cinta pertama itu mulai mendekat

27 4 1
                                        

Masa yang paling di tunggu para remaja telah tiba, masa dimana para remaja mulai mencari jati dirinya. berlaga seolah olah, mereka sudah dewasa. Menghalalkan segala cara agar bisa mencapai apa yang mereka ingin gapai.

Masa dimana cinta monyet itu kini sudah menjadi seekor gorila. Yang membabi buta, mengusai separuh dari jalan pikiran kita. Dimana rasa ingin tahu dan penasaran semakin menghantui di sepanjang malam.

Putih abu abu ini seolah menjadi cambuk bagi sang pujangga hati agar dia lebih keras lagi mengejar sang cinta sejati.

4 tahun sudah lamanya, Valdo menahan sesak di dadanya ini. Sejak awal bertemu,nama Diandra tidak bisa lepas dari pikirannya. Dalam setiap hembus nafasnya, dia selalu mengkwatirkan cinta pertamanya itu. Tapi saat itu, hari yang paling di benci olehnya hari dimana Valdo dengan cerobohnya mengatakan hal bodoh yang membuat Diandra menghindarinya.

"Andai dia tahu kalo waktu itu aku tidak bercanda, itu benar tulus apa yang aku rasakan" gumamnya sambil merebahkan tubuhnya di ranjang kesayangan sambil menatap langit langit kamar yang di hiasi lampu pijar berukuran lumayan besar.

Kini mereka berpisah sekolah, Diandra adalah murid teladan dia selalu mendapat biasiswa di sekolah favorit di kotanya, sedangkan Valdo hanya mengandalkan keahliannya dalam bermain Voli dan tidak semua sekolah bisa menerima itu.

Tapi tanpa sepengetahuan Diandra Valdo setiap hari mengawasinya dari jauh, pagi berangkat sekolah Valdo selalu menglihat Diandra masuk gerbang sekolah dengan senyum yang selalu dia pancarkan. Pulang sekolah Diandra menunggu bus yang akan membawanya di halte dekat sekolahnya. Ingin sekali Valdo mengantarkannya pulang, memboncengnya dengan motor Cbr kesayangannya.

Tapi apalah daya, sejak smp Dindra selalu memalingkan mukanya ketika bertemu dengan Valdo. Hingga suatu hari, pulang sekolah di halte bus itu. seperti biasa Dia menunggu bus sambil membaca buku duduk di kursi panjang yang telah di sediakan. Saat itu halte sedang sepi tidak seperti biasanya yang ramai oleh teman sekolahnya yang lain. Mungkin karena hari ini Diandra pulang telat karena ada urusan dengan organisasi osisnya.

Datang seorang pemuda berpakaian serba hitam yang duduk di sampingnya.

" lagi nunggu bus ya neng?" tanya pemuda itu, Diandra membalasnya dengan anggukan dan senyum yang menghiasi wajah cantiknya.

"sendirian gak ada temen ya?" pemuda itu semakin mendekat membuat Diandra mulai tidak nyaman.

" iya bang" jawabnya singkat sambil menggeser posisi duduknya.

"rumahnya dimana sih? pulang bareng abang yuk, mobil abang di parkir di sana dari pada nunggu bis lama" pemuda itu kini sudah berani menggoda Diandra, dia memegang tangan Diandra yang mencoba ingin berdiri menghindarinya.

Tapi tenaganya tidak sekuat pemuda itu, Diandra meronta meminta pemuda itu melepaskan tangannya. Dia berteriak minta tolong, tapi naas tidak ada orang sama sekali yang mendengar teriakannya. Tiba tiba dari belakang pukulan keras menghantam tengkuk pemuda itu. Dia tersungkur jatuh, Diandra yang ketakutan segera menghindar. Valdo datang memukulnya dan membawa Diandra pergi.

Valdo menggandeng tangan Diandra membawanya lari ketempat yang aman, dimana dia meletakan motornya.

"loe gak apa apa kan Ndra?" tanya Valdo memastikan gadis yang di cintainya itu baik baik saja.

"gue baik baik saja" jawab Diandra dengan nafas yang masih tersengal

"ayo gue anterin pulang, ini sudah sore nanti orang tua loe bisa kwatir" sambil memberikan helm pada Diandra.

"loe bisa pulang sendiri, terima kasih sudah menolongku" jawab Diandra sambil menunduk sepertinya dia tidak ingin melihat muka Valdo.

" Ndra.. loe hampir saja dalam bahaya dan sekarang loe masih mau pulang sendiri? kalo loe di jalan ketemu orang kayak gitu lagi gimana?"

"gue bisa naik angkot"

" mana ada angkot jam segini, ini sudah hampir mahgrib. gue bisa nganterin loe sampai rumah, gak usah bayar gratis"

" tapi..."

" kenapa sih ndra? apa susahnya naik trus pulang sampai rumah, gue juga langsung balik" tapi Diandra trus mematung tanpa sepatah katapun.

"lama loe sini naik" di tariknya tangan Diandra memaksanya naik ke atas motornya dan memakaikan helm yang telah valdo siapkan.

"jangan lupa pegangan!"

"udah, gue udah pegangan." ucap Diandra

"mana? gak ada" sambil menoleh kebelangkang, Valdo melihat tangan tangan Diandra yang memegang erat handle belakang morotnya.

"busyet dah.. sini tangan loe" menarik tangan Diandra di letakannya dan meletakannya di pinggang ramping milik Valdo.

" pegangan yang kenceng gue mau ngebut nih," Diandra hanya pasrah karena ini pertama kalinya dia naik motor setinggi itu, biasanya cuma naik motor bebek milik ibunya.

Roda motor Valdo menelusuri gang demi gang mencari jalan pintas agar segera sampai rumah sebelum maghrib. Motornya berhenti di sebuah rumah sederhana berwarna hijau muda, di depan rumah ada taman kecil yang penuh dengan bunga angrek dan beberapa burung sangkar burung menggantung di sebelah kiri teras rumah itu.

" buruan turun, mau tidur di pundak gue?

"kok loe tau rumah gue" Sambil menyerahkan helm pada sang pemiliknya.

"udah gak penting, buruan masuk udah sore entar lagi mahgrib" terdengar suara teriakan Della adik Diandra dari dalam rumah.

"bu.. kakak udah pulang" Diandra segera menuju dalam rumah, Della sudah menunggu di ambang pintu di susul ibunya dari belakang.

"assalamualaikum.."

" waalaikumsalam.. kok sore banget sih kak pulangnya, sama siapa?" melihat Valdo yang berjalan mendekati mereka.

"ngapain loe turun sihh, katanya mau langsung pulang" gumam Diandra yang melihat Valdo sudah mendekat dan bersalaman dengan ibu dan adiknya.

" maaf tante pulangnya telat, tadi masih ada kegiatan di sekolah"

" hemm.. kalian satu sekolah?" tanya Bu Ani yang melihat kejanggalan di antara mereka, karena Valdo dan Diandra memakai seragam yang berbeda.

".. ohmm.. ini tante, kegiatan kerja sama antar sekolah gitu tante. seperti latihan Eks school bareng begitu tante"

" iya sudah ayo masuk dulu,nak! siapa namamu ?"

" Valdo tante, mohon maaf saya langsung permisi pulang. sebentar lagi sudah maghrib. mohon maaf lain kali saya main lagi tante. permisi"

" begitu ya.. ya sudah, hati2 yaa.."

" iya tante, assalamualaikum"

" waalaikumsalam" jawab mereka bertiga hampir bersamaan.

🌸🌸🌸🌸🌸

"den.. aden..nenek sudah nunggu di bawah makan malam den" Suara bi Asih dari balik pintu.

"ayo bi turun makan bareng" Valdo keluar dengan senyum memringah di wajahnya, rangkulnya mbok asih yang sudah menemaninya dan nenek beberapa tahun terakhir.

"Aden hari ini beda banget, dapat cewek baru lagi ya" goda mbok asih

" ah.. bibi biasa aja. emang kalo dapat cewek baru aku selalu seperti ini ?"

" yaaa.. enggak juga, biasanya setiap mbok panggil pasti masih pakai seragam sekolah, masih kucel belum mandi lagi" sambil meletakan piring untuk sang nenek.

" sepertinya cinta itu mulai mendekat bi" gurau sang nenek

" ah.. eyang. ayo makan makan.."

" hhaha..haha.. cucu eyang sekarang sudah besar, kalo dia sudah mendekat jangan kasih celah bagi orang lain. dan jangan pernah biarkan dia pergi meski itu satu detik saja."

"eyang... eyang.. sudah yaaa ayo makan.. makan.."

" aden maluu buk..hahhaha" nenek dan bibi tertawa bersamaan melihat pipi Valdo yang memerah bak buah delima yang merekah.

i will still love u (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang