Bab 24 : Inisial di Antara Bintang

512 69 4
                                        

Pada dasarnya, bintang tak pernah meninggalkan langit malam, sekalipun langit malam telah jatuh cinta pada sang Bulan.

─── ・ 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ───

    Beryl memukul pelan bahu Salim dengan botol obat di tangannya. Masa bodoh jika cowok itu adalah ketua kelas. “Itu tadi siapa? Kak siapa yang ada di UKS?”

    Salim hanya terkekeh pelan sembari membenahi letak kacamatanya. “Sebenernya gue juga gak tahu.”

    “Terus ngapain lo ajak gue ngumpet segala?”

    Belum sempat Salim menjawab, tiba-tiba sebuah gebrakan keras mendarat di atas meja tempat mereka bersembunyi. Salim dan Beryl terperanjat bersamaan. Dengan perasaan waswas, mereka akhirnya merangkak keluar dari bawah sana.

    “Astagfirullah!”

    “Salim? Beryl?”

    Gusti, salah satu sahabat Salim, menatap keduanya dengan pandangan menyelidik. “Lo berdua ngapain duaan di situ?” Ia melongok ke kolong meja yang gelap. “Di bawah meja, gelap-gelapan, berduaan lagi. Lo berdua gak lagi macam-macam, 'kan? Atau kalian lagi—”

    Sebelum Gusti sempat menyelesaikan imajinasi liarnya, Salim sudah lebih dulu menggeplak kepala cowok berbadan bongsor itu.

    “Kita lagi sembunyi dari patroli senior,” ujar Salim datar.

    “Lo berdua pacaran, ya?” goda Gusti lagi, tidak menyerah. Salim dan Beryl serempak menggelengkan kepala. “Ah, masa? Gak percaya gue.”

    Beryl mendengkus kesal dan segera beranjak pergi meninggalkan UKS. Ia memutuskan untuk kembali ke lapangan untuk membantu teman-teman yang lain.

    “Lim? Lo suka sama Beryl, ya?” tanya Gusti begitu Beryl menghilang dari pandangan. Salim hanya memutar bola mata malas. “Nih, obat lo.” Salim melempar sebotol obat yang ditempeli kertas catatan.

    Gusti menangkapnya dan mengernyit bingung. “Obat penambah darah? Ini Salim cari obat buat gue apa buat Beryl, sih?” Gusti mendengus dan mengembalikan obat itu ke kotak semula karena merasa salah sasaran.

─── ・ 。゚☆: .☽ . :☆゚. ───

    Malam harinya, setelah makan malam bersama, Beryl dan keempat sahabatnya memilih duduk lesehan di tepi lapangan. Mereka menatap bentangan langit malam yang dihiasi satu bulan terang dan ribuan bintang. Suasana sekolah sangat ramai; ada yang mengantre mandi, ada yang sekadar rebahan di tenda untuk mengumpulkan energi buat kegiatan esok hari.

    Kegiatan menginap ini merupakan agenda tahunan jurusan IPA. Selain untuk menjalin keakraban, acara ini juga menjadi sarana pelepas penat dari rumus-rumus yang membosankan.

    “Gusti, ih! Balikin jajan gue!” seru Kuker saat camilannya direbut paksa oleh Gusti. Gusti hanya menjulurkan lidah mengejek. “Minta Amara atau Salim saja tuh, jajan mereka banyak.”

    “Beryl?” Sebuah suara lembut memanggil. Beryl mendongak. Di depannya berdiri dua kakak kelas, Bunga dan Mawar. Bunga adalah kakak sepupu Ataya, mantan sahabat dekat Beryl. Gadis berambut panjang itu mengulurkan kantung plastik berukuran besar. “Buat lo.”

    Beryl menunjuk dirinya sendiri dengan bingung. “Buat aku, Kak?”

    Bunga mengangguk. “Dari Ataya. Barusan dia ke sini dan titipin ini buat lo. Katanya, lo sering lupa makan.”

    “Lupa makan apanya? Sehari saja dia makan bisa enam kali,” bisik Kuker pada Amara, yang hanya dibalas anggukan setuju oleh Amara.

    “Makasih ya, Kak,” ucap Beryl pelan. Setelah Bunga pamit, Kuker langsung beraksi. “Katanya sudah gak ada hubungan, kok masih dapat perhatian?” goda Kuker seraya memainkan kipas portabelnya. “Sahabatan yang pakai perasaan nih, ye.”

    Beryl hanya mendengkus. “Ataya bukan pacar gue, Kuk.”

    “Loh, lo sudah punya pacar, Ber?” tanya Gusti heboh. Ia melirik Salim dan Beryl bergantian dengan tatapan penuh arti. “Gue kira lo sama Salim... ”

    “Gak ada hubungan apa-apa!” sahut Beryl dan Salim bersamaan.

    Amara tiba-tiba bersuara di tengah perdebatan mereka. “Gue pernah dengar satu kutipan menarik.” Semua pasang mata menatap Amara penasaran. Jarang-jarang Amara memulai pembicaraan panjang.

    “Coba cari tempat dengan banyak bintang. Tarik garis di antara bintang-bintang itu sampai membentuk inisial nama orang yang kamu sukai. Katanya, nanti orang itu akan menyukaimu balik.”

    “Baru kali ini Amara ngomong sepanjang itu,” gumam Gusti kagum.

    Kuker langsung bersemangat. Ia mengangkat telunjuknya ke langit, menggambar sebuah huruf. “S?” tebak Beryl.

    “Demi apa pun gue gak nulis huruf S!” bantah Kuker gemas.

    “R?” sambung Gusti. Kuker hanya tersenyum misterius. “Sekarang giliran lo, Mar.”

    Amara menggerakkan jemarinya pelan. “D?” tanya Kuker. “Bukan, itu tadi P,” sanggah Gusti. “Kayaknya itu K deh,” timpal Beryl. Amara hanya menggeleng pelan menanggapi keributan mereka.

    Kini giliran Salim. Di bawah ancaman Gusti, Salim akhirnya menggerakkan telunjuknya ke angkasa. “Huruf apaan itu, Lim? Lo nulis huruf Jepang?” tanya Kuker bingung.

    “Emang,” jawab Salim kalem. “Pantas gak ada di alfabet!” seru Gusti kesal.

    Terakhir, giliran Beryl. Gadis berkawat gigi itu meletakkan camilannya dan mulai menggambar sebuah huruf dengan telunjuknya di antara kerlip bintang. Ia sengaja sedikit membedakan cara penulisannya agar tidak mudah ditebak.

    “Lo bisa baca huruf gue, Mar?” tanya Beryl iseng.

    Jawaban yang keluar dari bibir Amara benar-benar di luar dugaan. Gadis itu tersenyum tipis dan mengangguk pasti. Beryl menatapnya tak percaya.

    “Lo tahu?! Serius, lo tahu itu huruf apa?!”

— Celandine —
tbc

Celandine ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang