Musuh yang nyata jauh lebih baik dibanding teman yang palsu.
─── ・ 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ───
“Lo harus jadi milik gue, Ber.”
Beryl mendongak, menatap Saadan dengan tatapan tak percaya yang berbaur dengan kengerian. Bagaimana mungkin seseorang yang selama ini dipuja sebagai siswa teladan dan idaman di sekolahnya bisa memiliki sisi gelap sebrutal ini? Kepintarannya seolah telah menyeberangi garis kewarasan.
Saadan berbalik, menatap Nanta dengan senyum provokatif. Ia melirik tangan Nanta yang mengepal hebat, urat-uratnya menonjol menahan emosi yang meluap. “Silakan kalau lo mau menodai mata adek lo sendiri. Gue sih gak masalah.”
Dunia Beryl serasa berputar. Adik? Nanta? Ia adalah anak tunggal. Haira selalu menegaskan bahwa mereka tidak memiliki kerabat lagi di Jakarta. Lantas, atas dasar apa Saadan melontarkan klaim tersebut?
Nanta membeku, tatapannya beralih pada Beryl. Ada keraguan besar di matanya; ia seolah tak ingin meledakkan kemarahannya di hadapan gadis itu.
“Nan, gue punya saran buat lo.”
Nanta menoleh tajam.
“Pergi dari sini dan biarin gue yang urus ini. Gue janji gak akan sakiti dia. Lo bisa pegang omongan gue.”
Tanpa menunggu jawaban, Saadan tiba-tiba bergerak menutup kedua mata Beryl dengan telapak tangannya yang dingin.
“Apa yang lo lakuin!?” bentak Beryl emosi. Ia meronta, berusaha melepaskan bekapan tangan Saadan yang menghalangi pandangannya.
“Sstt… lo mau kakak lo selamat, 'kan?” bisik Saadan pelan, namun mampu menghentikan gerakan Beryl seketika.
Kakak? Lagi-lagi kata itu.
Brak!
Pintu ruangan dihantam hingga terbuka lebar. Saadan tersenyum samar di balik punggung Beryl. “Seseorang yang lo harapkan.” Ia pun menyingkirkan tangannya dari mata Beryl.
Beryl mengerjap. Sosok yang kini berdiri di hadapannya bukan lagi Arkananta, melainkan sosok yang sangat ia kenali.
“Kak Aruna… ”
Bugh!
Tanpa basa-basi, Aruna melayangkan bogem mentah yang membuat Saadan tersungkur. Saadan tidak tinggal diam; ia bangkit dan membalas dengan hantaman yang sama kerasnya. Beryl hanya bisa meringis ketakutan melihat perkelahian brutal di depannya. Pukulan bertubi-tubi mendarat, darah mulai mengalir dari hidung keduanya, menodai lantai ruangan yang sunyi itu.
Brak!
Pintu kembali terbuka dengan keras untuk kedua kalinya. Sosok baru muncul dan terpaku melihat pemandangan berdarah di hadapannya.
“Dan, udah!”
Haydar berlari masuk, menarik paksa Saadan agar menjauh dari Aruna. “Maksud lo apa sih, Bang?!”
“Apa untungnya buat lo? Apa untungnya buat Arkananta? Apa untungnya buat kalian?” cecar Haydar panik.
Aruna menyeka darah di wajahnya, menatap Haydar dan Saadan dengan tatapan muak. “Seharusnya lo tanya itu ke temen lo, Dar.”
Haydar melirik Saadan dengan bingung. “Saadan?”
“Justru Saadan yang selama ini jaga Beryl dari lo dan Arkananta, Bang,” bela Haydar yakin.
Beryl masih bungkam, terjebak di antara tumpang tindih pengakuan yang membingungkan. Aruna menyugar rambutnya yang berantakan, lalu tersenyum tipis—sebuah senyum yang nampak dingin.
“Sebagai kakak, gue udah pernah peringatkan lo buat hati-hati,” balas Aruna enteng.
Keheningan mencekam menyergap ruangan itu. Di tengah suasana yang tegang, tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan yang santai.
─── ・ 。゚☆: .☽ . :☆゚. ───
Haira berlari menyusuri koridor rumah sakit dengan napas memburu. Ia menerobos masuk ke ruang praktik seorang dokter spesialis tanpa permisi.
“H-Haira? Ka-kamuㅡ”
“Abian.”
“Kamu masih simpan surat itu?” tanya Haira dengan nada panik yang tak bisa disembunyikan.
Dokter bernama Abian itu mengernyit sejenak sebelum akhirnya mengangguk paham. “Sebentar.” Ia membuka brankas pribadinya, mengeluarkan sebuah amplop hitam misterius, dan menyerahkannya kepada Haira.
Haira menggenggam amplop itu erat, sebuah senyum tipis terukir di wajahnya. “Terima kasih,” ucapnya singkat sebelum berbalik pergi.
“Apa yang terjadi?”
Langkah Haira terhenti seketika. Tangannya membeku di atas gagang pintu. Ia terdiam, mematung di tempatnya.
─── ・ 。゚☆: .☽ . :☆゚. ───
Pandangan semua orang tertuju pada Saadan. Tepuk tangannya kini berubah menjadi tawa yang terdengar mengerikan di telinga. Cowok itu mendekat ke arah Beryl, merapikan rambut gadis itu yang sedikit berantakan dengan gerakan posesif.
“Lucu juga liat kalian saling menyalahkan,” ucapnya sambil berdecak.
“Maksud lo, Dan?” tanya Haydar dengan suara bergetar.
Saadan menoleh pada Haydar, tatapannya penuh penghinaan. “Haydar… Haydar… Gampang banget ya lo dibegoin.” Ia terkekeh. “Tapi thanks atas kerjasamanya. Dengan adanya lo yang berpihak ke gue, itu mempermudah tujuan gue selama ini.”
Haydar mematung. Kenyataan itu menghantamnya seperti godam. Lidahnya kelu saat ia menatap Saadan, lalu Aruna, dan berakhir pada Beryl yang tampak sangat rapuh di tengah kekacauan ini.
“Jadi selama ini lo… ” desis Haydar tajam.
Saadan hanya mengangkat kedua alisnya. Senyum mengejek tersungging di bibirnya, menandakan kemenangan yang mutlak.
— Celandine —
tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Celandine ✓
Misteri / Thriller[Psychological Thriller | Romantic Suspense] Sejak hari terjadinya 'insiden kecil' di kantin saat itu, Beryl mendapat banyak teror aneh. Kertas clue yang selalu muncul tiba-tiba, bahkan di tempat yang tak terduga. Beberapa kali benda-benda aneh...
