Di sinilah aku sekarang, duduk manis di kursi pojok sisi jendela dalam sebuah kafe yang terletak di lantai tiga bersama Li yang berpenampilan feminin. Li terlihat gelisah sejak keluar dari rumah karena tatapan orang-orang yang terhipnotis oleh kecantikannya, tapi tak berani menyapa atau mengajak berkenalan karena simbol Hillion yang terlihat jelas pada kalung di lehernya.
"Yi, kurasa bukan tuan Habel saja yang akan terpikat", aku melirik ke arah mana Li melihat dan menemukan tuan Xilan yang baru saja masuk ke dalam kafe ini. Apa yang dilakukan anak seorang anak kepala kota Margarret di sini? Lihat, dia bahkan melirik kaki jenjang Li yang menyilang.
"Jangan terlalu percaya diri, Li. Tuan Xilan tidak menyukai jalang", itulah yang dia katakan dalam wawancaranya. Aku tidak tertarik dengan hal seperti ini, apa lagi dengan teh yang sudah mendingin dalam cangkir yang kuminum ini.
"Hai, boleh aku duduk di sini", jadi tuan Xilan menjilat muntahannya sendiri? Dia duduk di depanku tanpa menunggu persetujuanku, orang sepertinya selalu berpikir bisa mendapatkan apapun.
"Tuan, aku takut kau harus pindah tempat karena aku menunggu seseorang di sini", aku tidak ingin sebuah omong kosong. Jika seseorang melihat ini, dipastikan aku akan masuk dalam berita gosip selebriti besok dan menarik banyak perhatian. Aku yakin tuan muda Gege akan pulang saat mendengar kabar itu, tapi kenapa dia belum menelponku sejak kemarin?
"Kau keberatan aku menemanimu selama orang yang kau tunggu belum datang?", dia mulai memaksa dengan senyum lebar yang tak pernah luntur dari wajahnya sejak melihat Li. Padahal dia selalu dingin di depan kamera.
"Tidak, sebuah kehormatan bisa ditemani tuan Xilan", mengusirnya sama saja meminta diriku dilempar dari kota ini.
"Biarkan aku mentraktirmu satu kue favoritku sebagai awal pertemanan kita", teman sepihak? Apa yang sebenarnya dia inginkan?
"Terimakasih, lain kali aku akan membalasnya atau ada yang tuan Xilan inginkan?", kalau bukan karena peraturan keluarga Hillion dan jabatannya, aku akan mengabaikan dan meninggalkannya.
Pelayan kembali dengan makanan yang dipesan oleh tuan Xilan dan yang ditraktirnya adalah sepiring kue coklat. Apa aku harus menolaknya?
"Kau pasti menyukainya", menyukainya? Aku menahan muntahanku sejak melihat wajahmu. Maaf saja, aku tidak ingin sekarat hanya untuk menghormati orang sepertinya.
"Apa ada yang salah?", tuan Xilan menompang dagunya dengan sebelah tangan, memandangku cukup lama.
"Terimakasih untuk kuenya tuan. Tapi, aku alergi pada coklat", lagi pula aku tidak tertarik dengan pion yang satu ini.
"Maafkan kelancanganku", amatiran, akting yang sangat buruk.
"Bukan masalah, maaf menolak pemberian pertama tuan", dari berpura-pura menyukainya, sebaiknya menunjukkan sikap bosanku bisa membuatnya pergi.
"Tidak, aku senang bisa mengetahui makanan apa yang membuatmu alergi. Bukankah itu artinya kita akan bisa saling memahami", dia semakin membuatku bosan di tempat ini.
"Wah, aku tidak menyangka bisa bertemu dengan tuan Xi di tempat seperti ini", sejak kapan tuan Habel berdiri di sini? Seorang mafia benar-benar berbeda.
"Jadi, seperti kesepakatanku. Tolong jangan menolak yang satu ini", tuan Xilan bangkit dari duduknya dan memberi kartu namanya dengan nomor telpon yang tertera di sana, mengabaikan kedatangan tuan Habel.
"Cih, tikus yang lupa sarangnya", sepertinya tuan Habel lupa dari mana asalnya sampai-sampai tak sadar juga menghina dirinya sendiri.
"Maafkan keterlambatanku. Apa kau sangat lama menungguku?", apa-apaan wajah bersalah itu? Pembohong yang handal.
KAMU SEDANG MEMBACA
1% Mistake
ActionKau ingin aku menjadi apa? Masokis? yang suka disakiti Maniak gila? yang selalu mengejarmu Atau Psikopat yang berpura-pura manis dan membunuhmu perlahan sampai mati. Ayo katakan, aku bisa berperan seperti yang kau inginkan. Tapi itu tidak gratis, te...
