Pola hidupku sederhana : sendirian ke mana-mana.
─── ・ 。゚☆: .☽ . :☆゚. ───
“Kami permisi, Non.”
Tak ada respons.
Asisten rumah tangga itu sejenak mengamati Beryl dan tuan mudanya yang masih saling melempar tatap dalam keheningan yang janggal. “Non?” panggil wanita itu sekali lagi, yang sukses membuat Beryl tersentak salah tingkah.
Bruk!
Beryl mengaduh kesakitan. Tubuhnya baru saja menghantam ubin kamarnya yang dingin dengan keras. Rupanya, kejadian di depan Griya Amaryllis sore tadi benar-benar menyita ruang di pikirannya, bahkan sampai menyusup masuk dan mengacaukan alam bawah sadarnya.
Beryl mengerang frustrasi.
Ia terjatuh dari kursinya. Tadi, ia sedang berusaha fokus mengerjakan tugas sekolah di meja belajar saat rasa kantuk menyerang tanpa ampun. Rangkaian peristiwa sore itu pun hadir kembali dalam dimensi mimpi, hingga akhirnya sebuah ‘ciuman ubin’ memaksanya kembali ke realitas dengan cara yang tidak menyenangkan.
Sebuah selang waktu yang cukup menarik.
Beryl melirik jam di atas meja belajarnya, pukul 7 malam. Ia menyunggingkan senyum tipis tanpa alasan yang jelas. Beranjak dari lantai, ia bergegas ke kamar mandi untuk membasuh muka dan berganti pakaian. Ia berniat pergi ke minimarket terdekat untuk sekadar membeli camilan. Namun, langkahnya sempat terhenti dan senyumnya memudar kala menatap suasana rumah yang selalu sama: sunyi, senyap, dan kosong. Rasanya persis seperti tinggal seorang diri di sebuah bangunan tanpa jiwa.
Sambil menghela napas panjang, ia memasang bluetooth earphone ke telinganya. Beryl mengeluarkan skuter listrik dari garasi, memastikan gerbang rumah terkunci rapat, lalu melaju membelah malam. Setibanya di minimarket, ia memarkirkan skuter kesayangannya di titik yang paling aman, yang tetap bisa ia pantau dari balik kaca toko.
Saat sedang menelusuri rak makanan, samar-samar ia mendengar suara yang memanggilnya di antara dentum lagu di telinga. “Ber?” Beryl segera mematikan musik dan menoleh. Ia sedikit terkejut mendapati Kuker berdiri di sana.
Belum sempat Beryl menyapa, sebuah suara lain muncul dari balik punggung Kuker. “Apaan?” ketus Kuker kepada adik perempuannya yang baru saja menyahut.
“Eh ada Kak Beryl. Haii, Kak,” sapa adik Kuker dengan riang, sama sekali tidak mengindahkan nada ketus kakaknya.
Beryl tersenyum tipis melihat anak SMP di depannya itu dan membalas sapaannya, lalu kembali menatap Kuker. “Lo di sini juga? Beli apa?”
“Ini. Biasa, Adek gue.”
Rosa terkekeh pelan. “Maap ya kak kalau RosMah ngerepotin.”
Kuker sempat tersenyum tipis, namun hanya sepersekian detik sebelum ekspresinya kembali datar seperti papan cucian. “Iya ngerepotin banget.”
Beryl mengerutkan kening, merasa asing dengan sebutan tadi. “Kok RosMah?”
Rosa mengangguk antusias. “Waktu itu Mama lagi masak terus katanya tiba-tiba kepikiran nama singkatan buat aku. Kan nama aku Rosalia Maharani, kalau disingkat jadi Rosmah. Lebih singkat kan kak kalau dipanggil?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Celandine ✓
Mystery / Thriller[Psychological Thriller | Romantic Suspense] Sejak hari terjadinya 'insiden kecil' di kantin saat itu, Beryl mendapat banyak teror aneh. Kertas clue yang selalu muncul tiba-tiba, bahkan di tempat yang tak terduga. Beberapa kali benda-benda aneh...
