6 - Spondylosis

18.7K 2.5K 322
                                        

Rumah keluarga Wijaya dipercayai sebagai salah satu rumah yang biasa dipakai untuk syuting FTV sebagai kediaman tokoh berlatar belakang anak orang kaya ataupun manajer di sebuah perusahan bonafide di Jakarta padahal kantornya lebih mirip kamar kost yang interiornya diubah seperti kantor saja.

Bangunan berbentuk neo-classical dua lantai dicat putih tulang tersebut nampak megah dengan berbagai taman semak rimbun yang tiap pagi dipangkas dan disiram sebelum matahari berada di atas kepala. Sebagai penguat imej klasik pada rumah kediaman keluarga Wijaya, mereka menambahkan kolam air mancur di halaman depan. Pencahayaan yang sesuai mendekati golden hour membuat rumah tersebut semakin mewah tak bercela.

"Cocok buat setting Annabelle versi Indonesia nih, siapa sih itu bonekanya yang mau suntik orang di jalan?" Sina masih berputar sesekali melihat pekarangan luas dan rumah megah model zaman kolonial khas dengan pilar-pilar besarnya.

"Susan."

"Iya, itu, Susan: The Evil Doll." Ia berbalik, menyengir pada Eros yang meniti tangga dua langkah di belakangnya. "Kalau kamu nikah sama Mbak Anne, bakal gini banget juga nih rumahnya, terlalu ngotak dan kaku kayak kamu." Tambah Sina sambil berbisik, takut orang yang tengah menunggu di balik pintu mendengar ucapan mereka.

"Ini rumah dari buyut Anne, hanya yang mewarisi rumah sakit yang dibolehkan tinggal di sini, kata lain, ini adalah White House milik Wijaya," jelas Eros. "Artinya kalau saya jadi nikah sama Anne, ya rumah saya ini."

Tepat lima langkah sebelum pintu utama, pintu yang didatangkan langsung dari Jepara tersebut terbuka lebar, menampilkan Anne dengan gaun merah muda selutut dan rambutnya yang dikepang rapi, bahkan sebuah penjepit dengan ukiran mawar dari permata t...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tepat lima langkah sebelum pintu utama, pintu yang didatangkan langsung dari Jepara tersebut terbuka lebar, menampilkan Anne dengan gaun merah muda selutut dan rambutnya yang dikepang rapi, bahkan sebuah penjepit dengan ukiran mawar dari permata tersemat di rambut cokelat gelapnya.

"Hai, Sina," pandangan pertama Anne tentu pada rambut Sina yang mencolok, "kamu kayak habis ikut run colour deh!"

"Mana nih penggemarku?" Sina mengabaikan ejekan Anne, padahal sudah kenal dengannya tiga tahun, masih saja heran dengan pilihan warnanya.

"Sina," Anne menunjuk gaya berpakaian Sina yang terlampau bernatakan apalagi dibandingkan dengan Eros. "Aku bilang pakai pakaian yang rapi, kan?"

"Ini rapi kali, Mbak."

Dan perdebatan itu dimulai, Sina dan Anne saling ejek mengenai pilihan busana masing-masing, yang satu terkesan terlalu rapi dan satunya terkesan santai dengan baggy jins hitam dan kemeja hitam kebesarannya. Sementara Eros kembali dalam mode anak baik, paling tidak hingga ponselnya berdering.

"Ya?"

"Dok, Ursa in fifteen minutes. Saya bisa menangani, tapi saya kira Dokter pasti mau dihubungi." Dokter UGD langsung yang menghubunginya dan itu artinya Ursa sudah di jalan menuju rumah sakit.

"Terima kasih, Dok, dua puluh menit lagi saya sampai." Ia bahkan tak sempat mengabari Sina dan Anne yang sudah terlanjur di ruang makan.

Eros berbalik, berlari secepat yang ia bisa, dan menyetir dengan gaya yang sudah lama tak ia praktikan semenjak tujuh tahun lalu. Ia mengambil jalur tikus, menerobos gang yang harus dilaluinya dengan makian warga yang tak terima latar mereka dilalui mobil dan sudah pasti diomeli pengendara lain karena terlalu sering menekan klakson.

URSA [Terbit]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang