BAB 7 - Flasback

694 42 0
                                    

Dari kemarin Mas Firman tidak menjawab teleponku maupun pesanku. Aku merutuki kekhilafan ku, kenapa aku sampai lupa kalau sudah janjian sama Mas Firman. Aku membolak-balik handphon ku yang ada di tangan, menunggu dan menunggu balasan dari Mas Firman. Aku kembali mengirimkannya pesan.

"Mas, kenapa gak ada kabar?"  Pesan sudah terkirim, namun centangnya belum juga berubah biru. Tidak berapa lama bunyi pesan  masuk, aku langsung tersenyum akhirnya Mas Firman membalas pesan ku. Namun, aku salah karena yang mengirim pesan adalah Vino. 

'Sayang, udah makan siang belum?'

'Apaan sih Vin pakai sayang, sayang. Biasa aja manggilnya. Aku belum makan siang, belum jam istirahat.'

'Biarin, kamukan pacar aku.'

'Aku lagi sibuk, aku selesain dulu ya kerjaan aku.'

'Kamu gak lagi menghindari aku kan Rania?'

'Aku beneran sibuk Vin.'

'OK, kalau mau pergi makan jangan lupa whatsapp aku ya?'

Aku tidak membalas pesannya lagi. Aku kembali menyelesaikan pekerjaanku. Namun kembali layar putih itu menunjukkan sebuah pesan. Namun aku tersenyum melihat pesan itu berasal dari Mas Firman.

'Maaf Ran, kemarin aku gak jadi jemput kamu makan siang. Karena aku harus segera pulang. Syifa mendadak deman.'

'Aku yang seharusnya minta maaf mas. Aku lupa kalau kita ada janji makan siang. Bagaimana keadaan Syifa?'

'Dia masih demam.'
Kenapa aku merasa Mas Firman marah ya sama aku. Tapi apa alasan dia marah. Seharusnya dia menjelaskan mengapa hingga dua hari tidak membalas pesan ku. Apakah Syifa tidak bisa lepas darinya barang sedetikpun. Kenapa aku jadi menuntutnya seperti ini.

'Boleh aku menjenguknya?'  walau ragu aku kirim juga pesan basa-basi itu.

'Jika kamu tidak sibuk.'

Mengetik.....

' dan tidak lupa.'

Astaga Mas Firman benar-benar marah padaku. Aku rasa dia sudah melihatku bersama Vino. Walaupun masih dugaanku. Diakan gitu kalau marah gak banyak omong, akunya di diamin sampai kering dan ngakuin kesalahan sendiri baru dapat maaf. Kenapa gak berubah-berubah sifatmu itu dari dulu Mas. Aku gak bisa bilang kalau sekarang dia lagi cemburu. Soalnya dulu waktu kami masih bersama, aku hampir gak tau rasanya di cemburuin sama Mas Firman. Dia selalu aja percaya sama aku, padahal aku wanita normal kalau liat yang cakep langsung melotot. Itu waktu ABG ya, sekarang mah gak berani udah malu ama umur. Pernah suatu kali aku protes sama Mas Firman, aku pengen dia cemburu sama aku.

"Cemburu itu hanya untuk orang yang gak percaya diri. Dan hanya anak ABG yang suka cemburuin pasangannya."

"Kata siapa? cemburu itu tandanya sayang Mas. Jangan-jangan mas gak sayang sama aku makanya gak pandai cemburu." ucapku dengan bibir yang manyun sempurnya.

"Gini amat ya pacaran sama anak ABG. Kamu tuh mesti seneng dong pacarnya gak cemburuan. Aku kasih kamu kebebasan berteman dengan siapa aja. Yang perlu kamu jaga itu hati kamu untuk aku." ucapnya mencoel ujung hidung ku dengan jari telunjuknya.

"Gini amat pacaran sama orang tua." ucapku mengaduk-aduk Teh es tanpa meminumnya.

"Kamu bilang apa tadi? orang tua?"ucapnya yang langsung mengelitik pinggangku. Ya hari itu kami lalui dengan tawa. Saat aku ingin marah sama dia, selalu saja dia buat hati ini berubah menjadi tawa. Saat itu aku benar-benar pengen dia cemburu sama aku. Hingga aku nekat mengajak teman satu sekolah ku untuk foto bareng dengan pose sedikit romantis. Aku memeluk lengannya dan merebahkan kepala di bahunya. Kemudian aku pura-pura buka galeri foto di sampingnya, aku melihat dia melirik sekejap. Namun dia tidak merespon, hanya sibuk dengan pekerjaanya. Kembali aku buka foto tersebut dan sengaja ngezoom fotonya.

"Mau pamer" Akhirnya dia buka suara.

"Ih, ngitip ya. Gak sopan." ucapku pura-pura marah.

"Kamu mau aku kayak gitu juga." ucapnya santai tanpa menoleh ke arah ku.

Saat itu juga aku menghapus foto itu. Mana aku ikhlas ada cewek centil-centil sama Mas Firman. Aku pastikan kalau cewek berani ganggu Mas Firman dia bakalan punya gaya rambut baru dari tanganku yang lentik ini. 

Ngomong-ngomong cewek centil, hubungan ku dengan Mas Firman juga pernah diganggu oleh pihak ke tiga. Parahnya lagi cewek itu temen ku sendiri, walau bukan temen dekat. Modusnya dia akan jadi mata-mata untuk aku, kalau-kalau Mas Firman main gila sama cewek lain. Dia berhasil manas-manasin aku dengan kata-kata dustanya. Kebetulan saat itu Mas Firman baru beli motor ninja impiannya, keselnya lagi aku gak di beri tahu. Si kompor ini yang kasi tahu aku, kemudian dia bilang sering bonceng cewek pakai motor itu. Kalian tahu siapa si cewek yang biasa di bonceng Mas Firman, ya dia si kompor itu. Aku malas banget nyebut namanya, ingat aja tanganku langsung gatal rasa mau jambak tuh orang. Mas Firman hanya santai menanggapi pertanyaan ku yang udah meledak-ledak.

"Kenapa gak cerita kalau udah beli motor baru?" tanya ku dengan amarah yang masih ditahan.

"Aku gak mau di bilang riya'. Ini kamu juga udah tahu." jawabnya tanpa beban dan rasa bersalah.

"Mas, aku merasa gak di hargai banget sama kamu." ucapku yang mulai emosi.

"Gak semuanya aku harus cerita sama kamu Ran." menatapku mulai kesal.

"Iya termasuk boncengan mesra dengan cewek gatel itu." ucapku dengan emosi. 

"Jaga ucapan kamu, Ran. Aku gak ada hubungan apa-apa dengan Santi." ucapnya tak kalah emosi walau masih terkontrol. Baru kali ini juga aku melihat Mas Firman marah padaku, dan aku mengartikan kemarahannya karena ada sesuatu antara mereka.

"Kenapa mas jadi belain dia."

"Gak ada yang bela dia. Dia cuma numpang. Kamunya aja berlebihan mikirnya."

"Kamu memang gak pernah ngerti perasaan aku, mas."

"Kamu terlalu kekanak-kanakan untuk paham aku, Ran."

"OK kita putus." ucapku pergi dengan derai air mata. Selama 5 tahun kami bersama, sudah puluhan kali juga kami putus, lebih tepatnya aku yang mutusin. Dan dia yang ngajak balikan. Sungguh labil diriku yang dulu. Sebenarnya lebih banyak manisnya dari pada pahitnya kisah kami dulu. Namun akhir kisah kami sangat menghancurkan hidupku kala itu. Aku hampir saja enggan melanjutkan ke perguruan tinggi dan aku juga sempat mengurung diri di kamar, hingga depresi, malah sempat berfikir untuk bunuh diri. Sungguh bodoh jika aku beneran nekat sampai bunuh diri.

Namun, Vino membantu ku bangkit lagi dari keterpurukan itu. Memberikan semangat dan menjadi pendengar yang baik walau hanya dari jauh. Kemudian aku bertekat untuk merubah diriku. Aku ingat keluhan dari Mas Firman yang selalu bilang aku kekanak-kanakan, kadang juga dia mengomentari penampilanku hingga warna kulitku walaupun aku tahu dia sedang bercanda. Saat dia meninggalkanku menikah, aku berfikir karena fisik ku juga membuat dia memilih yang lebih dariku. Terbukti Bella lebih sexy dari pada aku. Tubuhnya tinggi, langsing dan kulit putih bersih bak model. Jauh banget di banding aku. Sewaktu masih pacaran sama Mas Firman, berat badan ku hanya 43 kg, dengan kulit hitam di tambah lagi gak pandai pakai bedak. Hingga aku dapat gelar kutilang (kurus tinggi menjulang). Akhirnya aku bertekat untuk mempercantik diri dan mulai melakukan perawatan penuh pada tubuhku, hingga perlahan kulitku berubah bersih dan putih. Belajar menggunakan make up, dan menaikkan BB hingga 12 kg dan berusaha bersikap untuk menjadi dewasa. Aku harus membuat dia menyesal telah menyia-nyiakan aku. Itu misi ku saat itu.

Bersambung...

Happy reading!

CINTA sang MANTAN ✔ (TAMAT) ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang