"Aku terlalu bodoh dalam mengambil keputusan,sehingga aku sendiri terluka karena keputusanku"
.......
Seseorang yang memakai masker dan topi serta jaket hitamnya,menundukkan kepalanya saat berhadapan dengan bosnya yang terkenal angkuh dan aura intimidasinya yang kuat.
"Apa ada informasi tentang dia?" tanya bosnya itu dengan suara beratnya serta tatapan mengintimidasinya yang membuat orang itu semakin menunduk.
"D-dia dan pacarnya putus tuan,dan pacarnya itu memilih untuk tidak bertemu lagi dengannya"
Senyum miring terpatri dibibir bosnya itu,rencana pertamanya telah berhasil ia jalankan.
"Ada lagi?"
"T-tidak ada tuan Bara"
Bara kembali memasang raut datarnya dan menggerakkan tangannya seolah mengisyaratkan anak buahnya itu untuk pergi.
"Tunggu,gaji kamu saya naikkan bulan ini" ucap Bara,seseorang itu tersenyum senang.lalu ia meninggalkan ruang kerja Bara.
Bara tersenyum senang,anak buahnya itu memang bisa diandalkan.Tidak sia sia ia menyekolahkan orang itu di sekolah yang sama seperti Starla.
..........
Kini,Starla menatap dirinya di cermin yang berada dikamarnya.Pantulan dirinya dicermin itu sungguh kacau,apalagi mata bengkaknya yang mengerikan.Rambutnya yang berantakan menambah kesan kacau dalam penampilannya.
Gadis itu menghela napas,iris matanya teralih ke arah lengannya,terdapat banyak luka yang mengiasi lengannya yang seputih susu itu.Sepertinya ia akan memakai jaket atau sweater untuk pergi kesekolah nanti.
Dengan segala kesedihannya,gadis itu menyiapkan dirinya untuk pergi kesekolah.
Setelah dua puluh menit Starla menyiapkan penampilannya dan segala keperluannya untuk sekolah,ia melangkah menuju pintu apartemennya.Lalu mengendarai motornya dengan kecepatan penuh.
Setelah sampai di sekolahnya,ia disuguhkan dengan pemandangan yang membuatnya sesak.
Starla menatap nanar pemandangan didepannya,kemudian mengalihkan pandangannya agar tidak terlalu lama menatap objek yang membuatnya sesak.
Objek yang dimaksud adalah Caramel dan Faris yang sedang bersendau gurau disana,tepat dihadapannya.
Dengan wajah datar dan tatapan dinginnya,Starla melewati kedua orang itu dengan santai.Kemudian gadis itu menoleh sejenak ke Caramel lalu menghunuskan tatapan tajamnya.Caramel tersenyum,bagi Starla senyuman itu seperti senyum mengejek.
Faris melihat Starla datar,sebenarnya ia sangat ingin memeluk gadis itu untuk menghilangkan rasa rindu yang menggebu dihatinya,tetapi ditahannya dengan sebuah kalimat yang seperti matra baginya.
'Starla nggak butuh lo'
Disisi lain,Starla memasuki kelasnya lalu menduduki dirinya di kursinya.Ia menoleh saat dirasa ada yang duduk disebelahnya.
"Kenapa?" tanya Riana,Starla hanya diam kemudian mengalihkan tatapannya ke buku diatas mejanya.Ia menulis pr yang belum dibuatnya.
"Tumben nggak nyontek" sindir Riana lalu terkekeh.Sahabatnya ini memang selalu mencontek setiap ada pr,tapi sebenarnya Starla bisa mengerjakannya dengan otak encernya hanya saja gadis itu sangat malas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Starla
Teen FictionJudul awal: Strong girl [Open Pre-order] Starla Khayla Hardikusuma. Nama yang indah, namun tidak dengan hidupnya. Gadis remaja itu harus mengalami pahitnya hidup di saat remaja seumurannya masih memikirkan masalah sekolah. Dia selalu diabaikan, diac...
