Life is either you like or don't, you still have to face it.
.
.
.
Dua minggu sudah Rita dan Ikbal menetap di Eggnasium. Seiring berjalannya waktu kemampuan mereka pun meningkat pesat. Kini Rita sedang berhadapan dengan Devan sementara Ikbal dengan perempuan yang seminggu lalu sempat menemuinya, Freya.
"Lebih gesit lagi. Kerahkan semua magicmu, Ravi!"
Yang dipanggil Ravi alias Ikbal menarik napas dalam, mundur beberapa langkah mengambil ancang-ancang.
Hari ini hasil evaluasi belajarnya--juga Rita--selama enam hari belakangan yang dilatih secara eksklusif oleh dua gordon di hadapan mereka. Tidak ada satu pun yang meminta agar Freya dan Devan mengajari mereka, justru Freyalah yang menawarkan atau lebih tepatnya sedikit memaksa kedua bocah itu agar mau dilatih.
Ketika Devan berinisiatif menggunakan nama Meisie sebagai alasan, misi rahasia katanya, barulah dengan sukarela Rita dan Ikbal menuruti perintahnya. Semoga saja Meisie tidak murka namanya dibawa-bawa. Padahal ini hanya akal-akalan Freya dan Devan saja, tidak perintah khusus untuk itu. Mereka hanya ingin agar Zidane tidak melulu marah-marah, sebab ia terlanjur enggan mengurusi dua bocah yang kemampuan magicnya terbilang masih di tingkat dasar.
"Estrapas Muzeos!"
"Ah!"
Pekikan Freya terdengar setelah punggungnya membentur ranting pohon. Ikbal berhasil membuatnya terpental, lantas ia langsung melayang menghampiri Freya yang mendesis kesakitan.
"Apa tadi terlalu keras? Maaf, aku nggak tahu kalau akan sejauh ini."
Mengerjap, Freya belum bisa membungkam mulutnya. Uluran tangan Ikbal membuatnya sadar, lalu ia meraihnya dan mencoba berdiri.
"Kamu tahu apa yang kamu lakukan?" Mata Freya membulat. Ikbal menunduk, merasa bersalah. Saat itu pula Rita dan Devan mendekat pada mereka. "Kalian lihat barusan?"
"Fre, are you okay?" tanya Devan menatap khawatir. "Kepalamu kebentur batang kayu?" Devan hampir menyentuh kepala Freya yang dengan cepat ditangkis oleh pemiliknya.
"I'm okay, Dev. Kepalaku aman kok."
"Habisnya kamu kayak orang kesurupan. Emang sakit banget, ya?"
Freya mendesah sebal. "Sekali lagi, I'm okay. Kalian masih belum ngeh?"
Gelengan yang Freya dapatkan dari Devan dan Rita, sementara Ikbal menautkan alisnya.
"Boy, you did it! You flew away! Kamu melayang, Ravi!"
Ikbal sedikit terkejut Freya tiba-tiba memeluknya. Ia masih mencerna kalimatnya tadi. Melayang? Yang benar saja. Namun, ia memang benar-benar melakukannya. Naluriah. Tanpa teknik atau mantra apapun. Ia hanya merasa ada desakan dalam dirinya untuk mendatangi Freya dengan segera, ia membutuhkan pertolongannya. Sehingga tanpa pikir panjang dan tanpa sadar ia... melayang begitu saja?
"Aku senang sekali. Usaha kita tidak sia-sia, Dev. Zidane juga pasti tidak akan menyangka." Senyum lebar Freya mengembang.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE ORACLE
FantasyAku tahu apa yang akan terjadi pada satu jam, satu minggu, bahkan seratus tahun kemudian. Namun aku tak dapat mengubah apa yang sudah terjadi sedetik yang lalu. -The Frosty Oracle-
