And I've hurt myself by hurting you.
Sorry.
─── ・ 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ───
“Nyokap lo, wanita simpanan bokap gue. So, gimana kalau lo yang jadi simpanan gue?”
PLASHH!!
Satu tamparan keras mendarat sempurna di pipi kiri Saadan. Beryl menggeram marah, kedua tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memucat karena emosi yang meluap.
Beryl mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Saadan. “Jangan berani ngomong hal sehina itu!!”
Saadan menyentuh pipinya yang berdenyut nyeri, lalu tersenyum sinis. “Lo bahkan tinggal satu atap sama dua cowok asing, kalau lo lupa.”
“Siaㅡ”
Ucapan Beryl terputus saat Saadan menarik tangannya secara kasar hingga ia terjatuh kembali ke sofa. Saadan segera mengungkung tubuh gadis itu di antara kedua lengannya. Beryl meronta, berusaha menyingkirkan tangan Saadan yang bertumpu di sisi kepalanya.
“Minggir!”
Saadan menggigit pipi bagian dalam, menahan sisa rasa sakit akibat tamparan tadi. “Perempuan gak boleh ngomong kasar,” ujarnya sambil menggeleng pelan.
“Minggir, Kak!”
“Diem. Diem dan dengerin gue. Gue udah kasih waktu lo satu bulan buat pecahin teka-tekinya. Tapi, lo gak manfaatin waktu itu sebaik mungkin.”
Beryl mengelak dengan napas memburu. “Jawaban dari riddle itu Kak Arkananta! Bukan lo!”
Saadan manggut-manggut tenang. “Kalau lo udah tau jawaban riddle itu Arkananta, kenapa lo gak selesaiin langsung sama dia? Kenapa lo justru nunggu sampai waktu lo habis?”
Beryl terdiam, matanya yang basah menatap Saadan dengan penuh kebingungan. “Apa akan berubah kalau gue selesaiin sama kak Nanta?”
“Seharusnya iya,” jawab Saadan pendek.
“Kenapa?”
“Karena dia sahabat gue. Sekaligus kakak lo,” lanjut cowok itu, membuat kening Beryl semakin berkerut.
“Seharusnya lo bisa dengan mudah ngerti maksud dari clue itu. Itu cuma clue anak teka.”
“Berarti lo anak teka?” tanya Beryl polos.
Saadan tertawa rendah. “Lo lucu banget sih. Gak heran kalau mereka sampai sesayang itu sama lo.”
“Mereka siapa?”
Saadan hanya menggeleng, lalu melirik jam tangannya. “Sekarang gue kasih kesempatan buat lo. Apapun yang lo tanyakan, akan gue jawab. Oh ya, kecuali tentang si orang jubah item tadi. Sepuluh menit dari sekarang.”
Beryl mendorong dada Saadan dengan telunjuknya, berusaha menciptakan jarak meski usahanya minim. “Minggir dulu! Gue gak akan kabur.”
Saadan justru tertawa tanpa beban. “Gue lepasin, tapi kesempatan lo juga akan hilang.”
─── ・ 。゚☆: .☽ . :☆゚. ───
“Astaga, Amara. Kok lo gak bisa panik, sih!?”
Amara menatap sahabatnya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Sejak tadi, Kuker terus berjalan mondar-mandir sambil mengacak jilbab pashminanya karena frustasi.
“Dia akan baik-baik saja.”
“Berapa persen kemungkinannya?” tanya Kuker serius.
Amara terdiam sejenak. “Satu persen,” balasnya tanpa dosa.
Kuker ternganga, matanya membelalak kaget. “Astagfirullah, Amara. Lo tuh Amara sahabat kita bukan, sih?” Ia kembali mengacak rambutnya, merasa tidak habis pikir dengan ketenangan Amara yang tidak masuk akal itu.
“Lo mau selamatin Beryl?” tanya Amara tiba-tiba.
“Maksud lo?”
“Gue punya cara.”
Kuker segera mendekat saat Amara memberi isyarat untuk berbisik. Setelah mendengar rencana itu, Kuker membulatkan matanya dan menatap Amara dengan pandangan aneh. Seriusan lo, Mar??
─── ・ 。゚☆: .☽ . :☆゚. ───
Beryl menyandarkan punggungnya, mencoba menjauh sejauh mungkin dari Saadan. “Di mana Kak Aruna, kak Nanta, Haydar, Salim, Kuker, sama Amara?”
“Mereka aman.”
“Awas kalau mereka sampai kenapa-kenapa,” gumam Beryl sinis.
“Kenapa lo teror gue?”
“Gue cuma pengin kasih waktu ke lo.”
“Tapi semua clue yang lo kasih itu justru buang-buang waktu gue,” balas Beryl ketus.
“Gimana bisa lo tau tentang hidup gue?”
“Gue bahkan bisa tau data-data rahasia sekolah.” Saadan menjawab dengan nada meremehkan.
Beryl menatap televisi yang masih menayangkan berita tragedi lama itu. “Apa maksud berita itu?”
“Insiden itu, insiden yang udah renggut keluarga lo.”
“Gue gak percaya.”
Ponsel Saadan di atas meja bergetar hebat. “Gue gak maksa biar lo percaya,” balas Saadan sambil menyambar ponsel itu dan membantingnya ke dinding hingga hancur berkeping-keping. Beryl bergidik ngeri melihat ledakan emosi itu.
“Gue suka kalau lihat orang lain menderita.” Saadan menatap Beryl tajam.
“Apa tujuan lo?”
“Balas dendam. Nyokap lo udah hancurin keluarga gue dan gue akan hancurin keluarga lo. Impas, kan?”
“Apa maksud lo!?” bentak Beryl nyolot, meski nyalinya menciut saat melihat raut wajah Saadan berubah gelap.
“NYOKAP LO YANG UDAH BUNUH BOKAP GUE, BER! NYOKAP LO JUGA YANG UDAH BIKIN NYOKAP GUE MENINGGAL, BER!”
Tubuh Beryl beringsut ketakutan. Ia memejamkan mata kuat-kuat, menahan napas menghadapi kemarahan Saadan yang meledak. Suara pecahan barang-barang yang dilempar Saadan memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang mencekam. Saat Beryl membuka mata, ia melihat barang-barang berserakan dan mata Saadan yang menyala penuh dendam.
“Gue udah tau semuanya. Dan tujuan hidup gue, cuma balas dendam ke kalian,” desis Saadan.
“Gak! Lo gak akan bisa lakuin itu!”
“Apa lo bisa ganti nyawa orang tua gue? APA LO BISA PERBAIKI SEMUANYA!?”
“CUKUP! HARUS GUE BILANG BERAPA KALI KALAU ITU GAK MUNGKIN, KAK!” potong Beryl balas membentak.
“OKAY, GUE AKAN BUKTIIN SEMUANYA.”
Saadan bergerak mengambil sesuatu dari laci di bawah televisi. Melihat itu, Beryl segera berlari menuju pintu, namun ia meringis kesakitan saat telapak kakinya menginjak pecahan gelas. Dengan gemetar, ia menarik potongan kaca itu dari kakinya dan terus bergerak mundur hingga terpojok di sudut ruangan.
Saadan mendekat, mengurung Beryl dengan menyandarkan tangan dan kakinya ke tembok. “Jangan gila, Kak!” teriak Beryl ketakutan.
Saadan menunduk, menatap luka di kaki Beryl sejenak sebelum berdecak. “Bodoh. Kenapa gak hati-hati?” Ia mengabaikan protes Beryl dan menunjukkan sebuah benda yang ia genggam. Saadan tersenyum dingin. “Ikut gue.”
— Celandine —
tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Celandine ✓
Misterio / Suspenso[Psychological Thriller | Romantic Suspense] Sejak hari terjadinya 'insiden kecil' di kantin saat itu, Beryl mendapat banyak teror aneh. Kertas clue yang selalu muncul tiba-tiba, bahkan di tempat yang tak terduga. Beberapa kali benda-benda aneh...
