BAB 6 - Labil

761 45 0
                                    

"Karena aku mencintaimu."

Ucapan Vino bergema di ruang kamar inapnya hingga kehatiku. Langkah ku spontan terhenti saat hendak berbalik pintu kamar itu terbuka. Ku lihat Mas Firman berdiri tegap di sana menatap ku kemudian menatap Vino.

"Dia sudah siuman?" Tanya Mas Firman pada ku. Aku hanya mengangguk. Aku tetap melangkahkan kaki untuk keluar.

"Kamu mau kemana?" Tanya Mas Firman.

"Aku mau keluar sebentar." Ucap ku berlalu.

Aku mempercepat langkah ku mencari lorong yang sepi dan menumpahkan rasa sesak yang sedari tadi aku tahan.

Bagaimana bisa dia membohongi ku dengan berkata Vanesa calon istrinya. Kenapa? Aku sungguh tidak terima dibodohi mentah-mentah oleh Vino. Mati-matian aku membunuh perasaan yang aku anggap salah untuknya. Namun dengan bodohnya dia mempermainkan perasaan ku. Aku benci kamu Vino. Benci...

Semenjak hari itu aku tidak menemui Vino. Aku sungguh dibuatnya kecewa. Aku disibukkan dengan kerjaan yang sangat menyita waktu ku. Tidak jarang aku lembur. Berkali-kali kedua pria itu mencoba menghubungi ku. Sedikitpun aku tidak berniat untuk menemui keduanya. Aku marah pada Vino, namun kenapa Mas Firman juga kena dampaknya. Aku merasa bersalah kepadanya. Akhirnya aku putuskan menghubunginya lebih dulu. Aku mulai mengubunginya melalui whatsApp.

"Maaf mas, aku tidak membalas pesan mu dan juga tidak menjawab panggilan mu. Aku hanya butuh waktu sendiri."

Tidak lama centang itu berubah biru. Sepertinya dia memang menunggu pesan ku.

"Iya aku paham, Ran. Aku hanya khawatir terjadi apa-apa sama kamu. Kamu sudah makan siang?"

"Baru mau turun makan mas. Mas jangan khawatir aku baik-baik saja. ☺"

"Kita makan sama-sama ya. Kalau mau aku jemput sekarang."

"Kalau mas tidak sedang repot."

"Kamu tidak pernah merepotkan aku, Ran. Tunggu ya aku berangkat sekarang."

Aku langsung merapikan diri dan bergegas turun. Aku tidak ingin membuat Mas Firman menunggu. Saat sampai di depan kantor aku masih belum melihat kehadiran Mas Firman. Aku memutuskan untuk menunggunya.

"Rania" panggil seseorang dari arah belakang. Aku membalikkan badanku spontan saat orang itu selesai memanggil nama ku.

"VINO" aku langsung membuang pandang dan berniat meninggalkannya. Dia segera menahan langkah ku dengan genggaman tangannya.

"Ran, maafkan aku." Ucapnya memelas.

"Lepas, Vin." Berusaha melepaskan pegangannya.

"Maafkan aku." Kali ini kedua tangan ku sudah berada di genggamannya.

"Maaf untuk apa?"

"Karna udah bohongin kamu."

"Ya udah." Ucapku yang bingung mau berkata apa.

"Ya udah apa?" Ucapnya dengan tersenyum manis.

"Kamu kenapa sih senyun-senyum." Ucapku dengan sedikit sebel.

"Aku heran aja, kenapa kamu harus marah kalau aku bohong." Ucapnya menatap ku dengan penuh selidik. Kemudian senyumnya semakin berkembang di wajah yang selalu aku rindukan.

'Ya aku marahlah. Aku mulai suka sama kamu. Tapi kamu mempermainkan perasaan aku. Gak peka sekali sama perasaan aku' ungkap ku di dalam hati.

"Emmmm... aku gak suka aja di bohongin." Ucap ku dengan gugup, sambil berpikir keras untuk memberikan alasan yang tepat.

"Jujur aja, waktu itu kan kamu juga udah jujur. Lupa apa pura-pura lupa??" Kembali dia menggoda ku.

"Kalau udah tau, kenapa nanya lagi."

"Mau dengar lagi. Kemarin kamu sambil marah-marah bilangnya. Jadi aku gak paham kalau ternyata cewek cantik bilang cinta sama aku."

"Apaan sih. Aku gak pernah bilang cinta sama kamu." Kali ini pipi ku terasa merona. Aku malu dia selalu menggoda ku. Apalagi di tempat ramai seperti ini.

"Bilang apa? Aku gak dengar." Ucapnya sambil mendekatkan kupingnya ke arah ku. Ini orang budek juga, mungkin karena ramai orang dan kendaraan yang berlalu lalang jadi dia gak jelas dengar aku bicara apa.

"Cinta sama kamu." Ucap ku mengulang kalimat akhir yang tidak dia dengar.

"Iya, aku juga cinta sama kamu." Ucapnya dengan senyum yang teramat manis.

Ya Tuhan, jantung ku, jantung ku rasa ada serangan panah cinta bertubi-tubi. Aku terpana melihatnya, aku malu. Ah pipi ku pasti udah semerah cabe. Ini ceritanya aku lagi marah, kok jadi acara ngungkapin cinta. Aku tersadar saat tangannya siap merangkul ku ke dalam dekapannya. Aku segera mungkin menahan pelukannya.

"Malu Vino di liat banyak orang."

"Biarin, biar orang tahu kalau kamu pacar aku."

"Idih modus banget. Mana ada orang nembak kayak gitu."

"Ada dong, contohnya aku. Beda dari orang cara nembaknya."

"Gak jelas." Ucap ku meninggalkannya. Dia berlari kecil menyusul ku.

"Jelas sekali. Sejelas cinta ku pada mu Rania." Ucapnya kembali merangkul bahu ku. Namun aku berusaha melepaskannya. Walaupun berhasil melepaskan diri, dia selalu saja mencoba lagi. Kami makan siang bersama tidak jauh dari tempat ku bekerja. Selama makan siang kami, Vino selalu saja berkelakuan manja. Minta di suapin lah, rebahan di bahu lah, maunya minun di satu gelas yang sama. Sempat-sempatnya juga dia ganti namanya di hp ku menjadi BELAHAN JIWA KU. Matanya juga tidak pernah lepas memandang ku. Astaga Vino kenapa jadi alay gini. Aku hanya berdecak sambil menggeleng-geleng tidak mengerti. 

"Aku risih Vin di liatin terus." Ucap ku mulai tidak enak dengan perlakuannya.

"Aku melihat masa depan ku, Ran. Kenapa gak dari dulu aja aku bilang cinta sama kamu." Ucapnya dengan mata berbinar-binar.

"Dulu-dulu belum tentu juga aku mau sama kamu."

"Berarti sekarang udah mau dong." Ucapnya mendekatkan wajahnya ke arah ku. Aku langsung mencubit hidung mancungnya hingga memerah. Dia berteriak kesakitan sambil memegang hidungnya.

"Ran, aku mau tanya boleh."

"Mau nanya apa?"

"Sedekat apa hubungan kamu sama Firman sekarang."
Mendengar nama Mas Firman aku baru ingat kalau sebelumnya aku janjian makan siang bersamanya.

"Astaga, kenapa aku sampai melupakan Mas Firman." Aku langsung meraih benda pipih di hadapan ku dan menekan nomor Mas Firman namun tidak di jawab oleh Mas Firman. Berkali-kali aku coba namun tetap tidak ada jawaban. Akhirnya aku putuskan untuk mengirimkannya pesan.

"Mas, maaf aku lupa dengan janji makan siang kita. Sekarang jam istirahat aku udah selesai. Lain kali aja ya mas? Gak apa-apakan?" Pesan sudah berhasil di kirim. Namun belum di baca oleh Mas Firman.

Aku melihat Vino dengan wajah yang di tekuk. Terlihat kekesalan di wajahnya.

"Kenapa mukanya jelek gitu." Ucapku merapikan diri bersiap kembali ke kantor.

"Aku balik ke kantor dulu ya. Jam istirahat udah selesai." Dia menahan tangan ku. Aku melihatnya dengan bingung.

"Gak mau minta maaf?" Ucapnya dengan wajah datar.

"Untuk?"

"Ya udah lah. Percuma di jelasin." Dia berlalu meninggalkan ku tanpa menoleh.
Ne orang kenapa jadi aneh sih sejak tadi. Aku salah apa coba, aku menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Pergi kembali menuju kantor.

Bersambung....

Happy reading!😙

Jangan lupa tekan bintangnya ya guys..
👇
🌟

CINTA sang MANTAN ✔ (TAMAT) ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang