Kami berbicara di teras sambil menunggu Vino menjemput ku. Cukup lama aku menunggu akhirnya mobil pajero sport berwarna silver memasuki pekarangan rumah Mas Firman. Vino keluar dari mobil dan menghampiri kami. Terlihat tatapan tidak bersahabat dari Vino walaupun dia berusaha sesantai mungkin.
"Tidak masuk dulu, Vin." Tawar Mas Firman.
"Terima kasih. Saya ke sini mau menjemput pacar saya bukan mau bertamu."
Aku harus segera bertindak sebelum ada hal yang tidak di inginkan di sini.
"Mas, kami langsung pulang aja. Aku permisi dulu mas."
"Iya, hati-hati Ran." Ucap Mas Firman dengan senyum manisnya. Vino langsung menggandeng tangan ku dengan sedikit menarik agar langkah kami segera sampai di mobil.
Ada apa sih dengan Vino."Bisa gag bawa mobilnya biasa aja." Ucap ku kesal.
"Mana bisa aku biasa aja melihat pacar sendiri keganjengan dengan cowok lain."
"Kok kamu jadi nuduh gitu. Siapa yang ganjeng. Aku hanya menjenguk Syifa." Kekesalan yang aku tahan dengan Bella sedari tadi, kini membuncah pada Vino. Dia malah memancing emosiku. Aku sungguh kesal di atur-atur Vino. Mas Firman dulu tidak pernah mengatur ku.
"Aku gak suka kamu dekat lagi dengan dia."
"Aku gak suka kamu larang-larang Vino."
"Harus, karena kamu pacar aku."
"Kamu gak ada hak untuk mengatur hidup ku." Wajah Vino berubah semakin berang. Kini mobil dia hentikan di tepian jalan.
"Aku cemburu."
"Aku gak ada hubungan apa-apa dengan Mas Firman."
"Tapi aku tahu dia masih mencintaimu."
"Aku mau segera sampai di rumah." Ucapku enggan menjawab ucapannya karena memang benar Mas Firman masih mencintaiku. Lalu aku harus melarangnya? aku yakin Mas Firman gak bakal merusak hubungan ku dengan Vino.
Bukannya mengurangi sifat protektifnya kini malah menjadi posesif. Kenapa semakin kedepan aku semakin muak dengan perlakuannya Vino. Namun aku berusaha menahannya dan bertahan.
'Lagi di mana, yank?'
Baru aja 5 menit yang lalu kirim pesan udah kirim pesan lagi dengan pertanyaan yang sama. Dengan mendelik kesal aku membalas pesannya.'Di kantor.' Jawab ku singkat.
'Jawabnya dikit banget. Lagi sama siapa?'
'Sama karyawan kantor.'
'Beneran. Kirim foto sekarang'
Ini Vino ngapa jadi super nyebelin banget gini sih. Dia pacar atau orang tua aku sih. Tapi ortu aku aja gak gini-gini amat.
'Kalau gak percaya ya udah. 😡'
Aku langsung mengunci layar telepon ku dan membiarkan pesan dari Vino dan kembali bekerja. Sekitar 20 menit aku fokus dengan kerjaanku tiba-tiba ada seseorang dari arah depan meletakkan buket bunga di hadapan ku. Aku terlonjak kaget, dan melihat orang di hadapan ku.
"Astaga Vino. Apa yang sedang kamu lakukan." Ucapku sedikit berbisik melihat ke kiri dan ke kanan takut mengganggu orang yang masih kerja dan gak mau jadi pusat perhatian. Dia tersenyum kemudian duduk di hadapan ku. Aku menarik tangannya mengajaknya keluar. Setelah sampai ke tempat yang agak sepi aku melepaskan tanganya.
"Kamu apa-apaan sih, aku lagi kerja. Bisa gak jangan ganggu dulu."
"Gak bisa. Siapa suruh gak kirim foto."
"Astaga Vino. Kamu kok nyebelin banget sih." Sumpah aku gedek banget sama kelakuannya akhir-akhir ini. Ya semenjak pulang dari rumah Mas Firman, dia berbuah jadi posesif.
"Mulai sekarang kalau mau pergi-pergi harus kasi tau aku. Kalau aku tanya mesti di jawab. Aku gak suka kamu abaikan. Kalau aku gak kasi izin kamu gak boleh pergi." Ucapnya panjang lebar.
"Aku gak suka ya kamu kekang-kekang. Aku terbiasa bebas, jadi jangan hambat langkah ku."
"Kamu pacar aku Ran. Aku gak suka kamu dekat dengan laki-laki lain."
"Kamu harus terima dong aku dekat sama laki-laki karena memang aku kerja di lingkungan antara laki-laki dan perempaun yang berbaur." Jawab ku membela diri.
"TAPI AKU GAK SUKA RANIA." Ucapnya dengan nada tinggi. Membuat aku terkesiap. Tubuhku mematung, aku tak menyangka Vino membentak ku. Perlahan bulir bening membasahi pipi ku.
"Kamu membentak ku." Ucapku dengan nada bergetar menahan sesak dan sakit di hati. Dia langsung meraih tangan ku dan menggenggamnya dengan erat.
"Ran, maafkan aku. Aku gak bermaksud membentak mu. Aku..." aku langsung menepis genggamannya.
"Udah cukup." Aku berusaha pergi namun dia menahanku dan berusaha memelukku. Namun aku menolak pelukannya.
"Rania maaf. Aku sangat menyesal. Aku mencintaimu. Aku takut kehilangan mu."
Kata cinta itu sungguh hambar di telinga ku karena hati ini sungguh sakit dengan perlakuannya."Justru dengan sikapmu seperti ini, akan membuatku menjauh."
Bagaimana bisa dia meminta ku seketika langsung merubah kebiasaan ku. Aku yang bebas melakukan apapun harus dikekang, kemana pun harus memberi tahukan padanya, dan sekarang aku harus membatasi pertemanan dengan lawan jenis. Sedangakan rata-rata teman yang enak di ajak kerja sama adalah teman-teman pria. Ketomboian ku semenjak sekolah berlanjut hingga sekarang. Walaupun gaya aku sekarang tidak tomboi lagi, namun aku sangat cepat akrab dengan teman cowok di banding cewek. Sangat mustahil untuk aku bisa merubahnya apalagi dalam waktu singkat. Yang benar saja, dulu saja Mas Firman bisa menerima kekurangan ku. Kenapa juga aku jadi kepikiran Mas Firman dan mulai membandingkannya dengan Vino. Jelas mereka adalah orang yang berbeda. Tapi aku gak suka dengan sikap otoriternya Vino.
Bersambung...
Jangan lupa tekan bintang dan komennya ya!
Happy reading!😇

KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA sang MANTAN ✔ (TAMAT) ✔
RomanceMengisahkan seorang wanita yang berusaha lepas dari kisah cinta masa lalu. Menata hidup tanpa hadirnya seseorang yang akan memberikan perhatian. Saat dia mampu mengubah hidupnya, sosok masa lalu kembali hadir membawa cinta yang pernah mati. Di saat...