. Selain karena jam kerjanya di rumah Beryl hanya sampai siang, ia juga harus bekerja di tempat lain. Beryl hanya diam, menunggu kelanjutan kalimat dari wanita yang kini berada di balik kemudi itu.

    “Tapi teleponnya gak diangkat.”

    Beryl terdiam seketika.

    Keheningan Beryl membuat suasana di dalam mobil mendadak canggung. Luna melirik sedih ke arah kursi belakang melalui spion tengah. Sementara itu, Haydar yang tadinya asyik bermain gim diam-diam melakukan pause dan ikut melirik Beryl lewat spion kiri.

    Beryl yang duduk di sebelah Aruna hanya memalingkan wajah, menatap keluar jendela yang kini mulai dibasahi rintik hujan.

─── ・ 。゚☆: .☽ . :☆゚. ───

    Sudah lebih dari setengah jam Beryl terpaku mengamati deretan sticky notes yang tersebar di atas tempat tidurnya. Namun, tak satu pun petunjuk yang berhasil ia pecahkan.

    Pandangannya jatuh pada clue yang dulu ia temukan di dalam loker sekolah. Ada satu hal yang mengganjal di pikirannya: bagaimana bisa si pengirim teka-teki ini membuka lokernya? Seingatnya, ia tidak pernah membocorkan kata sandi loker itu kepada siapa pun.

    Tak terkecuali kepada Amara dan Kuker.

    Beryl berpikir keras. Apakah ini berarti si pengirim adalah salah satu siswa di sekolahnya? Bagaimana orang itu bisa tahu? Apakah dia meretas data sekolah, atau diam-diam mengintainya saat ia sedang membuka loker? Tiba-tiba, ia teringat pertanyaan Luna saat di rumah sakit tadi.

    “Dia pernah sakiti kamu secara tidak langsung? Seperti meneror dengan cara yang lain? Dengan sesuatu yang bisa menyakiti kamu misalnya? Menakutimu?”

    Beryl menghela napas panjang.

    Tatapannya beralih ke luar jendela kamar yang menghadap langsung ke pagar depan. Ia mengernyit saat mendapati sesosok motor yang tampak familiar berhenti di depan rumahnya. Gadis berkawat gigi itu segera beranjak keluar dan membukakan pagar.

    “Salim?”

    Salim menyunggingkan senyum. “Hai.”

    “Ehm… duduk di teras aja ya?” tawar Beryl. Salim mengangguk setuju. “Gue ambilin minum bentar.”

    Beryl masuk ke dalam rumah dan kembali dengan dua botol minuman dingin. Ia mempersilakan Salim duduk di kursi teras.

    “Thanks.” Salim menenggak minumannya cepat. Ia kemudian meletakkan sebuah kotak tupperware bening di atas meja. “Buat lo. Cepet sembuh ya.”

    Beryl membuka kotak itu dan terpaku melihat isinya. Sebuah cake manis dengan hiasan krim berbentuk karakter kartun yang sangat lucu. “Lucu banget. Ini lo yang buat?”

    Salim terkekeh pelan. “Justru kalau gue yang buat, gue gak akan berani ngasih ke lo.”

    Beryl pun ikut tergelak. “Makasih banyak, Lim.” Ia kembali menatap kagum pada kue di depannya.

    “Ternyata bener keyword-nya,” gumam Salim sangat pelan, hampir tak terdengar oleh telinga Beryl.

    “Apa, Lim?”

    Salim menggeleng cepat. “Gue denger hari ini lo gak masuk sekolah. Lo sakit?”

    “Gue cuma butuh istirahat.” Beryl menatap Salim balik dengan heran. “Lo sendiri gak masuk sekolah? Sakit juga?”

    “Gue ada acara keluarga.” Beryl manggut-manggut mengerti.

    “Tadi Gusti bilang ada pembagian kelompok Biologi. Anak-anak yang gak masuk hari ini otomatis jadi satu kelompok. Gue, lo, Amara, sama Kuker. Kita satu tim,” ujar Salim menjelaskan.

    Beryl tersentak kaget. “Amara sama Kuker juga gak masuk sekolah?” Salim merespons dengan anggukan mantap.

    “Ya udah, gue pamit dulu ya, udah mau Maghrib. Lo istirahat gih biar cepet pulih.”

    Beryl tersenyum tulus. “Makasih ya, Lim.”

    “Salim?” panggil Beryl saat cowok itu hendak melangkah pergi. Salim berbalik. Beryl berdeham, menimbang-nimbang kalimatnya. “Hati-hati.”

    Akhirnya hanya kalimat itu yang terlontar. Cowok berkacamata itu sempat menaikkan alisnya heran, namun akhirnya ia mengangguk dan berlalu pergi.

    Keyword.

    Kata itu terus berputar-putar di kepala Beryl, seolah menjadi kepingan puzzle yang tak kunjung menemukan tempatnya.

— Celandine —
tbc

Celandine ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang