2 - Rambut Merah Muda Pembawa Sial

26K 2.8K 242
                                        

Siang itu kamar mandi lantai satu bilik paling pojok terdengar suara wanita tertawa sepenuh jiwa seperti penonton dalam acara komedi murahan di televisi, beberapa orang yang mendengar bahkan mulai ambil ancang-ancang memanggil alim ulama untuk pengusiran setan, siapa tahu Hanako menumpang di pundak seseorang yang baru kembali dari Jepang dan tersasar ke Indonesia, atau lebih tepatnya ke Rumah Sakit ini.

Namun, begitu Ursa keluar dari kamar mandi dengan wajah memerah dan mata basah, orang-orang di balik meja administrasi langsung membubarkan negosiasi ulama siapa yang akan dipanggil karena ternyata Hanako tidak setrendi itu untuk mengecat rambutnya.

Seperti Aru yang baru mendapat jatah es krim seminggu sekali, Ursa mengenggam kotak hadiahnya erat-erat menuju ruang tunggu. Mungkin ia akan mengucapkan sedikit terima kasih karena sudah perhatian pada dirinya.

Ah, tidak, tidak, mungkin kalau memilih untuk berterima kasih di kesempatan pertama wajahnya akan memerah seperti tomat matang dan tertawa-tawa seperti anak-anak capsaicin. Membayangkan dirinya bertingkah seperti itu saja berhasil membuatnya bergidik ngeri, apalagi orang yang melihatnya, bisa-bisa mimpi buruk.

Jadi, sudah diputuskan ia akan marah-marah karena membuatnya malu di apotek.

Tepat pukul dua, saat Suster Dahlia keluar dari pos penjagaannya, Ursa bersiap, celingukan memastikan keadaan aman dan tak diperhatikan meski sedikit mustahil lantaran rambut biru pepsinya yang mencolok di antara rambut hitam orang Indonesia.

Setelah menurunkan topi bisbolnya, Ursa langsung menyelinap ke ruang Eros untuk protes. Kalau Suster Dahlia sudah tidak ada di pos penjagaan, maka di ruangan kosong selain Eros.

Dengan kepercayaan mungkin ini bisa memangkas jarak yang Eros buat sebagai dokter dan pasien, Ursa menendang pintu praktik Eros hingga terbuka lebar dan menimbulkan getaran pada dinding.

Sayangnya hari itu keadaannya berbeda dari pengamatan Ursa selama lima tahun.

Di dalam ruangan pemeriksaan bukan hanya dihuni Eros saja, ada pria lain dengan rambut merah muda, kalau keadaan ini belum cukup memalukan, mari tambah gambaran dengan lebih spesifik bahwa pria berambut merah muda tersebut sedang bertelanjang dada duduk di atas kasur pemeriksaan sementara Eros tengah memegang dada telanjang pria itu.

Melihat ruang pemeriksaan diterobos tiba-tiba, pria berambut merah muda itu refleks berteriak sambil mencoba menutupi tubuh telanjangnya. Ursa yang kaget mendengar teriakan pria itu ikut berteriak di ambang pintu, dan Suster Dahlia yang terpancing oleh teriakan tergopoh-gopoh menuju ruangan Eros hanya untuk ikut menyumbang teriakan lantaran melihat seorang pria berambut aneh di ruangan Dokter Eros yang harusnya kosong.

Teriakan itu berlangsung selama sepuluh detik penuh dan mungkin akan berlanjut ke sepuluh detik selanjutnya jika Eros tak memukul dada pria berambut merah muda hingga membuatnya terbatuk dan merintih kesakitan.

Sebelum memancing banyak orang, Eros buru-buru menarik lengan Ursa dan Suster Dahlia untuk masuk kemudian mengunci pintu praktiknya.

"Dok, Dokter ngapain?" Suster Dahlia yang tahu harusnya di jam ini tak ada pasien sudah pasti mengira bahwa pria yang tengah duduk di ranjang pemeriksaan bertelanjang dada ditambah rambut merah muda yang membuat wajah pria itu terlihat feminin, meski alisnya naik seperti alis Pak Raden, sebagai teman kencan dari hubungan terlarangnya. "Istigfar, Dok, astagfirullah!" ia mengelus dadanya, masih tak percaya dengan matanya sendiri.

Sementar Ursa yang paham betul bahwa ini lebih memalukan dari surat ucapan selamatnya dibaca apoteker hanya bisa membisu dan diam-diam mulai menyetujui teori Suster Dahlia, mungkin dia akan berkilah sedikit kalau melihat pria masuk ke kantor Eros dan curiga mereka mau berbuat macam-macam, meski sebenarnya ini lebih memalukan dan sedikit memperlihatkan genre bacaannya diam-diam.

URSA [Terbit]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang