11

32 9 0
                                    

Weekend adalah hari yang sangat ditunggu tunggu jelita, karena apa? dia hari ini jalan sama Alvin.

Alvin bilang akan menjemputnya, jadi dia tinggal duduk manis menunggu kedatangan Alvin.

Entah jelita yang terlalu pagi atau alvin yang telat tapi sudah 1 jam jelita menunggu di halaman rumahnya Alvin tak kunjung menunjukan diri.

Saat melihat jam di tangannya dia langsung menepuk jidatnya.

"Anjir gue kepagian, baru jam 7 juga." Jelita merutuki dirinya yang terlalu bersemangat ingin segera bertemu Alvin.

Padahal mereka janjian jam 9 pagi, jelita bermaksud untuk kembali ke dalam rumahnya tapi tiba tiba ada klakson yang menghentikannya dan memaksanya untuk melihat siapa orang itu.

Jelita langsung tersenyum senang saat melihat Alvin disana dengan style kaos hitam polos dan jeans hitam ditambah jaket kulit menambah ketampanan Alvin.

"Bukannya jam 9?" Tanya jelita menghampiri alvin.

Dengan masih di atas motornya Alvin membuka helmnya lalu berkata bahwa dia bangun kepagian.

"...Gue keinget lo." Ucapan manis Alvin membuat Jelita tersipu malu.
"Mau masuk dulu atau jalan sekarang?" Tanya Jelita dengan nada antusias.
"Langsung aja, biar lama." Lagi lagi Alvin membuat Jelita tersipu.
"Yaudah bentar gue ambil tas sama jaket dulu." Dan hanya diberi anggukan oleh Alvin.

Jelita berjalan ke arah Alvin dengan bahagia, dia melihat Alvin memainkan hp nya entah apa yang sedang dilakukannya tapi sesekali Alvin tersenyum.

"Yuk." Alvin langsung memasukan hp saat pundaknya di sentuh Jelita sambil tersenyum Alvin memberikan helm nya pada Jelita lalu menyalakan motornya.

Dia kira Alvin akan memakaikannya helm seperti yang dilakukan Reza padanya, Eh... Kok gue jadi inget Reza sih, segera dia menggelengkan kepalanya berusaha menghilangkan yang baru saja dia ucapkan.

Saat di motor tak ada percakapan yang terjadi, dari tadi pikiran jelita hanya pada orang yang ada di hadapannya ini, sesekali dia mencuri pandang pada kaca spion Alvin..

Perlahan namun pasti jelita menempatkan tangannya untuk memeluk Alvin, tapi tiba tiba alvin ngerem dadakan membuat Jelita benar benar memeluk Alvin.

"Peluk aja ta, gpp." seakan tau apa yang ada di pikiran Jelita, Alvin melihat jelita dari kaca spion, Jelita malu tapi tetap memeluk Alvin.

Rasanya hari ini adalah hari keberuntungannya.

***

"Lo orang kedua yang gue ajak kesini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Lo orang kedua yang gue ajak kesini." Alvin dan Jelita berjalan beriringan menikmati laut dan suasana dipantai yang tenang.
"Emang yang pertama nya siapa?" Tanya Jelita penasaran, dia kira dia adalah orang pertama yang diajak Alvin kesini.

"Dena, gue sama dia selalu kesini buat sekedar menenangkan diri dan ini tempat pertama yang pasti gue datengin kalo lagi banyak masalah." Alvin bercerita tentang tempat ini, tapi entah kenapa dia sedikit kecewa saat mengetahui Dena adalah orang pertama yang diajak Alvin.

"Dan sekarang lo juga boleh kesini kalo lagi ada masalah." Alvin mengakhiri kalimatnya dengan menatap Jelita dari samping Jelitapun begitu menatap Alvin lalu tersenyum.

Mereka memutuskan untuk duduk di atas pasir sambil menatap kearag laut.

"Gue sama Dena udah sahabatan dari SMP." mendengar itu dari Alvin, Jelita merasa bersalah sudah salah paham. Pantas Dena orang pertama, mereka sudah sahabatan dari SMP fakta itu sedikit membuat Jelita tenang.

"Tapi karena kesalahan gue sendiri, dia jadi benci sama gue." Alvin melempar batu kerikil ke arah laut, jelita masih menyimak masih menatap ke arah laut.

"Lo mau tau sesuatu gak?" Tanya Alvin.
"Apa?" Tanya Jelita tapi masih menatap kearah laut.
"Gue suka sama Dena dari SMP." Fakta itu membuat Jelita menatap Alvin tak percaya.
"Sahabatan cuma kedok buat nutupin bahwa gue suka sama dia, pas dia tau gue suka sama dia dia benci sama gue." Jelas Alvin lalu menatap Jelita.

Hatinya sakit mendengar fakta itu, dia masih menatap Alvin dengan tatapan kosong karena pikiran nya entah kemana , hatinya belum siap mendengar fakta menyakitkan itu, dia seperti sudah di ditembak sebelum perang.

"Ke-kenapa lo cerita sama gue?" Tanya Jelita dengan berusaha menahan air matanya agar tak jatuh.
"Karena lo sahabat Dena, dan gue pikir lo bisa buat gue deket lagi sama dia." Alvin berujar kata yang menyakitkan itu dengan senyuman yang membuat jelita tak bisa berkata apapun.

Dan satu lagi fakta menyakitkan, Jelita hanya sebagai perantara untuk mendekatkan Alvin dan Dena kembali setelah kejadian masa lalu yang membuat mereka menjauh.

"Lo mau kan?" Tanya Alvin menatap Jelita, jelita yang di tatap seperti itu seketika menatap ke arah lain lalu menghapus air matanya kasar.

Lalu berdiri, menatap Alvin yang masih pada posisi duduknya.

"Gue gak yakin bisa buat kalian deket lagi, tapi gue usahain." Jelita tersenyum palsu hanya untuk menyenangkan Alvin dan menenangkan hatinya.

Alvin yang mendengar itu langsung berdiri lalu memeluk Jelita.

Jelita memanfaatkan moment itu untuk melampiaskan rasa sakitnya, dia memeluk Alvin dengan erat.

Sepertinya langit mendukungnya, hijan tiba tiba turun dan itu membuat Jelita bisa leluasa untuk menangis di pelukan Alvin.

"Ta hujan, kita berteduh." Alvin ingin melepaskan pelukannya tapi ditahan jelita.
"Vin biarin kayak gini lagi sebentar, gue lagi ada masalah." Ujar jelita lalu dia menangis sambil mengeratkan pelukannya lagi.

Alvin mengerti, lalu membiarkan Jelita memeluknya. Alvin juga membalas memeluk Jelita memberi kehangatan dibawah guyuran hujan.

"Kalo ada masalah lo bisa cerita sama gue." Ucap Alvin mengelus rambut Jelita.
Jelita hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Gue bakal pake cara yang sama, sama kayak lo sama Dena, sahabatan cuma kedok."~Jelita.

***

"Ngapain sih lo kemarin hujan hujanan segala kan jadi kayak gini." Ucap Rena pada jelita.

Mereka bertiga, Rena, Dena, Jelita tengah berada di toilet. Sebelum pulang mereka bermaksud untuk ke toilet dulu, untuk memperbaiki riasan mereka.

"Kenapa sih lo hujan hujanan?" Tanya Dena, Jelita menatap Dena kemudian tersenyum beruntung jadi lo, Na. Alvin suka sama lo. Gumam Jelita.

"Lagi pengen aja, udah gak usah sewot gitu nanti juga sembuh." Jelas Jelita.

Saat Rena akan menceramahi Jelita, mereka mendengar suara dari bilik toilet.

"Kalian denger sesuatu gak?" Tanya Dena.
"Jangan jangan hantu lagi." Ucap Rena.

Jelita dengan perlahan berjalan ke arah sumber suara.

"Ta hati hati, klo liat setan lo teriak aja." Ucap Rena berbisik.

Saat Jelita membuka pintu toilet, dia terkejut mendapati seorang siswi dengan pakaian tak beraturan lalu basah kuyub.

"Jihan."

~

YOUTHTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang