Taehyung masih terlihat tertawa, bahkan itu semakin membuat Nayeon cemberut dan menghentakkan kakinya merajuk. Bagaimana tidak, setelah kalimat terakhir yang terlontar dari bibir pria itu. Taehyung mengangkat tubuh Nayeon lalu memaksanya masuk ke dalam mobil.
"Tenang saja, aku ini kekasih yang profesional, jadi aku tidak akan mempermudah pekerjaanmu, justru sekarang divisi keuangan sedang kacau jadi mungkin kau akan sering lembur kerja." Ucap Taehyung lalu terkekeh.
Kali ini Nayeon mendengus, melipat kedua tangannya di dada lalu melempar tatapannya ke luar kaca mobil.
"Kau sudah sarapan apa belum?" Seolah memilih tidak peduli dengan Nayeon yang masih merajuk.
"Sudah." Sahut Nayeon singkat yang terkesan kesal.
Taehyung kembali melirik gadis di sampingnya lalu tersenyum kecil. "Sudah tidak perlu marah, sebenarnya? Bagian mana yang membuatmu marah? Nanti lama - lama tumbuh tanduk di kepalamu." Ocehan Taehyung yang berhasil membuat Nayeon menoleh ke arahnya lalu mendengus—bukankah tidak lucu? Memangnya bisa muncul tanduk di kepala?
Gadis itu memukul lengan atas Taehyung kesal, menimbulkan suara aduhan yang cukup kencang—karena dibuat - buat.
"Karena kau memelukku, menciumku lalu menculik ku!" Tegas Nayeon cemberut.
Taehyung tertawa kencang, sedikit memelankan tawanya hingga kini tersisa sebuah senyuman Taehyung melirik Nayeon. "Iya karena kau seperti itu, kau selalu saja mengingkari keberadaanku, selalu menganggap aku tidak serius dan main - main." Suara Taehyung terdengar tegas di akhir kalimat.
"Iya karena awalnya kita memang main - mainkan? One night stand, kau yang mengatakannya, jadi jangan salahkan aku kalau aku menganggapmu tidak serius dan hanya memikirkan tubuhku." Melipat tangannya ke dada Nayeon tidak mau kalah berargumen.
"Aku memang mengajakmu one night stand, awal hubungan kita memang terkesan hanya nafsu, tapi sekarang apa kau tidak bisa melihat ketulusanku?"
"Jangan objektif, jatuh cinta bisa diawali dari apa saja. Pandangan pertama, Karena terbiasa bahkan dengan kontak fisik. Jadi bukan berarti karena awalnya kita melakukan itu lalu kau anggap aku hanya melihat tubuhmu!"
Oke, apa yang dikatakan Taehyung itu masuk akal dan Nayeon tidak punya kalimat lain untuk membantahnya.
"Atau!" Taehyung berseru lalu terlihat menepikan mobilnya. Melepaskan seat belt miliknya ia menatap penuh pada Nayeon yang nampak terkejut.
Wajah pria itu nampak tegas dengan tatapan yang sanggup menembus pertahanan Nayeon.
"Karena pria itu? Kau masih menyukainya?"
Nayeon sedikit terkejut.
Karena Minhyun?
"Sial!" Nayeon memukul stir mobil miliknya lalu mengusap wajahnya kasar.
Taehyung kesal, tentu saja.
Setelah membuang wajahnya ke arah jendela Taehyung menarik napas dalam. Kembali menyalakan mobilnya kini suasana dalam mobil begitu sangat tenang. Bahkan terkesan horor bagi Nayeon.
Dia sudah tidak menyukai Minhyun, sungguh. Mungkin karena isi kepalanya di penuhi oleh Taehyung karena malam itu. Saking bingungnya sekedar merangkai kata untuk menjelaskan kesimpulan Taehyung yang salah Nayeon bahkan tidak sadar sudah sampai di parkiran khusus.
"Keluarlah," terdengar nada itu yang berusaha dikontrol oleh Taehyung.
Nayeon malah merasa bersalah sekarang. Kenapa malah terjadi salah paham? Tunggu, harusnya dia juga bisa memanfaatkan situasi ini bukan? Mengatakan bahwa dia masih menyukai Minhyun dan Taehyung menjauhinya. Tapi kenapa hati kecilnya tidak menginginkan itu? Benar mungkin ucapan Taehyung bahwa dia memang mencintai pria itu tapi dia belum siap untuk kembali terluka, apalagi menjalin hubungan dengan Taehyung memiliki resiko yang lebih tinggi. Tapi, apa dia harus menjadi pengecut?
Nayeon menarik lengan Taehyung. "Kau marah?" Lirih gadis itu takut - takut.
"Tidak, aku hanya—takut, rasa kepercayaan diriku tiba - tiba runtuh. Bagaimana bisa aku mengatakan kau mencintaiku ketika di hatimu ada pria itu?" Taehyung memijat pelipisnya lalu tertawa kering.
Melihat ekspresi wajah Taehyung entah mengapa membuat Nayeon semakin merasa bersalah.
"Sudahlah, aku ada meeting pagi ini." Ujar Taehyung lalu beranjak pergi.
Nayeon memejamkan matanya, berniat memanggil Taehyung lalu mengatakan yang sebenarnya namun ragu. Kepala dan benaknya seolah saling berlawanan. Akhirnya ia malah membiarkan pria itu pergi.
"Kau memang bodoh Im Nayeon!" Serunya menghentakkan kakinya.
:::
Seharian Nayeon tidak konsen, satu kantor tapi mereka memang tidak ada waktu untuk bertemu. Ingin memulai menghubungi lewat pesan singkat namun ada rasa gengsi yang susah sekali dimusnahkan. Pada akhirnya pikirannya malah menjadi sangat kacau karena ulahnya sendiri. Sekarang dia mengerti, bahwa dia memang menyukai pria itu.
"Kau kenapa?" Itu suara Seulgi—satu satunya yang cukup baik pada Nayeon.
"Tidak ada apa - apa." Sahut Nayeon tersenyum kecil.
Tapi baru beberapa langkah Nayeon kembali memanggil gadis itu. "Bisa minta tolong," Nayeon mengatupkan kedua tangannya di depan Seulgi.
"Apa itu?" Seulgi menatap Nayeon sedikit curiga.
"Jika manager Bae mencari katakan bahwa aku sedang sakit perut dan istirahat di klinik kantor. Please!" Menunjukkan wajah imutnya, Seulgi terkekeh kecil lalu bilang oke.
Mengambil map di meja Nayeon segera melesat pergi ke kantor Kim Taehyung. Mereka perlu bicara. Memasuki lift Nayeon terlihat mengetuk ketukkan sepatunya di lantai. Sekarang dia kembali bingung sendiri nanti memulainya dari mana. Pintu lift terbuka dan kaki itu akan melangkah ketika pria yang di cari itu nampak berjalan memasuki lift sembari mengobrol dengan Joshua. Tatapan keduanya bertemu, lalu diikuti ekspresi bingung Taehyung yang kentara.
"Aku ingin bicara," ucap Nayeon dengan tatapan memohon agar Joshua tidak menjadi bagian dari obrolan mereka.
"Lima menit, aku ada meeting dengan klien Jepang."
Baiklah, iya, Taehyung bilang dia profesional.
"Tanpa sekertaris Hong." Usul Nayeon.
Mengerti akan situasi Joshua memundurkan langkahnya. "Saya akan lewat tangga darurat." Ucap Joshua yang diikuti anggukan kepala Taehyung.
Setelah pintu lift tertutup Taehyung menatap Nayeon, "ada apa?"
Rasa gelisah dan ego itu kembali mencoba mendominasi diri Nayeon.
Menarik napas panjang, meraih jemari besar Taehyung, lalu menatap manik milik pemuda itu.
"Aku tidak menyukainya lagi," lirih Nayeon yang berhasil membuat Taehyung menjungkitkan alisnya bingung.
"Benar apa yang kau ucapkan, cinta itu bisa berawal dari apapun termasuk kontak fisik. Malam itu seharusnya aku patah hati, namun—"
Taehyung mengecup bibir Nayeon lalu diikuti helaan napas lega. "Syukurlah, aku benar - benar gila!" Ada sebuah rasa lega yang sebelumnya seolah mengikat perasaan Taehyung sangat kencang.
"Tapi?"
"Kau juga jatuh cinta malam itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Heartbeat
Fiksi PenggemarDia pikir, setelah itu keduanya tidak akan bertemu lagi. Jadi ketika pria itu menawarkan sebuah kesepakatan malam itu, ia menerimanya tanpa pikir panjang.
