SG-20✔

12.5K 430 12
                                        

"Terkadang seseorang merasa lelah dengan kehidupan, tetapi dia berusaha untuk semangat menjalaninya"

.........

"Mom! Kenapa usir Starla hah?!" bentak Citra kepada orang tuanya, gadis itu sedang diselimuti emosi yang membara saat mengetahui bahwa Starla diusir, padahal sebenarnya tidak.

Bara dan Sinta sengaja bilang ke Citra bahwa mereka yang mengusir Starla agar Citra tidak bertambah marah lagi saat mengetahui bahwa adiknya itu ingin dijadikannya jalang.

"Iya, maafkan mommy hiks mom menyesal sudah mengusir Arla," ucap Sinta dengan tangis palsunya, Bara pun ikut bersandiwara dengan cara menenangkan Sinta.

"Udah mom, Arla kita pasti ketemu kok," bujuk Bara.

'Arla kita? Cih aku nggak sudi anggap dia sebagai bagian keluargaku' batin Bara.

"Maaf mom dad, Citra emosi tadi," ujar Citra menyesal saat melihat tangis mommynya. Dengan perasaan penuh rasa bersalah, Citra memeluk mommynya erat.

"Mom, nggak usah nangis lagi, Arla pasti ketemu kok. Maafin Citra tadi kebawa emosi," sesal Citra yang diangguki mommynya. Sinta tersenyum kepada Bara yang dibalas dengan senyuman juga.

'Aku suka permainan kalian'.

.........

Starla mengerjapkan matanya,gadis itu memperhatikan sekelilingnya, tampak asing.

"Kamu sudah sadar ternyata."

Suara yang asing baginya, Starla menoleh ke sumber suara. Terlihatlah wanita yang mungkin sudah menginjak kepala empat, walaupun terlihat sedikit keriput tetapi wajahnya masih memancarkan kecantikannya.

"Kamu siapa?" ucap Starla sopan,tidak mungkinkan ia bersikap tidak sopan dengan orang yang tidak dikenalinya?

"Oh ya, tante adalah istri Gerry," ucap wanita itu seraya meletakkan nampan yang berisi semangkuk bubur dan segelas teh hangat.

"Dan juga nama tante Vani, kalo kamu mau manggil tante bunda nggak apa kok," ucap Vani dengan senyum manisnya. Wanita itu menghampiri Starla dan mendudukinya disamping gadis itu.

"Aku boleh panggil bunda?" tanya Starla canggung, ah dimana sifat Starla yang santai?

"Tentu boleh dong, kan bunda yang nawari tadi," ucap Vani lalu memeluk Starla seraya mengelus punggung gadis itu.

'Kau terlalu manis untuk disakiti' batin Vani memandang Starla iba.

Starla tidak membalas pelukan hangat itu, gadis itu mematung sesaat. Kemudian dengan ragu gadis itu membalas pelukan Vani.

Hangat!

Beginikah rasanya pelukan seorang ibu?

Starla tersenyum kecil, dengan pelukan Vani membuat moodnya sedikit membaik. Vina melerai pelukannya seraya menatap Starla dengan tatapan yang tak bisa dijabarkan.

"Euhm Star ... eh bunda mau nyiapin sarapan, bunda tinggal dulu ya," ucap Vina yang diangguki Starla, sebenarnya niatnya disini ingin menanyakan permasalahan gadis itu, tetapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat.

StarlaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang