Sore hari yang senggang untuk seorang Park Jisung. Tak ada kegiatan apapun hari ini, jadi layaknya remaja pada umumnya, Jisung menghabiskan waktunya dengan sekedar berbaring di kasur empuknya sembari meladeni para hyung di group chat mereka.
Kegiatan itu sedikit terinterupsi oleh seseorang yang langsung memasuki kamarnya secara tiba-tiba.
"Hey, kau tumben kemari?" tanya Jisung pada si pelaku.
"Yah! Kenapa kau sengaja berbohong? Mengajaku ke sungai Han tapi tidak datang tiba-tiba dan malah mengikutiku dari belakang," cerca Chenle dengan berbagai pertanyaan pada Jisung.
Otak Jisung yang biasanya sedikit lamban, kali ini langsung menangkap maksud pertanyaan Chenle barusan.
"A-apa maksudmu? Aku tidak mengerti arah pembicaraanmu? Aku kemarin tidak mengikuti mu dan Wonyoung kok," elak Jisung dengan ceroboh. Ia bahkan sudah bangkit dari posisi baringannya sekarang.
"See? Aku tidak menyebut nama Wonyoung tapi kau mengungkitnya. Jika benar orang yang kemarin aku lihat itu bukan kau, bagaimana kau bisa tahu kalau aku bersama Wonyoung kemarin?" Chenle kembali melempar pertanyaan pada Jisung.
Saat kemarin bersama Wonyoung, Chenle memang melihat ada orang mencurigakan yang terus mengikutinya. Bagaimana tidak curiga coba jika ada pemuda jangkung dengan pakaian serba hitam terus membuntuti?
Padahal niatan Jisung memakai pakaian serba hitam adalah untuk tidak menarik perhatian. Tapi keputusannya salah, jelas-jelas itu membuatnya semakin terlihat mencurigakan. Makanya Chenle bisa sampai menyadarinya.
"Y-ya, kenapa menuduhku hah!?" Jisung mulai tidak santai.
"Sudah katakanlah dengan jujur, apa benar perkataanku tadi?" Chenle masih berusaha meredam emosinya.
"Kalau kau mau aku jujur, lalu kenapa kau sendiri tidak pernah jujur padaku mengenai perasaanmu pada Wonyoung?" Jisung balik bertanya.
Ia tidak terima saja tertuduh menjadi pembohong, walau memang benar ia berbohong. Tapi Chenle juga melakukan hal yang sama bukan?
Chenle menghela nafas, benar dugaannya. Jisung sudah tahu mengenai perasaan yang selama ini ia pendam untuk Wonyoung.
Melihat Chenle hanya diam, Jisung kembali melanjutkan perkataannya.
"Aku tidak tahu kenapa kau menyembunyikannya dari ku, tapi aku tidak terima kalau kau mengalah dan mengorbankan perasaanmu seperti itu. Kau meremehkanku atau apa? Jika kau memang menyukai Wonyoung, aku tidak masalah jika harus bersaing denganmu!" tutur Jisung mulai tersulut emosi.
"Kenapa harus mencintainya dalam diam begitu? Kau pengecut atau apa hah?! Jika kau menderita, kenapa juga kau mau membantu mendekatkan kami berdua?" lanjut Jisung.
"Lalu apa bedanya denganmu? Kau melakukan hal yang sama denganku. Untuk apa pakai acara merencanakan pertemuanku dengan Wonyoung kemarin?" pertanyaan Chenle telak membuat Jisung terdiam.
Pada hakikatnya, keduanya sama saja bukan?
"Jika kau mau bersaing, kenapa kau membuntuti kami? Kenapa bukannya semakin berusaha memperjuangkan Wonyoung?" tanya Chenle lagi.
Jisung hanya diam, ia frustasi karena perkataan Chenle yang memang benar adanya.
"Kau sahabatku bodoh!" jawab Jisung akhirnya.
"Ya, dan kau juga sahabatku. Kau tau pasti kenapa aku melakukan itu semua bukan? Aku mengalah bukan karena meremehkanmu, sama sekali bukan. Aku mengalah dan mundur karena aku percaya kalau kelak Wonyoung, gadis yang kucintai juga akan aman bersamamu, sahabat yang sangat kupercaya," jelas Chenle panjang lebar.
KAMU SEDANG MEMBACA
BYE MY FIRST...
Fanfiction[𝗖𝗢𝗠𝗣𝗟𝗘𝗧𝗘𝗗] Love, it was like the anxieties that followed you around. After all, love is a little difficult right? °baku °dreamiesXgirls °crack-ship Inspired by: Bye My First - NCT Dream Cast: NCT DREAM ©Lazy-nim, 2019
