Happy reading
****
Azka berdiri tidak jauh dari gerbang panti,memperhatikan anak-anak yang sedang asik bermain,seulas senyum terbit di bibir nya,mungkin mereka tampak bahagia tertawa paling keras,namun di balik itu semua Azka yakin ada sedikit kesedihan di sana,pada mata yang tidak pernah bisa berbohong,ketika anak-anak seusia mereka sedang di manja orang tua,mereka justru di tuntut dewasa.
Ada banyak alasan mereka berada di sana,mungkin keterbatasan ekonomi,orang tua yang tidak bertanggung jawab,atau akibat keegoisan orang dewasa.
Asik melamun Azka tidak sadar jika kenzoe ikut berdiri di dekat nya,memandang Azka dengan kerutan di dahi. "Heh"
Lelaki dengan kemeja yang di gulung hingga siku itu terperanjat ia mengusap dadanya kaget "bang Lo ngagetin sumpah"
Tidak menghiraukan ketertekjutan Azka,Kenzo justru kembali bertanya "ngapain Lo di sini? Biasanya juga langsung masuk? Mau cosplay jadi patung?"
Azka berdengus ia memandang Kenzo dari atas hingga bawah "bang ada yang mau gue ceritain ke Lo,tapi Khanza nggak boleh tahu"
"Apa?"
"Nggak di sini,punya rekomendasi tempat yang enak buat ngobrol?",
Kenzoe berfikir sejenak,lalu mengangguk "ikut gue,kita ke belakang,kebetulan Khanza lagi tidur,itu anak masih belum mandingan"
Tanpa berfikir dua kali Azka mengikuti langkah kenzoe,keduanya duduk di bawah pohon Angsana dengan suasana sejuk.
"Ini markas Khanza,biasanya dia di sini dari pagi sampe sore"
Azka tidak menyahut ia lebih memilih diam dengan pemikirannya. "Bang"
"Hmm"
"Lo pernah bilang,apa yang seharusnya di buang nggak bisa di pungut kembali ia kan?"
Kenzoe mengerutkan kening nya ia mengangguk sekilas.
"Kalau yang di buang bukan makanan,tapi justru sesuatu yang berharga lalu menyesal,kita punya kesempatan untuk mengambil nya kembali kan?"
"Bisa langsung ke inti? Gue nggak paham Lo ngomong apa"
Sejujur nya Azka berat untuk menceritakan semuanya ke kenzoe,karena dia tahu kenzoe tipikal laki-laki yang suka emosian,Azka takut jika apa yang di rencananya justru di tolak mentah-mentah oleh kenzoe.
"Bang gue"Azka menggaruk kepalanya yang tidak gatal ia takut salah bicara.
"Apa sih? Lo nggak jelas banget"
"Gue mau cari orang tua kandung Khanza" ujar Azka cepat tanpa melihat ke arah kenzoe.
Lelaki itu diam cukup lama,Azka tidak ingin memaksa,kalau kenzoe tidak setuju ia tidak akan bergerak. Keduanya masih di Landa keterdiaman selama bermenit-menit kemudian.
"Nggak ada petunjuk apapun,siapapun orang tua Khanza mereka tidak meninggalkan jejak,disengaja atau pun tidak,mereka seolah benar-benar tidak mengizinkan Khanza untuk kembali"
Azka buru-buru menoleh senyum kecil terbit di bibir nya"kalau gue bilang gue punya petunjuk Lo percaya?"
"Tergantung" sahut kenzoe ia kemudian mengeluarkan rokok,menghisap benda nikotin itu hingga berasap. "Kenapa Lo mau tahu hal yang bahkan Khanza sendiri nggak pernah bahas?"
"Gue kenal seseorang,umur nya sekitaran akhir empat puluhan,beliau pernah melakukan kesalahan,dan sekarang beliau merasa hidup nya sia-sia dia kehilangan istri yang begitu di cintai setelah istrinya tahu jika anak yang di lahirkan bukanlah meninggal justru di buang ke panti asuhan"
Kenzoe tertewa sumbang "dia menyesal?"
"Sepertinya begitu,ini cuman asumsi gue tapi sepertinya orang itu memang ada kaitannya dengan Khanza,gue dengar beliau menaruh bayi perempuan itu di sebuah panti asuhan di Bogor"jelas Azka pelan,ia menghela nafasnya berat "bukannya Abang bilang,kalau kalian dari Bogor?kalian pindah ke sini sejak umur Khanza 5 tahun"
Lelaki jakung yang lebih tua empat tahun dari Azka itu berdiri membuang puntung rokok lalu menginjaknya "gue nggak mau ikut campur,tapi kalau Lo mau cari silahkan gue nggak akan ngelarang,Khanza berhak tau yang sebenarnya"
"Beneran bang?"
Kenzoe mengangguk ia berbalik ke arah Azka "asalkan izinin gue tonjok dia beberapa kali sampai rasa sakit dan air mata yang udah Khanza keluarkan terbayar" setelah itu kenzoe pergi dari hadapan Azka.
Sepeninggal kenzoe,Azka menghirup nafas sebanyak-banyaknya,ia tidak menyalahkan kenzoe,jikapun azka yang berada di posisi kenzoe dia akan berlaku sama,setelah di buang layaknya sampah lalu dengan rasa tidak bersalah di pungut kembali hanya dengan sebuah alasan penyesalan.
*••••*
Setelah berbicara panjang lebar dengan kenzoe,kini Azka berada di ruang makan panti yang di isi oleh puluhan anak-anak,ia memerhatikan mereka satu persatu,dengan tingkah yang berbagai macam,ada yang kalem ada juga yang rusuh,Azka terkekeh sendiri.
Sreeeett
Azka mendorong kursi tempat ia duduk "bunda itu buat Khanza kan? Boleh azka aja yang antar?"
"Boleh,sekalian kasih minuman jahe ya biar perut nya mendingan"sahut bunda Aan,lalu menaruh nampan berisi sepiring nasi serta segala minuman jahe.
Mengambil alih nampan,Azka berjalan pelan mengetuk sekali,lalu mendorong,kepalanya menyembul"Khanza aku masuk ya?"
Azka duduk di pinggiran kasur,ia kembali mengusap pelan rambut Khanza yang berantakan,"bangun dulu ya,makan terus minum jahe buatan bunda Aan biar mendingan"
Mendapati Khanza yang berusaha bangun,Azka dengan sigab membantu,lalu mengambil piring menyendok nasi dan menyuapkan ke Khanza "aaa--"
Perempuan itu menggeleng "aku minum ramuan jahe aja ya,nggak ada selera makan aku"
Alis Azka naik ia tidak setuju "kata bunda Aan kamu tadi pagi juga nggak sarapan,gimana mau sembuh kalau makan aja kamu nggak mau"
"Azka,plis aku cuman mau minum nanti kalau perut aku mendingan aku makan"wajah Khanza memalas.
Dengan berat hati lelaki itu mengangguk, menyodorkan segelas ramuan jahe yang di teguk Khanza hingga tandas dalam sekali tegukan.
"Makasih"Khanza menatap nya dengan senyuman kecil "gimana hari ini lancar?"
"Alhamdulillah,kamu cepat sembuh ya, weekend nanti aku ajak jalan-jalan sekalian kita kencan lagi"tangan Azka terangkat merapikan anak rambut Khanza,lelaki itu tersenyum ini kali kedua ia melihat khanza dalam keadaan tidak baik-baik saja,hati nya cukup khawatir ia takut sesuatu yang buruk menimpa Khanza,kehilangan perempuan didepannya sangat tidak ada dalam bayangan Azka.
Jika di utarakan mungkin akan sedikit lebay,namun sungguh Azka sangat mencintai Khanza melebihi apapun,posisi Khanza jelas berada di bawah setelah keluarga nya,dalam keterdiaman itu Azka berjanji pada dirinya sendiri jika dia akan melakukan apapun untuk melindungi khanza,termasuk jika harus mengorbankan nyawanya sendiri.
Azka menatap lama ke arah Khanza,otaknya kembali menari-nari tentang beberapa hal yang baru saja ia dengar,apa Khanza akan mengizinkan jika dirinya mengorek-ngorek masa lalunya.
"Zaa"
Perempuan itu mendogak.
"Kamu mau nggak ketemu orangtua kandung kamu?"
---to be continued---
Aceh29/07/20
Revisi09/03/22
KAMU SEDANG MEMBACA
KHANZA ✔
ChickLitselamat datang di kisah khanza. yang selalu ceria tanpa suara. yang selalu tersenyum tanpa ada tawa. yang akan menangis ketika ia merasa terluka. Hanya itu yang dapat saya tulis untuk mendeskripsikan isi dari keseluruhan cerita ini. Jika penasaran m...
