Pagi hari itu, terik matahari menerobos masuk kedalam kamar Avria. Gadis itu menggeleyut dalam tidurnya yang nyaman dengan AC yang masih menyala.
Samar-samar terdengar suara teriakan dari luar kamarnya. Siapa lagi kalau bukan Arvia, kakak tak tahu diuntungnya. Sangat tak tahu diri. Ia bahkan tak segan-segan menyuruh Avria menuruti segala keinginannya.
"Via!! Bangun!" Suara itu terdengar memekakkan telinga.
Dengan berat hati ia membuka matanya besar-besar, lalu menghampiri kakaknya. Ia membuka perlahan pintu kamar itu, dan mendapati kakaknya tengah menangis terisak. " ada apa ini?" Batinnya bertanya.
"A... Ada apa, kak?" Tanya Avria takut-takut.
"Ayah.. Dan ibu... Mereka.." Tangisnya semakin pecah. Avria mulai kebingungan, keringat dingin berjatuhan dari pelipisnya.
"Ada apa dengan Ibu dan Ayah? Jawab, kak!!" Avria menuturkan pertanyaan demi pertanyaan, membuat Arvia terus menangis, tak tahu apa yang terjadi.
"Kapal yang ditumpangi mereka tenggelam saat akan kembali ke sini, Via... Seluruh penumpang didalam kapal itu meninggal..." Jelas Arvia membuat Avria mulai terisak.
"APA?!" Kepalanya pening seketika karena panik. Dirinya ambruk begitu saja saat tahu bahwa kedua orang tuanya menjadi korban tenggelamnya kapal yang seharusnya tiba siang ini.
****
Apa yang terjadi selanjutnya? Avria tak tahu. Sejak ia mendengar kabar bahwa kedua orang tuanya telah tiada, Arvia menjadi liar. Ia menjadi anak pembangkang, tak seperti dulu. Ia menjadi anak yang suka tawuran, bahkan stylenya pun tak tampak seperti perempuan lagi. Rambutnya yang panjang, ia cukur pendek hingga menyerupai laki-laki—entah apa yang ada di pikiran kakaknya itu.
Avria hanya mengurung diri dikamar. Seharian, tanpa ada yang menemani. Toh, tak ada yang peduli dengannya. Bahkan seorang teman saja tak ada.
Untung saat itu ia sudah mendaftar di sekolah lanjutannya, kalau tidak, ia tak mungkin masih bersekolah sekarang. Ia tak banyak memilih, ia hanya bisa diam dalam keterpurukannya.
"Hai, nama gue Avria Felicias Arthur. Gue 16 tahun, dan gue dari SMP 15," tutur gadis bertubuh kurus, dan berambut pendek yang tengah berdiri didepan kelas, memperkenalkan dirinya.
Senin, 24 Mei menjadi hari yang paling berkesan bagi Avria. Bagaimana tidak? Ia akhirnya memiliki seorang teman! Ya, walaupun kelihatan norak, setidaknya ia berhasil mendapatkan seorang teman.
"Nama gue Sophie Merchy Kurniawan. Gue 15 tahun, gue dari Delphie Junior High School," kini seorang perempuan berperawakan sedang dengan rambut panjang, dan ponsel iPhone X ditangannya tengah memperkenalkan dirinya—membuat anak-anak lain terkesima melihat Sophie yang tampak elegan, dan sudah pasti bukan dari kalangan biasa saja.
Sophie melangkahkan kakinya menuju bangku kosong disamping Avria. Senyumnya memikat hati. Dirinya membuat suasana menjadi tak kikuk. Avria tersenyum sambil menatap Sophie.
*****
S
etelah hari perkenalan itu, Avria semakin dekat dengan Sophie. Sophie pun dengan senang hati menerima segala kekurangan Avria. Avria tak banyak bercerita mengenai keadaan hidupnya dirumah.
Sore hari, setelah ia pulang sekolah, ia akan pergi ke café dekat rumahnya untuk bekerja, lalu ke rumah Tante Sonya untuk membersihkan rumahnya.
Walaupun ia masih 16 tahun, ia harus melakukan semua itu. Jika ia hanya mengandalkan harta pusaka orang tuanya, ia dan kakaknya mungkin tak sanggup lagi hidup didunia ini.
Disuatu malam itu, Arvia terbatuk keras. Entah karena apa, tanpa pikir panjang, Avria memberikan segelas air hangat pada kakaknya itu. Arvia meneguk air itu perlahan, namun nihil. Batuknya tak kunjung terhenti. Untuk kesekian kalinya, Arvia kembali terbatuk, lalu darah menyeruak dari mulutnya.
Avria menatap nanar Arvia yang terbaring lemah. "Ada apa ini? Aku tak ingin kakak pergi lagi. Aku membenci hidupku! Aku benci!!" Batinnya menjerit.
"Via, kamu jaga diri kamu baik-baik ya... Kakak minta maaf selama ini kakak hanya bisa membebani kamu.. Kak minta maaf. Kakak punya uang tabungan didalam lemari kakak. Pakailah uang itu jika kamu butuh, Via. Semoga kamu baik-baik saja..." Ujar Arvia dengan susah payah. Rintihan terdengar dari mulutnya. Napasnya seolah sudah sebatas leher.
Avria menangis sambil memeluk kakaknya. Arvia memberikan pelukan terakhirnya, lalu tersenyum. Ia memejamkan matanya. Dan, hidupnya hanya sampai sana. Ia pergi meninggalkan segala beban yang seharusnya ia tanggung bersama dengan Avria, dan Avria hanya bisa menangisi kepergiannya.
*****
Tanah pekuburan umum tempat Arvia dimakamkan masih basah. Keadaan sudah sepi. Ia terus saja menangis. Tanpa ada seorangpun yang menemaninya. Apalah daya Avria yang segala harta berharganya telah meninggalkan dirinya sebatang kara.
Kini, ia harus bekerja keras. Menghadapi hidup ini butuh perjuangan, butuh biaya, butuh ketabahan. Dan Avria—ia yakin, suatu saat nanti ia akan membahagiakan kedua orang tuanya, dan Arvia diatas sana. Ia bangkit berdiri, lalu menatap tanah tersebut sambil menghela napasnya, lalu pergi dari tempat itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Mawar Merah
Teen FictionBerisik? Itu kepribadian Kirani. Ia tak bisa diam, tapi gak sulit diatur. Itulah yang membuat Kennand kepincet gak keruan dengannya. Kirani. Ia bertemu dengan pria itu. Pria yang membawanya keseluruh ingatan lamanya. Semua kebersamaan mereka...