Tiga Puluh Sembilan

45.2K 1.6K 25
                                        

Zeyan masuk ke rumahnya dengan langkah terburu buru bercampur dengan rasa kesal akibat mendengar penjelasan Rafi di rumah sakit. Ya, setelah di paksa akhirnya sahabatnya itu mau menceritakan apa yang membuat Sindy sampai masuk ke rumah sakit.

"Yan, kok gak angkat telpon aku sih?"

Suara Aviela menyambutnya ketika memasuki kamar "Maaf tadi gak sempet Vi"

"Hmm iya tapi siapa yang sakit? Alfa?"

Zeyan menggeleng, apa harus ia memberitahu Aviela? Bagaimana jika gadis itu akan panik dan khawatir secara berlebihan?

"Yan! Jawab aku, kamu tinggal bilang siapa yang sakit"

Zeyan menghela nafas untuk kesekian kalinya "Sindy masuk rumah sakit"

Aviela membulatkan matanya "Kenapa tadi gak kasih tau aku? Aku mau kesana Yan" Gadis itu sudah hendak bangun dari kasurnya namun langsung di tahan oleh Zeyan.

"Viela, gak. Ini udah malem,Sindy perlu istirahat"

"Tapi Yan, aku mau ketemu Sindy" Ujarnya dengan rasa khawatir yang begitu terlihat jelas.

"Besok aja ya, besok Sindy udah di bolehin pulang. Kita ke rumah nya" Zeyan mendekap istrinya itu. Kepala Aviela ia sandarkan pada dada nya. Berusaha membuat Aviela tenang dan tidak terlalu panik.

Mau tidak mau Aviela mengangguk kemudian mendongak menatap zeyan
"Sindy sakit apa?"

"Maag nya kambuh"

Aviela secara spontan terduduk tidak dalam dekapan Zeyan lagi "Yan, Sindy gak kenapa kenapa Kan? "

Zeyan mengernyit melihat respon istrinya itu "Gak kok, pas aku mau pulang juga dia udah membaik. Besok juga udah boleh pulang"

"Tapi dulu Sindy harus di rawat di rumah sakit satu minggu Yan. Soalnya kalo maag nya kambuh, pasti dia ngerasa sesak dan susah nafas,aku takut dia kayak gitu lagi"

"Kamu tenang vi, Sindy udah baikan. Besok Kita jenguk dia"

Aviela mengangguk pelan, ada lagi hal yang ingin Zeyan ceritakan pada gadis itu. Hal yang membuatnya ingin memberikan sebuah bogeman keras untuk Rafi. Karena menurut Zeyan, hal yang di dengarnya itu tidak seharusnya di rahasiakan oleh Rafi pada nya.

"Kamu kenapa Yan?" Tanya Aviela yang melihat aneh pada suaminya.

"Hah? Engga kenapa kenapa Vi. Udah tidur gih, aku mau cuci muka sama ganti baju dulu. Soalnya lengket banget udah dari pagi"

"Iya"

Aviela membaringkan tubuhnya di kasur seraya menarik selimut sampai pada batas lehernya. Sedangkan Zeyan pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.

Selesai dari kamar mandi, Zeyan kini mengganti baju nya. Kemudian ikut merebahkan dirinya ke kasur serta menarik selimut yang sama dengan Aviela.

Zeyan mengambil handphone di tangan Aviela yang sedari tadi gadis itu terlihat fokus pada benda pipihnya itu.

"Yan, aku lagi nunggu balesan chat dari Qila" Protes Aviela pelan karena Zeyan dengan tiba tiba merebut ponselnya.

"Qila gak bakal bales, dia lagi di rumah sakit. Kita tidur sekarang besok siang langsung jenguk Sindy" Tangannya menarik tubuh Aviela agar lebih mendekat padanya, kemudian di peluk lah oleh Zeyan sampai mereka tertidur dengan posisi masih berpelukan seperti itu.

°°°

Pagi nya, Keduanya sudah bersiap siap untuk menjenguk Sindy dan dari kabar yang Zeyan dapat dari Alfa, Sindy pulang ke rumah Qila pasalnya kedua orang tuanya sedang berada di luar Kota. Itupun sepertinya karena paksaan dari Qila.

My Bad Husband [Completed] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang