Bab 13: Mesra

896 153 37
                                        

Dia tidak pernah sebahagia ini ketika bangun pagi. Tidak pernah bersenandung kecil ketika mandi atau mengumbar senyuman ketika memilih dasi. Di benaknya ada senyuman gadis itu, ada pipi merona milik Nayeon. Iya, pada titik ini dirinya tidak berkeberatan jika dikatakan sedikit gila.

Keluar dari kamarnya Taehyung sudah melihat Joshua berdiri di samping meja makan dengan meja yang sudah penuh dengan sarapan.

"Selamat pagi Pak." Pria itu membungkuk.

"Pak?" Ulang Taehyung pelan sambil tersenyum.

"Apa aku setua itu?" Kekeh Taehyung tersenyum ke arah Joshua.

Joshua sedikit terkaget, pasalnya, selama mengabdi sebagai orang kepercayaan keluarga Kim, dia tidak pernah melihat Kim Taehyung tersenyum secerah ini.

"A—tid—tidak, maksudku biasanya aku juga memanggil seperti itu." Joshua membungkuk lagi.

"Tidak perlu gugup, kau sudah sarapan? Duduk dan sarapan lah bersama, ini terlalu banyak." Ujar Taehyung santai sembari memasukkan daging ke dalam mulutnya.

Dan Joshua kembali dibuat takjub. Tunggu, bosnya ini tidak salah minum obat kan?

:::

Selesai sarapan dan mendengarkan jadwal apa saja yang akan Taehyung lakukan seharian ini, kini keduanya sudah berdiri di garasi mobil milik Taehyung.

"Aku berangkat sendiri." Tegas Taehyung yang langsung dibalas dengan bungkukan badan oleh Joshua.

"Em, Pak, tadi pagi saya mencoba mengecek cctv dan semalam sepertinya nona Jisoo ke sini."

Ucapan Joshua berhasil membuat Taehyung terdiam sejenak. Ia merogoh ponselnya di celana. Mengecek panggilan masuk dan pesan masuk semalam tapi tidak satupun berasal dari gadis itu.

Sedikit aneh bukan?

"Awasi dia, kau mengerti kan?!" Perintah Taehyung setelah terdiam sejenak untuk berfikir.

"Baik pak." Joshua mengangguk mengerti.

Jisoo, gadis yang tidak mudah di tebak isi kepalanya. Dia itu gila dan Taehyung tidak ingin ambil resiko dengan gadis itu.

:::

Nayeon masih terduduk di atas tempat tidurnya. Memegang kepalanya, beralih pada bibir lalu terakhir kedua telapak tangan itu beralih pada pipi. Oke, sepertinya dia memang bermimpi. Mimpi yang seolah nyata? Kini kedua tangan itu beralih memegang dada dan di sana terasa begitu cepat ketika berdebar.

Sepertinya? Dia mulai gila bukan?

Oke, mana mungkin Kim Taehyung datang ke flat miliknya malam - malam. Lalu mengatakan aku mencintaimu dan mereka berdua—

"Argh!" Nayeon berteriak frustasi,sepertinya dia benar - benar gila.

Sangat gila, dia bahkan baru kembali kerealita dan semua menamparnya. Hanya karena perlakuan manis Taehyung semalam dan dia dihempaskan jatuh ke dasar pesona Kim Taehyung.

Lalu apa? Dia bilang iya? Mereka berciuman? Dia menunjukkan ekspresi—

Nayeon menghentak - hentakan kakinya sembari mengacak rambutnya frustasi.

Kenapa ia melakukan tindakan yang memalukan? Nayeon memejamkan matanya dan kembali dirinya teringat akan ekspresi malu - malu miliknya semalam.

"KAU GILA IM NAYEON!"

:::

Ia menyeret kakinya sedikit malas, rutinitas pagi yang paling membuat Nayeon tidak bersemangat untuk saat ini. Bahkan Nayeon juga sudah memasukkan surat pengunduran dirinya ke dalam tas. Jeongyeon sendiri pun dibuat terkaget dengan ekspresi sahabatnya itu.

"Kau kenapa?" Tanya Jeongyeon yang tengah meletakkan roti panggang di atas meja.

"Jangan bertanya dulu, aku sedang tidak mood." Sahutan Nayeon cukup membuat Jeongyeon berada pada batasan sadar diri sehingga menahan untuk mulutnya tidak menanyakan tentang pria semalam.

"Cepat sarapan dan bekerja, semangat bekerja dan dapatkan banyak uang." Jeongyeon memberikan semangat.

Lagipula, kata motivasi apalagi yang sesuai selain itu?

Mendengar itu Nayeon hanya mendengus sembari terus memasukkan roti ke dalam mulutnya. Persetan dengan uang, jika ia terus melakukan serabutan pasti dia dapat uang. Jeongyeon terkekeh kecil melihat ekspresi Nayeon itu.

"Aku hari ini libur, letakan di sana saja piringnya nanti kucucikan."

Setelah menandaskan susu di gelas Nayeon mengangguk ringan lalu segera menyambar tas miliknya di meja. Menarik napas panjang, memejamkan mata dan merapal doa, ia sudah bertekad menitipkan surat pengunduran dirinya pada Seulgi.

Jadi, menitipkan surat pengunduran diri lalu pergi melamar pekerjaan. Dia sungguh tidak punya muka. Bagaimana bisa? Padahal dia bertekad untuk hidup layaknya orang biasa. Tidak ingin ribet dengan dicintai oleh orang kaya dan tampan. Lagi pula, tidak ada istimewa dalam dirinya. Iya, pada awalnya dia ingin bisa menjalin hubungan romantis dengan seorang pria tapi dengan orang biasa cukup.

Menuruni tangga flat gadis itu dibuat terkaget dengan Taehyung yang sudah berdiri di depan flatnya. Melipat tangan di dada lalu menyandarkan tubuhnya di badan mobil. Percayalah, dia jauh lebih tampan dari biasanya.

"Selamat pagi sayang!" Sapaan itu berhasil membuat Nayeon terkaget juga malu, oh tidak bahkan dia sekarang kembali mengingat ekspresi miliknya yang menjijikkan.

Memejamkan mata, menarik napas panjang, Nayeon siap menghadapi realita. Gadis itu mengambil surat pengunduran diri miliknya lalu mengacungkan ke arah Kim Taehyung sembari membungkuk.

"Saya mengundurkan diri pak!" Seru Nayeon tegas.

Taehyung sedikit menaikkan alisnya karena kaget. Bisa membaca situasi kini pria itu menarik surat itu lalu menyobeknya.

"Aku tidak menerimanya." Sahut Taehyung enteng.

"Yak!" Nayeon berseru kaget.

Berkacak pinggang lalu tersenyum, "tidak usah membuat drama, kau mencintaiku dan aku mencintaimu itu sudah cukup, kalau kau tidak percaya realita, sini kuberi tahu realita pagi ini—" menarik lengan Nayeon hingga tubuh gadis itu membentur tubuhnya, mengunci rapat pinggang Nayeon dengan lengan kekar miliknya lalu sebuah ciuman mendarat di kening Nayeon.

"Ya-yak,"suara Nayeon terdengar gugup.

"Bagaimana? Sudah sadar? Apa kau masih berfikir untuk mengundurkan diri atau menjauhiku?"

Nayeon sedikit mengangkat wajahnya menatap Taehyung, dengan senyuman diujung bibirnya Taehyung makin mengeratkan pelukannya membuat kening Nayeon menubruk hidung mancung pria itu.

"Jangan berfikir yang aneh - aneh lagi, kau mengerti sayangku?"



HeartbeatTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang