"Apa maksudnya?"
Dia sedikit mengangkat ujung bibirnya, dari tempat ia duduk ia bisa melihat jejak - jejak air mata di pipi gadis itu.
"One night stand?"
Pergelangannya masih di genggaman dan Nayeon kini tertawa kering.
"Aku terlihat menyedihkan ya?"
Nayeon membalas tatapan itu. Em, oke, tatapan itu cukup mengintimidasi dirinya.
Menggeleng pelan kini Taehyung kembali tersenyum. "Kau cukup mengagumkan."
Nayeon kembali tertawa, kini Jemari yang berada di pergelangan Nayeon beralih di telapak tangan gadis itu. Lapisan kulit jempol milik Taehyung mengusap lembut telapak tangan Nayeon.
"Bagaimana?"
Ada semacam, mungkin mantra? Mungkin hipnotis? Atau garis alis itu yang tegas, garis hidung yang tinggi dan tatapan itu yang cukup? Mengintimidasi? Hingga satu kata itu lolos. Baiklah. Iya, hanya satu kata itu hingga tubuhnya yang tertarik hingga terduduk di pangkuan sang pria. Jemarinya yang besar mengusap pipi kirinya dan tatapan lembut itu serta lapisan bibir itu yang menyentuh bibirnya.
:::
Nayeon menggeliat, sedikit menggerutu karena alarm ponselnya berbunyi kini gadis itu bangkit dari tempat tidurnya. Ia juga bisa mendengar suara Jungyeon dari luar menanyakan keadaannya. Menyingkap selimutnya, menampakkan ia yang hanya mengenakan celana training dan kaos perpotongan kerah rendah dan berlengan pendek. Ia menyeret kakinya malas ke arah dapur tidak lupa Jungyeon yang mengoceh terus sedari tadi.
"Tunggu! Kau melakukannya semalam? Dengan Minhyun?"
Gerakan membuka kulkas itu tertahan oleh tarikan tangan Jungyeon. Sahabatnya itu menatap dengan tatapan curiga ke arah Nayeon. Di sana, di leher Nayeon, Jungyeon bisa melihat jejak - jejak keunguan.
Nayeon memejamkan matanya. Kembali mengingat kejadian semalam yang tentu saja sangat terekam apik di kepalanya.
"Jangan membicarakannya lagi, kami putus!"
"Apa!?" Jungyeon nampak terkejut.
"Lalu it—"
"Kau tahu tidak kalau dia itu ternyata gay? Brengsek kan?!"
Nayeon hanya ingin menutup kenangan semalam itu sampai malam itu saja. Dan dia tidak ingin membahasnya, tidak ingin mengingatnya—meskipun itu sangat tidak mungkin—dan membiarkan kenangan itu bak buih - buih di lautan.
"Gay?! Minhyun?! Apa kau bercanda?!"
Kini suara tawa Jungyeon terdengar. "Kau pasti sekarang merasa gila?!"
Iya, mungkin, jika dia tidak bertemu pria itu.
"Tentu saja, apa kau tahu? Bahkan dia menginap di hotel yang telah kubayar bersama kekasih prianya itu." Kini Nayeon kembali menggebu, bahkan air di botol yang ia pegang itu terlihat tumpah ketika tangan gadis itu bergerak - gerak ketika bercerita.
Ada sebuah batasan bagi seorang sahabat untuk memasuki sebuah teritori sahabat kita sendiri. Bukan karena kita tidak percaya, tapi mungkin teritorial itu belum saatnya untuk diungkapkan.
:::
Ponselnya berdering, dia yang sedang telungkup itu mendengus kesal sembari mencoba meraih ponsel miliknya di nakas.
'kau belum bangun?!' suara Park Jimin seolah menariknya.
Mengabaikan suara Jimin di ujung telepon kini Taehyung sudah terduduk di tempat tidurnya. Kepalanya menoleh ke sisi tempat tidur. Tidak ada seorangpun.
Menjelajahi tiap sudut kamar hotel dan ia menyadari gadis itu sudah tidak ada. Menarik selimut kini ia menjejakkan kakinya ke lantai kamar. Ruang tamu hotel dan kamar mandi. Bahkan jejak gadis itu pun tidak bersisa.
"Sial!" Umpat Taehyung kesal sembari mengacak rambutnya.
Di meja tamu bahkan hanya bersisa plastik obat, salep dan beberapa kasa serta plester.
Dia bahkan tidak tahu nama gadis itu.
Mungkin seharusnya memang seperti ini. Dia yang mengatakan one night stand, tapi kenapa sekarang ia merasa kesal? Kenapa ia juga merasa kehilangan?
:::
"Kau kenapa?" Suara Jimin mengudara ketika memasuki kamar hotel Taehyung.
Matanya pun menjelajah ke seluruh sisi kamar hotel yang di sewa sahabatnya itu.
"Plester? Kasa? Kau habis berkelahi ya?"
Taehyung masih kesal, setidaknya selama ini ia tidak pernah mengalami hal semacam ini. Ayolah, dia ditinggalkan wanita begitu saja, bahkan setelah melakukan malam yang sangat panas seperti semalam. Sialan! Kenapa mengingat semalam ia malah makin kesal!
Mendengus kesal ia menatap Jimin yang kini beralih menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur.
"Hey! Kau berkelahi di atas ranjang ya dengan seorang wanita?" Jimin memicingkan matanya, kemudian alisnya ia naik dan turunkan menggoda Taehyung.
"Sebenarnya, kau ke sini ingin apa?" Taehyung terlihat mengemasi beberapa pakaian miliknya.
"Tunggu! Kau mau kembali?" Jimin bangkit.
"Urusanku sudah selesai, mau apalagi?" Ketus Taehyung.
"Kau ini sebenarnya kenapa sih?" Melihat perubahan Taehyung Jimin mulai menyuarakan pendapatnya.
"Tidak apa - apa, aku hanya lelah." Sahut pria itu.
Memutar tubuhnya kini Taehyung menatap penuh ke arah Jimin. "Aku tidak ada urusan lagi di sini, dan aku juga tidak tertarik dengan perusahaan milik ayahku."
"Hei! Kau bahkan belum melihatnya." Jimin masih mencoba membujuk.
"Kau tahu bukan bagaimana dia mengusirku karena wanita itu? Jadi terima kasih."
"Kau ini sensitif sekali seperti wanita." Gerutu Jimin, "kau check out masih nanti siang kan? Lebih baik kita sarapan dulu di bawah bagaimana?"
Taehyung menghentikan kegiatan, sepertinya ucapan Jimin ada benarnya juga. Mungkin karena lapar ia jadi seperti ini.
:::
Baru juga keluar beberapa langkah dari kamar hotel Taehyung melihat presensi pria itu—mantan kekasih gadis semalam—
Kau tahukan rasa kesal yang harus di salurkan?
Iya, didetik itu juga Taehyung melayangkan pukulannya pada Hwang Minhyun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Heartbeat
FanfictionDia pikir, setelah itu keduanya tidak akan bertemu lagi. Jadi ketika pria itu menawarkan sebuah kesepakatan malam itu, ia menerimanya tanpa pikir panjang.
