The Oracle
.
.
.
.
.
.
Membalikkan sachetan hijau untuk memastikan apakah bubuk cokelat di dalamnya masih ada yang tersisa, Rita mendengus lalu membuangnya ke tempat sampah di ujung kamar setelah tahu tidak bungkusan itu isinya sudah habis tak bersisa. Saat itu juga, telinganya menangkap suara kedombrengan peralatan masak. Ia pun melongok ke arah dapur, memastikan siapa pelaku yang sudah membuat suara ribut di dapur pagi-pagi. Sebab tidak mungkin pamannya seramai itu kalau lagi memasak.
"Ah, shit!"
Selain umpatan, Rita disambut pula dengan suara panci jatuh plus ekspresi kesakitan Aksa. Lelaki itu meringis sembari memegangi pergelangan tangannya. Dengan keadaan seperti itu Aksa terlihat lebih manusiawi menurut Rita. "Kenapa tuh makhluk satu tangannya?"
Menghampiri Aksa, Rita bersuara, "Masih kepagian kalau mau buat ribut di rumah orang-eh ya... pokoknya di rumah inilah. Lagian ngapain pagi-pagi ke sini? Mau numpang sarapan?"
Aksa berdecak. "Ini kalau bukan Azra yang minta, aku nggak akan buatin makanan untukmu pagi ini. Lihat nih!" lengannya ia sodorkan, ada bekas kemerahan di punggung tangannya.
"I-itu luka bakar. Harus cepat-cepat dibasuh." Refleks, Rita menggeret Aksa ke wastafel. Memutar keran lalu mengarahkan bagian tangan Aksa yang luka di bawah kucuran air. Lelaki itu mendesis.
Tanpa sadar, Aksa memerhatikan Rita yang masih memegang tangannya. Tersirat kekhawatiran di raut wajahnya. Lekat, Aksa belum mau memalingkan pandangan dari perempuan dengan tinggi hampir sebahunya itu. Bak slow motion Rita mendongak, mendapati sepasang netra mengunci pergerakannya.
Butuh beberapa detik setelahnya Rita melepas genggaman itu. Ia seolah linglung dan saat kesadarannya kembali, perempuan itu berlari kecil dan kembali membawa kotak P3K. Diambilnya botol kecil berwarna kuning serta beberapa helai kapas.
"Ini, ka-kamu obati lukamu sendiri!"
Menggaruk tengkuknya, kemudian Rita memilih untuk duduk di ruang makan tepat di depan dapur. Sementara Aksa pura-pura sibuk menutulkan kapas yang sudah ia beri cairan kuning tadi pada lukanya. Sesekali ia mencuri pandang pada sosok yang tengah memainkan jemarinya di meja makan.
"Paman di mana?" tanya Rita tiba-tiba. Ia memberanikan diri menatap Aksa. Seolah memberitahukan jika ia merasa... ehm, tak gugup sama sekali, mungkin.
Aksa membalas pandangan itu sejenak lalu mengalihkannya ke arah tangan. "Azra lagi ada urusan. Dia minta aku untuk nyiapin sarapan dan nunggu rumah sampai nanti siang," jelasnya.
Selang sehari setelah kepulangan Rita, Azra terlihat jauh lebih baik dari yang pertama kali ia lihat. Seperti Azra yang sehari-hari ditemuinya. Rutinan membaca koran ditemani secangkir tehnya juga kembali. Keadaan normal seperti sediakala. Kecuali satu, keberadaan Ikbal yang luput dari sana.
"Kalau aku nggak ke sini, Azra takut kamu bakal ngabisin dua renteng bungkusan ijo itu." Gerakan tangan Rita terhenti tepat saat ia berhasil membuka satu sachet lagi susu coklat kesukaannya. "Tapi kalau kamu mau sarapan pakai itu nggak ada salahnya sih, tinggal ditambah nasi aja 'kan?" goda Aksa menaik-turunkan alisnya.
Tanpa menghiraukan ejekan itu, Rita melanjutkan agenda menyantap bubuk manis cokelatnya. "Urusan apa memangnya?"
Aksa menggidikkan bahu. Tak lama kemudian ia menghampiri Rita dengan piring berisi nasi dan telur dadar di atasnya. "Aku cuma bisa buat ini. Doyan apa nggak, terserah kamu. Yang penting habis ini kamu langsung ke depan. Ada yang mau aku bicarakan."
KAMU SEDANG MEMBACA
THE ORACLE
FantasíaAku tahu apa yang akan terjadi pada satu jam, satu minggu, bahkan seratus tahun kemudian. Namun aku tak dapat mengubah apa yang sudah terjadi sedetik yang lalu. -The Frosty Oracle-
