"Kirani... Mama rindu Kirani yang dulu. Kapan Kirani peluk mama lagi? Kapan Kirani tersenyum lagi seperti dulu? Kapan Kirani bercerita seperti dulu? Kenapa semuanya berubah? Mama salah. Iya. Mama penyebabnya. Mama udah buat Kirani sedih, dan kesedihan Kirani sangat dalam. Kirani bisa maafin mama? Mama rindu dengan Kirani. Mama rindu pelukan Kirani. Mama rindu suara tawa Kirani,"
"Kirani udah besar sekarang. Walaupun tanpa pelukan, dan tawa darimu lagi, Mama udah bahagia lihat kamu tumbuh besar, Kirani. Kirani, mama sayang sama Kirani, begitu pula Karina. Percaya sama mama kalau mama juga menyayangi Karina. Kalian berdua adalah belahan jiwa mama. Kapan kalian menyadarinya? Mama ingin kita seperti dulu,"
"Karina... Mama minta maaf. Karena mama, kamu harus pergi saat itu. Mama merawatmu dari kecil, dan... Kau pun pergi karena mamamu ini. Sungguh, mama sangat bersalah. Karina, mama sayang sama Karina. Karina, dan Kirani, kalian saling melengkapi, disaat-saat segalanya harus berakhir hancur, kalian tetap bersama, hingga mama dan papa menghancurkan kebahagiaan yang telah kalian bangun bersama. Dirimu pergi begitu saja. Tanpa ada salah sama sekali, kau pergi, Karina.. Maaf.."
Sarah, perempuan paruh baya itu menangis dalam diam. Dirinya menyesali segala yang telah terjadi. Dirinya membuat anaknya pergi! Bagaimana perasaannya? Anak yang ia rawat dari kecil pergi meninggalkannya karena dirinya.
Ia membuka pintu kamar Kirani, dan melihat anaknya itu tengah duduk dimeja belajarnya dengan banyak tumpukan buku dihadapannya.
"Kirani,sayang? Kerja tugas?" Tanyanya takut-takut, tetapi rasa rindunya lebih kuat dari pada rasa takutnya. Ia berusaha mendekati anaknya kembali.
"Kenapa?" Jawab Kirani ketus.
"Mama rindu sama kamu, nak.."
"Rindu? Kenapa rindu? Kan mama yang sibuk bekerja sampai lupa bahwa ada Kirani dirumah ini," Tutur Kirani sambil terus mengerjakan tugas Fisikanya.
"Maafin mama Kirani... Mama udah kehilangan salah satu bagian terindah dari hidup mama. Mama minta maaf udah merebut kebahagiaan kamu bersama Karina," isak Sarah membuat Kirani jengah.
"Udah, Kirani udah bosan dengerin permintaan maaf mama. Apa mama pikir dengan mama minta maaf dengan Kirani, Kak Karina hidup lagi?! TIDAK, MA! BERHENTI MINTA MAAF SAMA KIRANI! MAMA MINTA MAAF SAMA KAK KARINA AJA, JANGAN SAMA KIRANI!" Bentak gadis itu kesal, membuat air mata Sarah berderai.
"Ki.." Sarah berusaha menenagkan Kirani. Ia memegang pundak Kirani.
"Gak, usah pegang-pegang! Keluar dari kamar Kirani!" Kata Kirani dengan nada tajam.
Sarah melangkah gontai keluar dari kamar anaknya. Pupus sudah mimpi besarnya. Ia sudah terlambat. Biarlah Kirani membangun kebahagiaannya sendiri.
****
Kirani menatap kosong langit-langit kamarnya. Tak terasa, setitik air matanya mengalir. Air mata kesedihan yang teramat dalam? Mungkin.
Sejak kepergian Karina, Kirani tak pernah lagi tersenyum, atau bercerita dengan mamanya. Hatinya masih sangat sulit untuk memaafkan pertengkaran kedua orang tuanya. Karena orang tuanya pula, Karina meninggal. Suatu kejadian yang sangat membekas dihati dan pikirannya.
Hanya terdengar isakan dalam rumah itu. Menggema, dalam hening. Penuh kesedihan masing masing.
Butuh waktu yang lama untuk mengikhlaskan kepergian Karina. Kirani sendirian, sendirian menanggung kesedihannya.
Sungguh tragis. Kirani berharap dirinyalah yang seharusnya tertabrak malam itu. Mengapa? Agar ia tak lagi harus mengalami hal ini.
Walaupun banyak orang yang selalu ada untuknya, ia sadar, segalanya tak sama seperti dulu, saat Karina ada, dan saat Karina tiada.
Ia bangkit dari posisi baringnya, menuju ke kamar mandi.
Kirani memenuhkan air didalam Bathtubnya, lalu ia merendamkan seluruh tubuhnya. Rasa dingin menjalar keseluruh tubuhnya. Ia tak peduli. Ia membiarkan tubuhnya didalam air tersebut.
****
"Kau bodoh, Kirani! Kau menyia-nyiakan hidupmu!" Terdengar sahutan dari sekeliling Kirani.
Kirani membuka matanya. Ia menatap tangannya yang membiru karena dingin.
"Siapa yang membawaku ke kamar? Seingatku... Aku di kamar mandi!" Batinnya berkata.
"Key? Sudah sadar?"
"Ben? Kenapa disini?" Tanya Kirani sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Sadarlah princess! Lo berniat membunuh diri lo sendiri tadi malam! Untung saja tadi gue pengen jemput lo, dan mamali memanggil gue karena terkejut melihat seluruh badan lo membiru didalam Bathtub!" Jelas Ben sambil memegang telapak tangan Kirani yang masih terasa dingin.
"Key, gue gak suka lihat lo nyakitin diri lo sendiri! Kalau lo ada masalah, cerita sama gue, Princess... Gue selalu ada buat lo,"
Kirani mengangguk. Lalu tersenyum. Dingin, sangat dingin. Sayang, itu tak berhasil.
"Nih, gue tadi beli bubur. Makan dulu ya, ninii.." Kata Benedct sambil memegangi mangkuk berisi bubur.
Benedct menyuapi Kirani dengan sabar. Kirani sangat beruntung memiliki orang sebaik Benedct.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mawar Merah
Roman pour AdolescentsBerisik? Itu kepribadian Kirani. Ia tak bisa diam, tapi gak sulit diatur. Itulah yang membuat Kennand kepincet gak keruan dengannya. Kirani. Ia bertemu dengan pria itu. Pria yang membawanya keseluruh ingatan lamanya. Semua kebersamaan mereka...
