"Kalau Dokter suka Mbak Sasa, saya bakal jadi orang paling depan yang dukung!"
Kalimat itu muncul ke permukaan tak peduli berapa kali pun ia mencoba menguburnya jauh-jauh. Sebagai orang dewasa ia harus bisa membedakan mana tanggung jawab dan mana hasrat sesaat, orang dewasa dilarang membuat keputusan salah, atau paling tidak itu yang ibunya katakan ketika ia memutuskan untuk mengiyakan permintaan Tamim Dinul Wijaya, ayah Anne, untuk bertunangan dengan Anne.
Ia sudah mengiyakan artinya ia tahu dan sanggup dengan konsekuensi yang datang bersama tanggung jawab tersebut.
Dari sudut matanya, ia melirik Ursa yang tengah berdiri memegangi dua bungkus nori beda merek yang berulang kali dipertimbangkan nilai tambah dan kurangnya dari masing-masing produk.
Sama seperti memilih pasangan. Harusnya bisa lebih selektif, namun saat itu hanya ada satu pilihan, atau sebenarnya ia saja yang kurang peka, ia tak bisa memilih dan ketika ia sudah menentukan jalannya, barulah ia melihat jalan lainnya.
Terlambat untuk putar arah.
***
Ursa ingat ketika ia kecil, ia selalu merengek ikut ibunya berbelanja hanya untuk duduk di dalam troli belanjaan, ketika beranjak lebih besar dengan kaki yang terlalu panjang untuk anak seusianya, motivasinya ikut berbelanja adalah untuk memilih sereal kesukaannya, dan setelah dewasa ia justru menghindari kegiatan berbelanja, seluruh tanggung jawab mengurus persediaan makanannya diserahkan pada asisten tercinta yang selalu saja memasukan apel ke dalam daftar belanjaan, Mbak Azwa.
Sementara Dokter Eros, sudah berusia tiga puluh satu—atau tiga puluh dua, ya?—lajang, tinggal sendiri, dan berbelanja sendiri seluruh kebutuhan sehari-hari, bukankah itu terdengar aneh? Oke, sebenarnya tidak aneh, hanya Ursa yang aneh.
Enam macam sayur berbeda, empat macam buah, oatmeal, granola, biji-bijian, daging, ikan, bumbu dapur, minuman, dan yang membuat Ursa terkejut ketika Eros membayar semuanya adalah tidak adanya mie instan. Penduduk Indonesia mana yang tidak makan mie instan? Salah, lebih luas lagi, keturunan Asia mana yang tak memasukkan mie instan ke dalam daftar belanjaannya?
"Kenapa, Cha?" tegur Eros sambil terus memindahkan barang belanjaannya ke meja kasir. "Heran banget lihat saya belanja?"
Kapan sih dia merhatiinnya? Kok bisa tebak? Seingatnya Eros tak sedikitpun menatapnya, hanya sibuk menaruh belanjaan sesekali melihat daftar belanjaannya di ponsel. Kok bisa lihat?
"Bapak cuci baju sendiri juga? Atau bersih-bersih rumah?"
Eros tergelak pelan, menoleh pada Ursa yang memutuskan untuk membeli empat pak nori dan keju. "Kadang saya laundry, kadang cuci sendiri. Sini, sekalian belanjaanmu."
"Enggak usah, saya bayar sendiri."
Tanpa meminta persetujuan lagi, Eros menarik belanjaan Ursa dan menumpuknya di belanjaannya. "Anggap tanda terima kasih karena udah temani saya belanja." Dan senyuman dokter itu kembali lagi. Ursa paling benci melihatnya.
Kalau dilihat-lihat, Eros dengan pakaian kasual memang harus diakui memberi kesan jauh lebih muda dan tak pantas dipanggil 'Pak' tetapi pemilihan warna putih membuat kantung matanya terlihat jelas dan mata sayunya sulit ditutupi, bukankah dokter spesialis itu jam kerjanya jauh lebih pendek ketimbang jam kerja dokter yang bekerja di UGD?
Meski begitu, kulit Dokter Eros termasuk kategori bersih bahkan terlalu bersih. "Pak, pakai perawatan apa mukanya?"
Tak pernah ada yang tahu dengan apa yang terjadi di kepala Ursa, bahkan Eros yang katanya pandai membaca pikiran orang lain sekalipun. "Pakai air wudhu doang kok," ejek Eros sambil menyengir lebar.
KAMU SEDANG MEMBACA
URSA [Terbit]
Chick-Lit[SUDAH TERBIT] Pada usia seperempat abad, menurut orang-orang, seharusnya berada di puncak vitalitasnya dan menghabiskan waktu di luar ruangan. Seharusnya jatuh cinta pada pria lajang yang bisa diajak menikah. Bukan bolak-balik rumah sakit lantaran...
![URSA [Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/199712176-64-k746125.jpg)