perpisahan

22 3 0
                                        

Valdo bergegas keluar dari kamarnya mengambil helm kesayangannya.

" bi.. tlong sama nenek aku mau pergi dulu"

"pagi pagi begini mau kemana den, bukannya sebentar lagi mau berangkat ke stasiun"

" bentar bi, nanti juga balik kok"

Motor gede miliknya melaju dengan kencang membelah jalanan ibu kota yang masih sepi.

"dia udah bangun" gumamnya ketika melihat di sebuah rumah. Di salah satu kamarnya terlihat siluet si pemilik kamar sedang duduk dan membaca buku.

"Ndra...ndra..hussss" Valdo mengetok jendela kamar itu. Diandra kaget siapa pagi buta seperti ini yang berani mengetok kamarnya.

" Valdo? ngapain lo ke sini? loe gila apa?"

" iyaa gua gila, gua gila karena gua gak bisa lupa sama wajah loe"

" sinting loe, sono deh pulang, ganggu orang aja"

" gua mau pindah rumah, nenek sekarang semakin tua ayah memutuskan untuk membawa kita ke pulau sebrang"

" trus hubungannya sama gue apa?"

" Gua mau mau pamit sama loe Ndra, gua yakin gua pasti akan kangen banget sama loe. Dan ini gue mohon loe terima ini" sambil menyerahkan kotak kecil pada Diandra.

"apaan ni, enggak usah deh, gak.perlu kayak gini"

" gua mohon Di, gua tau loe masih marah sama gua. tapi asal loe tahu apa yang gua ucapin waktu sd dulu tukus dari dalam hati gue"

" udah deh.. gak usah bahas itu lagi. gue udah gak inget"

" Terserah loe mau bilang apa Ndra, yang penting perasaan ini gak akan pernah berubah"

" apa sihh mau loe Do, buruan ngomong deh"

" gue mau bilang, jaga diri loe baik selagi gua gak ada. gua selalu sayang sama loe dari dulu" Diandra hanya diam memasang muka sinisnya. Valdo tau Diandra masih membencinya, tapi dia juga tidak bisa membohongi perasaanya selama ini.

Valdo pamit dan pergi meninggal Diandra. Sepasang mata bulat itu tidak lagi melihat sosok lelaki yang selalu ada saat dia butuhkan beberapa tahun terakhir ini. Ada perasaan aneh ketika Valdo benar benar lenyap dari pandangannya.

Pipinya terasa hangat, mata bulat itu mengeluarkan tetesan bening yang mengalir deras saat kedua tangannya membuka kotak kecil yang Valdo kasih padanya. Ada sebuah kalung berliontin separo hati cantik sekali.

Di bukanya liontin itu, ada foto Valdo yang sedang tersenyum manis dengan seragam putih abu abunya yang penuh coretan. Itu menandakan bahwa sudah lulus kemarin sama seperti Diandra. Tapi Diandra tidak mencoret baju seragamnya.

"bodo. ngapain gue nangis" menutup kembali kotak itu dan segera mengusap pipinya yang telah banjir air mata.

Berdirilah dia, menuju kamar mandi dan mengambil air wudlu. Dia ingin menenangkan diri, mencurahkan apa yang dia rasakan saat ini pada sang ilahi.

"assalamu'alaikum wr.wb" ucap Diandra saat dia telah menyelesaikan gerakan terakhir pada sholatnya.

Ditadahkanlah kedua tangan mungilnya, matanya memejam, bibirnya komat kamit membaca doa yang dia panjatkan.

" ya alloh ya tuhanku, Tuhan yang maha mengetahui semua yanga da di muka bumi ini, dzat yang dengan mudahnya membolak balikan hati ini.  Selalu lah jaga hati hamba ini ya alloh, teguhkan lah dia ya alloh jangan biarkan hati ini di kuasi oleh setan ya alloh. Dan selalu jagalah dia ya alloh, selalu jagalah dia di manapun dia berada ya alloh. Amin" Di usapkannya kedua telapak tangan itu keseluruh permukaan wajahnya.  Diandra tidaak mengerti apa maksut doanya tadi, siapa "dia" yang Diandra maksut.

i will still love u (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang