1 - Kutukan Ulang Tahun

34K 3.2K 222
                                        

Posisi duduknya belum juga berubah semenjak kemarin pagi, membungkuk dengan jari-jari terampilnya mulai memasangi batu berlian kemerahmudaan satu per satu ke dudukan tiara dengan bentuk daun, matanya terasa panas bahkan yakin hampir meleleh, jangankan merasakan perubahan sif dari matahari ke bulan dan hampir ke matahari lagi, punggungnya saja sudah kebas.

"Cha, masih melek? Posisi belum berubah?" tegur Rindang.

"Lo, kenapa masih melek?" Ursa meletakkan batu ketiga terakhir ke dudukkannya.

"Deg-degan nih buat besok." Rindang meremas piyama tidur macam anak remaja yang berhadapan dengan senior favoritnya. "Cha, nggak mau makan dulu?"

Ada hening selama sepuluh detik sebelum Ursa menjawab, "Kenapa? Takut gue mati?"

"Iya, kalau lo mati, gue numpang di mana lagi?"

"Di bawah pohon sana, biar rindang kayak nama lo." Karena tak ada jawaban lainnya, Ursa tebak Rindang sudah kembali ke guanya, mungkin latihan melafalkan huruf 'r', siapa tahu jadi persyaratan interview besok.

Baru pukul lima pagi Ursa menyudahi segala pekerjaannya.

Sambil mengaduh bak manula, Ursa berjalan setengah membungkuk menuju kamarnya. Sialnya, baru juga terpejam, gedoran di pintu berhasil membuat Ursa terperanjat setengah menyumpah lantaran punggungnya luar biasa sakit. Entah orang udik mana yang belum paham fungsi tombol berwarna oranye dekat pintu apartemennya adalah untuk menggantikan gedoran pintu dengan nada merdu agar terlihat sebagai manusia modern yang beradab.

"Cha!" gedoran di pintunya semakin menguat, layaknya ketongan yang dipukul ketika ada maling di kampung saat zaman petromak masih berjaya. Ursa tahu orang udik mana yang masih menggunakan cara gedor pintu. "Duh, Cha!"

Sebelum rentetan permintaan diselipi omelan untuk bocah laki-laki di belakangnya yang masih sibuk mengunyah roti, Ursa memotong, "Lo tau ini, nggak?" tunjuknya pada tombol oranye di sebelah kanan. "Namanya bel, buat dipencet, biar lo nggak gedor-gedor pintu kayak orang udik."

"Duh, nitip Aru, Cha!"

Setengah takjub setengah jengkel, Ursa memperhatikan penampilan Sashi Kirana yang sudah rapi layaknya pekerja kantoran pada umumnya; kemeja, celana bahan, anting-anting, sampai lipstick-pun dibuat senada, seolah seluruh barang-barang di rumah Sashi dikategorikan sesuai warna, padahal semua tahu bahwa di rumah yang terdapat anak kecil mustahil bisa rapi. Belum lagi buat sarapan, menyiapkan keperluan anaknya, bersih-bersih. Di hari sepagi ini.

Ursa menoleh pada kawan malangnya yang pontang-panting bersiap berangkat kerja, Rindang Daween Kaayat, dan dirinya yang masih lusuh meski habis mengotak-atik permata seharga empat milyar.

Apa wanita sudah menikah—pernah menikah, menggunakan jurus Bandung Bondowoso dengan kekuatan jin dan dedemit untuk membantu mereka berberes tiap pagi? Di mana bisa dapat ajian macam itu? Iri rasanya.

Perhatiannya teralih saat tangan usil Aru, bocah empat tahun dengan remah roti di pipi, yang menjulurkan tangannya ke kotak persediaan batu-batu mulia miliknya. "Aru, no!"

Emak lo nggak bakal sanggup gantiin itu batu, Nak, menjauhlah ketimbang organ dalam lo dijual buat ganti barang-barang gue.

Telinganya mulai berdenging mendengar ocehan Sashi yang seolah selalu punya bab baru, kalah Tersanjung. "Lo pergi deh, Shi, berisik! Bye, Sashi!" ia mendorong tubuh Sashi keluar apartemennya. Menyuruh ibu satu anak itu cepat pergi sebelum terlambat dan berujung dengan rentetan omelan lainnya setelah jam pulang kantor.

Ia saling bertukar tatapan dengan Aru yang menyengir lebar, membuat kedua pipinya memerah. "Anterin aku sekolah ya, Aunty Ucha yang baik," ucapnya semanis mungkin.

URSA [Terbit]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang