Bab 22 : Plester Karakter yang Kembali

578 71 3
                                        

Terkadang, mencurigai orang lain memang lebih mudah daripada mencari tahu kebenarannya.

─── ・ 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ───

    “Dari Bunda.”

    Beryl mengernyit heran. Ini adalah kali pertama Aruna mengajaknya bicara setelah aksi tutup mulut selama dua hari terakhir. Tatapannya beralih pada lipatan kertas di atas meja makan. Itu adalah pesan singkat dari Luna yang meminta Beryl berangkat sekolah bersama Haydar, karena pagi ini Luna ada urusan mendadak.

    “Gue gak mau kalau buku kasus gue ternodai cuma gara-gara lo yang lama,” ujar Haydar ketus seraya menarik paksa ransel Beryl agar gadis itu segera bergerak.

    Jam sudah menunjukkan pukul 06.30. Padahal biasanya Haydar sudah berangkat sejak pukul 06.00. Beruntung sekolah mereka tidak terlalu jauh. Di tengah perjalanan, ponsel Beryl bergetar—sebuah panggilan masuk.

    “Halo, Ma?”

    Haydar melirik sekilas dari balik kemudi sebelum kembali fokus ke jalanan.

    “Iya, Ma. Beryl baik. Mama sendiri gimana?” Beryl tersenyum kecil, menatap pemandangan yang berlari di luar jendela. “Ma… Beryl mau cerita sesuatu.”

    “Sebenarnya dua minggu ini… ”

    Tut tut tut tut…

    Beryl mengerutkan kening, menjauhkan ponsel dari telinganya. “Ma? Halo? Kok mati sih?!”

    Selang beberapa detik, ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan masuk:

    ‘Maaf, Sayang. Sinyal di sini lagi gangguan. Kamu mau cerita apa?’

    Beryl menghela napas panjang. Jemarinya mulai lincah mengetikkan penjelasan di layar sebelum menekan tombol kirim.

    “Lo turun di mana?” tanya Haydar saat mereka memasuki area sekolah Beryl.

    “Di sini aja,” sahut Beryl lesu.

    Haydar menepikan mobilnya ke bahu jalan. “Kusut amat itu muka. Udah kayak kain lap yang gak dicuci seminggu,” celetuknya yang langsung dihadiahi pelototan tajam. Haydar tertawa, tangannya terulur hendak menjitak kepala Beryl, namun gadis itu lebih dulu menghindar.

    “Btw, lusa lo ada acara di sekolah, kan?”

    Beryl yang baru saja hendak membuka pintu mobil langsung mengurungkan niatnya. Ia memicingkan mata curiga. “Lo tahu dari mana?”

    “Lo bisa gak sih sopan dikit sama yang lebih tua?”

    “Oh iya, lo kan emang udah tua.”

    “Dasar bocil gak ada akhlak,” gerutu Haydar.

    Beryl mengibaskan tangan tidak peduli. “Lo tahu dari mana?” ulangnya menuntut jawaban.

    Haydar berdecak. “Lo kira gue gak punya temen satu sekolah sama lo? Lo kira gue—eh, Kawat Gigi, hidung lo kok merah? Lo nangis?”

    “Gue flu.”

    Haydar membuka dashboard mobil dan mengambil saputangan serta sekotak tisu. “Nih.”

    “Kok lo jadi baik? Kesambet ya lo?” tanya Beryl sangsi. Padahal di awal perkenalan, Beryl adalah sosok yang irit bicara. Haydar tidak menyangka sifat asli gadis ini ternyata sangat menguji kesabaran.

    “Ikhlas gak nih?” tanya Beryl memastikan.

    Haydar mengangguk santai. “Lagian itu juga bukan punya gue. Tisunya punya Bunda, saputangannya punya Kak Aruna,” sambungnya yang membuat Beryl menatapnya tak percaya.

    “Dasar kere.”

─── ・ 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ───

    “Lo kenapa senyum-senyum terus?”

    Kuker menoleh dan justru semakin melebarkan senyumnya. “Gak apa-apa.”

    Beryl dan Amara saling bertukar pandang penuh keheranan. Seharian ini, mulai dari jam sekolah sampai sekarang mereka berada di mall, Kuker terus-menerus tersenyum sendiri seperti orang yang sedang jatuh cinta atau… kehilangan kewarasan.

    “Menurut lo ini bakalan dibutuhin gak?” Kuker mengangkat sebuah raket badminton.

    “Raket goodminton buat apa?” tanya Beryl asal.

    “Badminton,” ralat Amara sabar. Memang hanya Amara yang paling waras di sini.

    “Kali aja gabut pas menginap di sekolah nanti,” balas Kuker. Beryl hanya memijit keningnya dan berjalan menjauh.

    Setelah membeli perlengkapan untuk acara menginap di sekolah dua hari ke depan, mereka mampir ke sebuah kafe. Kuker izin ke kamar mandi, meninggalkan Beryl dan Amara berdua di meja.

    “Dek.” Seseorang menepuk bahu Beryl. Seorang perempuan muda tersenyum ramah seraya mengulurkan sebuah gantungan kunci kucing. “Ini punya kamu, ya?”

    Beryl mengecek tasnya dan mengangguk. “Iya, Kak. Terima kasih.”

    “Tadi jatuh dan ada yang nemuin.”

    “Siapa, Kak?”

    “Orangnya di depan sana.” Perempuan itu menunjuk ke arah tangga kafe menuju lantai dasar.

    Beryl segera berlari menuju tangga tersebut, berharap bisa berterima kasih pada sang penemu. Namun nihil, tidak ada siapa-siapa yang mencurigakan di sana. Pandangan Beryl kemudian jatuh pada benda kecil di salah satu anak tangga.

    Dahi Beryl berkerut. Di tangannya kini ada sebuah plester karakter yang sangat ia kenal. Itu adalah plester miliknya yang ia berikan pada siswa misterius di perpustakaan waktu itu. Plester itu masih terbungkus rapi, hanya ada sobekan kecil di tepinya.

    Itu berarti plester pasangannya sudah digunakan oleh siswa itu. Tapi kenapa benda ini bisa ada di sini?

    “Ga mungkin… ” lirih Beryl.

— Celandine —
tbc

Celandine ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang