Jangankan bisa mengerti orang lain, mengerti diri sendiri saja masih sering kesulitan.
─── ・ 。゚☆: .☽ . :☆゚. ───
“Lo kenapa lagi, sih?”
“Kusut amat kayak kanebo kering.”
Beryl menatap Kuker dengan pandangan datar. “Bukannya kanebo kering itu kaku?”
Kuker tertawa renyah, tidak peduli pada koreksi teknis Beryl. “Gara-gara ini?” tanyanya sambil menunjuk selembar kertas hasil ulangan di atas meja. Gadis dengan kerudung segi empat berwarna baby blue itu menggelengkan kepala beberapa kali. “Nilai gue bahkan lebih rendah dari lo, Ber.”
Beryl mendengkus pelan, menarik kertas hasil ulangan Fisikanya, lalu menjejalkannya ke dalam tas tanpa minat. “Gue mana pernah peduli sama angka-angka itu?”
Kuker manggut-manggut. Benar juga, sejak kapan Beryl ambil pusing soal nilai? Gadis itu kemudian merangkul bahu Beryl dan Amara, menarik mereka keluar kelas dengan semangat. “Mari ngantin!”
Sambil berjalan, Kuker melirik Beryl dengan raut kesal. “Lo banyakan mikir apa sih sampe sakit dua hari? Baru aja Selasa masuk, eh kemarin gak masuk lagi. Untung tugas kelompok Biologi kemarin udah selesai.”
Beryl menggaruk alisnya yang tidak gatal. Ucapan Kuker ada benarnya. Untung saja dua hari yang lalu—tepatnya sebelum teror boneka berdarah itu meruntuhkan mentalnya—ia sempat menyelesaikan tugas kelompok bersama Amara, Kuker, dan Salim di sekolah.
“Oh iya, Ber. Emangnya lo gak ada niatan buka hati buat Fisika? Lo gak mau lanjut jadi dokter?” tanya Kuker tiba-tiba.
Beryl menatap kedua sahabatnya bergantian, lalu berakhir pada Kuker. “Lo tau kenapa gue belum bisa buka hati buat Fisika?”
“Kenapa?”
Beryl tersenyum tipis. “Karena hati gue cuma terbuka buat satu orang.”
Kuker berdecak sebal. Sesekali matanya melirik genit pada kakak kelas yang berpapasan dengan mereka. Dasar pemburu cogan. Pandangannya kembali tertuju pada Beryl. “Gini nih dampak kelamaan jadi bucinnya doi yang pura-pura gak peka. Jadi sedih gue denger curhatan hati lo.”
Dasar tidak tau diri, batin Beryl.
“Besok-besok buat sinetron deh: Catatan Hati Seorang Bucin dari Doi yang Pura-Pura Tidak Peka.”
“Itu judul sinetron apa daftar tunggakan uang kas lo?” sahut Beryl telak.
Kuker dan Beryl akhirnya sama-sama tergelak. Berbeda dengan Amara yang sedari tadi hanya diam menyimak; gadis itu hanya menggelengkan kepala heran. Sepertinya memang hanya Amara yang paling waras di antara mereka bertiga.
“Duduk di sini aja.” Mereka memilih bangku kantin yang sedang kosong.
“Biar gue yang pesenin. Kalian mau makan apa?” tanya Kuker.
“Gue kayak biasa aja,” jawab Amara kalem.
Kuker beralih menatap Beryl. Gadis itu sudah menenggelamkan wajah ke lipatan lengan di atas meja. “Lo gimana, Ber?” Beryl hanya menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk, lalu berganti menunjukkan ibu jarinya saja.
“Itu jempol sama telunjuk maksudnya apa coba,” cibir Kuker sebelum berlalu. Meskipun mengomel, ia tetap tahu apa pesanan favorit sahabatnya itu.
Di balik lipatan tangannya, Beryl terkekeh pelan. Namun, tiba-tiba ia teringat sesuatu yang mengganjal. Ia mengangkat wajahnya dan memandang Amara dengan ragu.
“Mar, lo pernah denger ada kasus teror di sekolah ini?” tanya Beryl lirih, mengantisipasi agar suaranya tidak bocor ke telinga siswa lain di kantin.
Amara menoleh pelan. “Teror berantai?”
Beryl menggeleng. “Enggak, gak pakai rantai.”
Amara menghela napas. Untung saja yang diajak bicara adalah Amara; jika itu Kuker, pasti sudah berakhir dengan adu mulut. Gadis itu meletakkan ponselnya ke meja. “Pelaku teror itu gak pernah jauh dari targetnya.”
Sejenak Beryl terdiam. Mungkin ini kesempatannya untuk menyelidiki Amara. Siapa tahu ia punya bakat jadi detektif. “Seandainya gue yang jadi target, siapa pihak pertama yang harus gue curigai?”
“Orang-orang terdekat lo… dan orang-orang yang mencoba mendekat ke lo.”
Beryl mengernyit. “Orang-orang yang mencoba deketin gue? Orang asing?” Amara mengangguk tenang.
“Itu artinya gue boleh curiga sama alien?” canda Beryl seraya tertawa garing. Amara hanya menghela napas panjang melihat ketidakseriusan sahabatnya itu.
“Orang terdekat itu… termasuk sahabat?” tanya Beryl lagi, kali ini dengan nada yang lebih serius.
Amara mengangguk tanpa ragu. “Lo boleh curiga sama gue.”
Beryl menatap Amara dengan bingung. Apakah jawaban itu sebuah pengakuan atau sekadar teori? “Kuker?” lanjut Beryl.
Kali ini Amara tidak mengangguk ataupun menggeleng. Ia justru menyunggingkan senyum tipis yang sulit diartikan.
“Lo harus lebih peka sama sekitar lo, Ber.”
Beryl terpaku. Maksud lo apa, Mar?
— Celandine —
tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Celandine ✓
Mystery / Thriller[Psychological Thriller | Romantic Suspense] Sejak hari terjadinya 'insiden kecil' di kantin saat itu, Beryl mendapat banyak teror aneh. Kertas clue yang selalu muncul tiba-tiba, bahkan di tempat yang tak terduga. Beberapa kali benda-benda aneh...
